"Kau menggodanya lagi?" tanya teman kerja Elmira sambil menuangkan kopi pada sebuah gelas.
Lely adalah teman kerja Elmira, dan hanya dia yang tahu tentang seluk beluk Elmira di antara para pegawai lain di restoran itu. Wanita hitam manis itu bahkan sering memperingatkan misi nyeleneh Elmira.
"Lely, kau tahu aku tidak suka memulai terlebih dahulu," jawab Elmira.
"Lalu apa dia sasaran kamu selanjutnya? Lihat dia masih saja melihat ke arahmu!" Lely melihat sekilas ke arah laki-laki tadi.
"Tidak, dia bilang belum menikah."
"Bisa saja dia mengatakan itu keran kau yang bertanya. Dia mungkin berbohong demi bisa berkenalan denganmu," tebak Lely.
Elmira menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengatakan, "Aku tidak suka, dia akan terus berbohong padaku seterusnya." Dia pikir, meskipun status dirinya hanyalah dijadikan seorang selingkuhan, setidaknya lelaki itu bersifat jantan dan mengakui statsusnya terlebih dahulu.
Kali ini Lely terkekeh lalu menatap Elmira dengan serius, "Semua laki-laki yang kau kencani sekarang juga semua pembohong, Elmira. Apa bedanya dengan dia yang di sana? Justru jika dia bena-benar single itu lebih baik. Sudahi misimu itu! Sekarang saatnya menerima orang baru dan menjalani hidupmu dengan wajar, kau pantas untuk bahagia."
"Lely, aku bahagia dengan hidup yang aku jalani sekarang! Sudah ah, aku tidak ingin mendengar ceramahmu lagi. Mana sini aku akan mengantarkan kopi itu," pungkas Elmira. Dia tahu, setelah ini Lely pasti akan mengatakan nasihat yang sama seperti yang sering ia dengar.
Lelaki di meja dua belas masih saja melihat ke arah Elmira yang membawakan segelas es kopi untuknya. Matanya tidak berkedip saat sosok wanita itu semakin mendekat ke arahnya.
"Satu gelas es kopi, pesananmu. Selamat menikmati!" ucap Elmira, sambil membalikkan badannya.
"Tunggu! Bagaiman caranya agar aku bisa mendapat nomor ponselmu? Oke langsung saja, aku ingin mengenalmu lebih jauh, bisa kita berkenalan?" tanya laki-laki itu penuh harap.
"Maaf, aku hanya melayani pesanan yang ada di daftar menu." pungkas Elmira, lalu dia segera kembali untuk melayani tamu lain.
Itu adalah kejadian yang sering Elmira alami ketika melayani tamu. Beruntung kali ini, laki-laki itu cukup sopan ketika meminta untuk berkenalan. Tidak jarang dia mendapat kata-kata yang merendahkan dari tamu laki-laki yang ia tolak ketika mengajak berkenalan atau sekedar menggodanya. Namun, Elmira tidak pernah terganggu dengan itu, menurutnya laki-laki semacam itu tidak lebih dari seorang pecundang.
"Aku akan izin untuk beberapa hari," cetus Elmira kepada manajer restoran di sela waktu istirahatnya.
"Kenapa?" tanya manajer restoran yang bernama Ferdy itu.
"Ada urusan keluarga," jawab Elmira berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan akan berlibur ke pulau Sumba bersama suami orang.
"Jatah cutimu hanya tinggal empat hari lagi," ucap Ferdy, yang tampak serius dengan makan siangnya.
Lelaki itu memang selalu menghindari kontak mata dengan Elmira, bahkan dia terkesan dingin dan ketus saat berhadapan dengan Elmira. Bukan karena Ferdy membenci wanita itu, tetapi dia berusaha agar tidak sampai tergoda dengan pesona anak buah yang menjadi primadona di restoran itu.
Ferdy juga sering mendengar selintingan kabar tentang Elmira yang memiliki hubungan dengan pria beristri. Karena citra buruk itu juga dia berusaha untuk menjaga jarak, agar tidak menjadi buah bibir karyawan lain, apalagi istrinya sangat mudah cemburu.
"Mungkin aku akan izin selama tiga hari saja," sahut Mira. Dia sebenarnya tidak peduli dengan pekerjaannya sekarang, toh para pria yang mengencaninya memberikan lebih dari cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Menjadi pelayan di restoran itu hanya untuk mengisi kekosongan waktu luang, setidaknya jika ada orang yang bertanya tentang apa pekerjaannya, Elmira bisa memberikan jawaban.
"Baiklah!" Ferdy berkata sambil berdiri bangkit dari duduknya, karena makan siangnya telah usai.
Mira mengerutkan bibir sambil melihat ke arah Ferdy yang begitu acuh padanya. Hal itu menimbulkan rasa penasaran di hati Mira, apa Ferdy tidak pernah tertarik padanya? Sehebat apa istri Ferdy, sehingga pesona Mira tidak mampu sedikit pun mencuri perhatian Ferdy?
Tepat pukul sepuluh malam lampu restoran dimatikan yang berarti waktu mereka bekerja telah usai. Mira keluar bersama Lely mereka menunggu angkutan umum di tepi jalan sambil mengobrol. Obrolan mereka terhenti, ketika tiba-tiba seorang wanita entah dari mana asalnya datang dan menjambak rambut Mira.
"Wanita jalang, sejak tadi aku gemas ingin menghancurkan wajahmu ini!" sembur wanita itu sambil mencengkram wajah Elmira dengan kuat.
"Eh siapa kamu?" tanya Lely, yang nampak panik dengan kedatangan wanita itu.
"Jangan pernah temui Aldi lagi! Ini peringatan dariku sebelum aku menghancurkan wajahmu ini," ancam wanita yang ternyata istri Aldi.
Rupanya Tari belum puas melabrak Mira tadi pagi, sehingga dia sengaja menunggu Mira keluar dari restoran tempatnya bekerja.
"Seharusnya kau berkata itu pada suamimu, karena dia yang selalu ingin menemuiku selama ini. Kamu saja yang tidak becus menjaga suamimu!" balas Mira yang kini melawan dengan menjambak balik istri Aldi, dan terjadilah saling jambak di antara kedua wanita itu.
Lely yang menyakiskan itu hanya menggelng-gelengkan kepalanya, dia tidak berniat untuk melarai ataupun membantu Mira melawan Tari. Dia hanya menarik napas dengan panjang sambil berusaha menutupi wajahnya sendiri, karena risih saat beberapa orang yang melintas melihat perkelahihan dua wanita di sampingnya.
Setelah beberapa saat, aksi saling jambak antara mereka usai. Kini, keduanya saling melontarkan kata-kata pedas dan makian satu sama lain, dengan rambut yang tampak acak-acakan.
"Dasar wanita gatal, murahan! Wanita miskin, tidak tahu diri. Kau tidak lebih baik dariku."
"Tapi wanita miskin inilah yang sudah membuat suamimu tergila-gila, sehingga mengacuhkanmu selama ini bukan? Kau tahu, hari ini dia bahkan mengirim pesan bahwa dia akan segera menceraikanmu. Dia sudah tidak menginginkanmu," ucap Mira dengan sinis.
Saat mengatakan itu, ada rasa nyeri dalam d**a. Sekilas bayangan masa lalu kembali melintas di benak kepalanya. Kata-kata yang sama yang pernah diucapkan Fiona pada Mira dulu kembali terngiang.
"Itu tidak mungkin, dia sangat mencintaiku sebelum kamu datang menggodanya. Dan aku juga yakin dia masih mencintaiku." Istri Aldi berkata dengan suara melemah dan berkaca-kaca.
Melihat istri Aldi seperti itu, Mira seolah melihat dia yang dulu sedang rapuh dan tersakiti. Ada bayangan dirinya dalam sosok wanita di hadapannya, dan Mira benci melihat itu.
" Cinta hahaha ... Kamu tidak bisa memuaskan Aldi di ranjang, kamu tidak memberinya kenyamanan ketika berada di rumah, dan kamu membiarkan celah untuk dia berpaling. Kamu terlalu percaya dengannya. Kamu memang istri yang tidak becus!" cecar Elmira. Apa yang dilontarkan Mira kepada istri Aldi sebenarnya adalah cacian untuk dirinya sendiri, saat teringat dengan nasib pernikahannya yang hancur satu tahun yang lalu.
"Mira, cukup!" sela Lely, ketika melihat Mira tampak emosional mencaci istri Aldi. "Sebaiknya kita pergi!" lanjut Lely sambil memegang tangan Elmira.
Namun, Mira tidak serta merta menuruti ajakan Lely, dia bahkan menepiskan tangan Lely.
"Kau hanya akan menangis seperti itu? Bodoh, kamu benar-benar akan kehilangan suamimu jika terus bersikap seperti itu!" hardik Mira, ketika melihat istri Aldi terdiam menahan tangis.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah memintamu untuk menjauhi Aldi."
Elmira tidak bisa menjawab pertanyaan istri Aldi, dia sendiri gagal mempertahankan rumah tangganya. Tidak ada kata-kata yang ingin ia ucapkan lagi.
Lely yang sejak tadi tidak mencampuri urusan mereka, akhirnya ikut berkomentar.
"Hanya ada dua pilihan bagimu, bertahan dengan usahamu atau pergi dengan hati yang lapang! Karena laki-laki sekali selingkuh meskipun dimaafkan tidak menutup kemungkinan dia akan mengulanginya lagi!"