Mira membuka matanya perlahan, ketika sinar matahari masuk menerobos jendela menimpa wajahnya. Dia terbangun dengan rasa nyeri di tubuhnya. Dia masih berada di kamar hotel itu, bersama ....
Tunggu! Ke mana lelaki yang semalam? Lelaki yang bernama Erick itu.
Mira mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hotel, tidak tampak manusia lain di ruangan itu selain dirinya. Matanya melihat ke arah secarik kertas di atas nakas samping tempat tidur.
[Tinggalah beberapa hari untuk menenangkan diri jika perlu! Aku sudah membayar full kamar hotel selama satu minggu. Elmira, jika butuh sesuatu hubungi aku!]
Kertas dan kartu nama itu, ia masukan ke dalam saku bajunya. Kembali ia merebahkan dirinya di atas kasur, teringat tadi malam bersama Erick.
One Night Stand? Tidak, bukan itu yang mereka lakukan. Erick bisa saja melakukannya, melihat Mira yang begitu cantik dan menarik walaupun dalam keadaan fisik yang babak belur. Dia tidak ingin bercinta dengan wanita yang sedang rapuh, setidaknya mereka harus dalam keadaan sama-sama senang. Mira pun bukannya tidak menginginkannya, ada norma yang harus ia jaga meskipun suami berengseknya menyakiti berkali-kali.
Mereka berkenalan dengan cara Pillow Talk, menyebutkan nama dengan cara saling memunggungi. Entah kenapa begitu mudahnya Mira menceritakan segala kesedihannya kepada lelaki asing yang beberapa jam baru ditemuinya itu. Erick mendengarkan dengan sabar setiap perkataan dan isakan yang keluar dari bibir wanita di belakangnya. Mungkin karena itulah, pagi ini Mira terbangun dengan perasaan sedikit lega.
Tiga hari lamanya Mira berada di dalam hotel itu, kegiatannya hanya menonton, berjalan mengelilingi hotel dan tidur. Tidak ada telepon atau pesan dari Theo, yang menanyakan keberadaannya. Hah ... kenapa berharap banyak kepada lelaki itu? Dia pasti sedang bersenang-senang dengan gundiknya.
Mira turun dari sebuah taksi di depan rumahnya yang berpagar hitam. Ada mobil mertuanya terparkir di halaman rumah yang biasa ia tempati bersama Theo. Perlahan Mira membuka gerbang itu. Pasti mertuanya bertanya ke mana saja selama tiga hari ini, sebaiknya mereka mengetahui perbuatan Theo, pikir Mira. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mengadukan semua kelakuan putranya itu.
Ketika dia baru menginjakan kakinya di teras, Theo keluar dengan berkacak pinggang.
"Ini dia istriku yang tidak tahu diri baru pulang," ucap Theo, yang menghadangnya di pintu.
Mira hanya menunduk, dia menyadari kepergiannya saat tiga hari yang lalu tanpa seizin suaminya. Mana mungkin dalam keadaan seperti itu dia harus meminta izin.
"Theo, biarakan dulu istrimu masuk!" ujar Hartini, mertua Mira.
Masih dengan menatap tajam ke arah Mira, Theo bergeser dari posisinya berdiri. Sekilas Mira bisa melihat suaminya itu tersenyum dengan sinis. Ada perasaan tidak nyaman saat senyum itu terukir di bibirnya. Ada apa ini?
Mira duduk di samping kursi ibu mertuanya, tampak juga ayah mertua yang sangat irit bicara itu duduk di samping istrinya. Theo masih berdiri dengan berkacak pinggang.
"Ibu dan Ayah sudah lama ke sini?" tanya Mira.
"Dua jam yang lalu," jawab ibunya. Ada yang berbeda dari jawabannya, tidak ada kelembutan seperti biasanya.
"Apa maksud dari foto ini?" Theo melempar sebuah foto, ke wajah Mira.
Dengan perasaan bingung, Mira memungut foto yang terjatuh di lantai bawah kakinya. Saat melihat foto itu matanya membulat. Dalam foto itu tampak Erick sedang menggendong Mira di lorong hotel. Hanya satu foto tapi cukup membuat suami dan mertua berpikir lain tentangnya. Jadi inilah arti senyum Theo dan jawaban ketus ibu mertuanya tadi.
"Aku bisa menjelaskannya, ini tidak seperti yang kalian pikirkan ...."
"Apa? Kamu mau mengelak," tanya Theo.
"Aku saat itu pingsan Mas, dan laki-laki itu menolongku," jelas Mira.
"Pingsan kok masuk ke kamar hotel berdua, bukannya ke rumah sakit," timpal Theo.
"Ini salah paham. Tolong percaya padaku Mas," pinta Mira.
"Bu, sudah aku bilang dia pasti mengelak perbuatannya. Istriku pergi berhari-hari bersama selingkuhannya, apa aku masih harus mempertahankan pernikahanku dengannya? Selain karena aku sudah hilang rasa, dia juga sudah berani selingkuh. Ibu masih mau mempunyai menantu seperti dia?" tanya Theo, kepada Hartini yang sejak tadi terdiam tampak kecewa.
"Tidak, Bu. Aku tidak pernah selingkuh. Dia justru yang telah berselingkuh dengan Fiona, mantan pacarnya selam setahun ini," elak Mira, berharap Hartini percaya padanya.
"Hei jangan balik menyalahkanku demi menutupi kesalahanmu, dasar istri durhaka!" Theo membentak Mira, takut kesalahannya terbongkar.
"Jadi ini caramu agar bisa bersama dengan wanita itu, Mas? Memfitnahku dengan keji," isak Mira.
"Tidak usah banyak drama kamu Mira!" seru Theo.
Drama katanya, bukankah dia sendiri yang sedang bermain drama?
"Mas …."
"Sudah cukup!" putus Hartini. "Theo kamu sudah berkali-kali meminta bercerai dengannya. Dan kamu Mira, Ibu pikir kamu menantu baik yang bisa menjaga harkat dan martabat tetapi aku kecewa denganmu. Apa lagi yang akan dilakukan kedua orang berlawan jenis bersama di hotel? Jika bukan untuk berzina, aku tidak bodoh."
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengelak tuduhan itu, tetapi tampaknya Hartini sudah terlanjur percaya ucapan putra kesayangannya. Semakin sakitlah perasaan Mira ketika itu, bukan saja dikhianati tetapi dia juga dituduh berselingkuh dengan laki-laki lain.
"Tidak Bu, itu tidak benar," lirih Mira.
"Theo, jika kau memang ingin bercerai silahkan saja. Ibu tidak akan melarang-larang lagi, lagipula kalian belum mempunyai anak, bercerai secepatnya itu lebih baik," ucap Hartini. Tidak lama kemudian dia bangkit dari duduknya, dan melangkah keluar diiringi suaminya yang dari tadi tidak berkomentar.
Setelah melihat mobil orang tuanya pergi meninggalkan halaman rumah, Theo kembali ke dalam rumahnya. Lelaki itu melihat istrinya yang masih terisak, dengan senyum penuh kemenangan dia melangkah mendekati dan memegang dagu istrinya.
"Bagus, kau sudah memuluskan jalanku untuk membuangmu jauh. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan dengannya di sana? Hah kau munafik juga rupanya," ucapnya sambil mendorong dagu Mira ke belakang.
Theo melangkah meninggalkan Mira sambil bersiul. Kini, restu dari orang tuanya untuk bercerai sudah didapatkan. Itu artinya tidak ada lagi hambatan untuk dia dan Fiona bersatu, termasuk kepemilikan pabrik atas namanya.
***
Palu perpisahan diketuk oleh pengadilan agama di persidangan terakhir, Theo dan Mira resmi bercerai. Mira berjalan meninggalkan ruangan sidang, sudah tidak ada lagi derai air mata membasahi kedua manik indahnya. Tidak bisa menebak apa yang ada dalam hatinya saat ini, tidak tampak kesedihan ataupun senyum lega karena terlepas dari nestapa ikatan perkawinan.
"Elmira ... selamat ya kau jadi janda juga sekarang. Terima kasih sudah memberikan Theo padaku. Dia pasti akan lebih bahagia hidup bersamaku," cemooh Fiona, yang tiba-tiba muncul di hadapnnya.
Mira memilih untuk tidak menanggapi ucapan Fiona, dia hanya menatapnya dengan dingin. Merasa Mira tidak menanggapinya, Fiona menatap sinis kemudian pergi untuk menghampiri Theo yang masih berada di dalam. Mira berbalik menatap wanita yang berhasil memorak-porandakan rumah tangganya itu. Aroma Parfum dari wanita yang selalu berdandan menor itu masih memenuhi hidung dan membuatnya mual. Tidak lama, Theo muncul dan menyambut kehadiran Fiona dengan pelukan.
"Ini harus kita rayakan Sayang. Katakan apa maumu saat ini aku akan memberikannya untukmu!" kata Theo, sambil mengecup tangan Fiona.
"Aku ingin liburan," jawab Fiona dengan manja.
"Tentu, kita butuh liburan saat ini. Tapi sebelum itu, kita perlu merayakannya di rumah. Sudah tidak ada lagi pengganggu di rumah sekarang," ucap Theo sambil merangkul Fiona. Mereka pun pergi ke halaman parkir, tanpa menyadari Mira yang sedari tadi masih memperhatiakan mereka.
TOK ... TOK ... TOK ....
"Buka pintunya cepat! Aku tahu, kamu di dalam bersama wanita itu," teriak seorang wanita, menggedor pintu kamar sebuah hotel dengan kencang dan tak sabar.