4. Sebuah Misi

1170 Kata
Setelah menunggu beberapa saat pintu yang diketuk itu terbuka, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahunan keluar dengan tampang kusut dan menegang. "Mana perempuan itu? Dasar w*************a suami orang!" tanya wanita yang tadi menggedor pintu kamar. Dia datang bersama seorang lelaki dan dua orang wanita lainnya. Mereka semua memaksa merangsak masuk ke dalam kamar, meskipun sudah mencoba ditahan oleh lelaki tadi. Akan tetapi karena kalah jumlah, lelaki itu pun pasrah termasuk ketika istrinya memaki habis-habisan. "Dasar wanita jalang, habis kau di tanganku!" geram wanita itu saat melihat wanita selingkuhan suaminya. Namun, sang suami dengan cepat menahan dengan memegang tangan istrinya. "Ini bukan salahnya, dia tidak tahu apa-apa," cegah laki-laki itu. "Kurang apa aku selama ini sebagai istri, Aldi? Sehingga kamu bisa tega menyelingkuhi aku dengan wanita itu, katakan!" Laki-laki bernama Aldi itu hanya terdiam. "Apa aku kurang cantik?" tanya istri Aldi kembali. "Ah sudahlah, kamu tidak perlu melakukan in! Bikin malu saja. Ayo kita pulang dan bicara saja di rumah!" ajak Aldi. "Malu? Rupanya kamu masih mempunyai rasa malu ya!" Sementara Aldi dan istrinya sedang beradu mulut, dua orang wanita lainnya tampak menatap wanita selingkuhan Aldi dengan sinis. Bukannya merasa takut atau gentar ketika dua pasang mata menelanjanginya, wanita itu malah menatap balik seolah menantang. "Lihat, dia begitu lancang melihat kita seperti itu!" "Pelakor zaman sekarang, memang berani dan sudah tidak tahu malu." "Kita harus memberi pelajaran padanya, agar dia sadar diri!" Salah satu dari wanita itu maju dan berusaha untuk memberi tamparan, akan tetapi gagal kerena berhasil ditepis. Melihat itu, teman satu lagi maju dan ikut memberi pelajaran kepada wanita selingkuhan Aldi. "Awkh ... sakiit. Aldi, tolong aku! Mereka menyakitiku." Aldi yang melihat sang kekasih teraniaya oleh dua teman istrinya, segera menghampiri dan meninggalkan istri yang sedang mencecarnya. "Apa yang kalian lakukan padanya? Minggir!" Aldi mendorong kedua wanita itu agar menjauh dari selingkuhannya. "Aldi, kamu benar-benar keterlaluan!" geram istri Aldi, yang melihat suaminya begitu membela dan peduli terhadap wanita lain. Aldi bahkan tidak segan-segan memeluk selingkuhannya, dan menenangkan dengan membelai wanita itu. Mereka yang melihat pemandangan itu terlihat geram dan gemas. Mereka maju hendak mendamprat keduanya. Namun dengan sigap, Aldi langsung membendung mereka. "Cukup! Pergi kalian semua dari sini, sebelum aku melaporkan kalian atas tindakan penganiayaan. Tari, Ayo kita bicara saja di rumah!" cetus Aldi, yang tak kalah geram dengan tingkah istri dan teman-temannya. Dia melepaskan pelukan dari wanita selingkuhannya. "Tidak, aku ingin mencabik wanita itu!" tolak Tari, istri Aldi. Namun, Aldi dengan cepat memaksa istrinya keluar dari kamar hotel. Diikuti oleh ketiga teman istri Aldi dari belakang. Di lorong kamar hotel, mereka masih terlibat adu mulut. Selingkuhan Aldi melihat kepergian mereka dengan seringai senyum penuh kemenangan, di ambang pintu. "Ck aah ... sayang sekali istrinya datang terlalu cepat," decaknya sambil membetulkan tali bra, karena digunakan terburu-buru saat pintu kamar di ketuk. Wanita itu pun masuk kembali ke kamar dengan santainya, lalu berdiri di depan cermin untuk merapihkan diri. Dia mengeluarkan lipstik merah yang selalu menjadi andalan dari tas kecil miliknya. Dengan satu sapuan, bibir sensualnya terlihat penuh membuat wanita itu terlihat semakin cantik dan segar. "Perfect! Kau memang cantik," gumam wanita itu, yang puas melihat pantulan dirinya di depan cermin. Bisa dibilang kata-kata itu sebagai mantra, untuk menambah rasa percaya dirinya. Tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berdering, melihat nama yang tertera di layar ponsel dia mengembangkan senyum. "Halo Frans, iiih ... kok baru hubungin aku sih?" buka wanita itu, dengan suara yang mendayu. Dia melangkah duduk di tepi ranjang. "Maaf Sayang, aku sibuk akhir-akhir ini. Kamu sedang apa? Aku kangen nih," balas lelaki di seberang telepon. "Aku mau pergi bekerja. Aku juga kangen, kamu sibuk terus sama istri kamu sih." "Bukan gitu Sayang, aku lagi sibuk soal kerjaan. Besok aku ada urusan kerja ke Pulau Sumba untuk beberapa hari, kamu datang ya?" pinta laki-laki itu. "Sumba ya? Hmm ... Oke deh!" Wanita itu setuju, itung-itung liburan pikirnya. Terlebih Sumba adalah tempat jauh dan indah yang belum pernah ia kunjungi. "Aku akan transfer sekarang untuk tiket pesawat. Ambil penerbangan pagi, aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." "Oke, baik see you!" Setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya, sebelum pergi wanita itu kembali memastikan jika penampilannya sudah sempurna. Dia selalu memperhatikan itu, karena paham betul hal pertama yang akan orang nilai adalah penampilan. Baik itu fashion atau make-up, selain untuk menambah kepercayaan diri hal itu juga sebagai bentuk apresiasi pada dirinya sendiri. Dia duduk dengan menyilangkan kedua kaki jenjangnya yang terbungkus rok mini di bagian atas. Beberapa laki-laki yang melintas berusaha mencuri-curi pandang padanya, akan tetapi dia tetap acuh memainkan ponsel. Setelah menunggu beberapa saat, taksi online yang dipesannya tiba, dia segera keluar untuk menaiki taksi yang terparkir di depan lobi. Taksi itu menuju ke sebuah restoran yang terletak di pusat kota. Jalanan ibu kota siang hari cukup lengang, sehingga tidak butuh waktu lama bagi mobil itu sampai di tujuan. Setelah berhenti tepat di depan restoran, wanita itu keluar dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pengemudi mobil. "Mira, tolong layani meja dua belas!" ucap seorang wanita berambut merah, ketika melihat kedatangannya. "Oke." Iya, wanita itu tidak lain adalah Elmira, janda dari seorang laki-laki berengsek bernama Theo. Tidak butuh waktu yang lama baginya untuk bangkit dan terus menangisi nasib pernikahan yang hancur karena orang ketiga. Satu tahun setelah perceraian dengan Theo, Mira sudah berhasil mengubah dirinya. Elmira yang sekarang lebih pandai menonjolkan kelebihannya, percaya diri dan berani. Mira bergegas mengganti pakaiannya di ruang ganti dengan seragam kerja. Kemeja ketat berwarna hitam semakin menunjukkan tubuhnya yang proporsional. Pinggang yang ramping, b****g yang bulat dan p******a berukuran 36 B. Selain itu wajahnya memang memilik garis blasteran dari kakek buyutnya. Membuat para lelaki yang melihat Elmira tidak cukup hanya melihatnya sekali dan mata mereka pasti tidak berkedip jika sudah memandangnya. Karena dengan itu pula Elmira bisa dengan mudah memuluskan misinya. Menjadi penghancur rumah tangga, itulah misi Elmira. Sebuah misi yang absurd, dia ingin wanita-wanita lain juga merasakan kepedihan yang ia rasakan. Dia seolah terganggu, ketika melihat keharmonisan rumah tangga orang lain. Meskipun dia bisa bangkit dari keterpurukannya saat ini, tetapi luka di hati masih basah dan menganga. Marah, kecewa, dan sedih masih mengendap di hatinya. Dengan rusak atau hancurnya ikatan pernikahan laki-laki yang ia jerat, Mira akan merasa puas dan senang. Kejam? Mira sadar itu memang aneh dan kejam menurut logikanya. Namun, dia lebih menuruti apa kata hati atau keinginannya dibandingkan menuruti logika. Terakhir kali dia menuruti logika, malah berakhir sakit hati dan beredak. "Anda mau pesan apa, Tuan?" tanya Mira ketika di meja dua belas. Seorang laki-laki di depannya menatap dengan lekat, "Es kopi saja." "Es kopi, oke ada lagi?" "Bisa aku meminta nomor ponselmu?" tanya laki-laki itu tanpa basa-basi. "Maaf, tapi itu tidak ada di daftar menu, Tuan." 'Tampan, cukup bersih dan penampilannya lumayan.' Mira membatin, ketika balas menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah. "Aku tahu, untuk itu aku langsung memintanya padamu." "Anda sudah menikah, Tuan?" tanya Mira. "Belum, aku masih lajang," tegas laki-laki itu dengan percaya diri. "Ah, sayang sekali. Anda tidak termasuk kriteriaku." Mira menundukkan kepalanya dengan hormat, sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu yang tampak keheranan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN