"Pergi dengan lapang? Apa maksudmu merelakan pernikahanku selesai dan membiarkan dia merebut suamiku? Mana bisa aku pergi dengan lapang?" tanya Tari.
"Sakit dan sedih sudah tentu, tidak serta merta bangkit begitu saja. Sembuh dan merelakan juga butuh waktu. Tapi jika menerima dengan lapang atas segala yang terjadi, kau akan lebih lega untuk melangkah menuju lembaran baru, juga dengan status baru. Yakin kamu akan lebih bahagia, jangan sampai lukamu malah menjerumuskan pada sesuatu yang justru membuat luka-luka baru nantinya," tutur Lely, sambil melirik ke arah Mira.
Penuturan bijak Lely adalah sebuah nasihat dan sindiran untuk Mira, yang kini malah memilih jalan yang menurutnya tidak masuk akal. Mendengar penuturan Lely, Mira memutar kedua bola matanya karena mengerti maksud perkataan Lely.
"Dan satu lagi, dia tidak akan mungkin benar-benar merebut atau hidup bersama suamimu, karena dia mudah bosan!" imbuh Lely. Dia lalu menarik tangan Mira, untuk segera pergi meninggalkan Tari yang masih nampak kebingungan.
Akhirnya mereka berjalan menyusuri trotoar melewati sejumlah gedung dihiasi lampu jalan yang berjejer. Jika dibandingkan siang hari, berjalan di saat malam memang lebih menyenangkan ketika di tengah kota. Suasananya ramai tapi terkesan syahdu.
"Apa seperti itu yang kamu maksud dengan hidup bahagia? Dijambak dan dicaci seperti itu, di mana letak bahagianya?" tanya Lely, setelah beberapa saat mereka saling membisu.
"Sudah deh jangan mulai lagi. Aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu," tampik Elmira, dengan malas.
"Oke ... baiklah aku tahu kamu bosan mendengar omelanku, tapi aku tidak akan berhenti untuk mengatakan itu," ucap Lely, pada akhirnya lalu dia melanjutkan, "Bagaimana kalau kita mampir untuk minum di sana. Besok aku masuk siang," ajak Lely, ambil menunjuk sebuah kafe yang tampak ramai.
"Tidak, aku mau pulang saja. Besok pagi aku akan pergi ke Pulau Sumba," tolak Mira.
"Hah!" seru Lely, yang terkejut karena Mira akan pergi ke Sumba secara tiba-tiba tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Itu berarti Lely harus masuk shift pagi untuk menggantikan Mira besok.
Keesokan paginya Elmira tampak terburu-buru berkemas, memasukkan pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam koper. Tadi malam dia tidak sempat berkemas karena ketiduran. Saat menutup kopernya, dia melirik ke arah ponsel yang bergetar di samping tempat tidurnya. Nama "Aldi" tertera di sana, Mira memilih untuk mengabaikannya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saat selesai dari kamar mandi, Mira melihat ponselnya masih bergetar, agaknya Aldi tidak menyerah untuk menghubungi Mira dan kali ini pun wanita itu masih tidak mempedulikan panggilan itu. Dia anggap misinya kepada Aldi sudah selesai, dia berniat memblokir nomor Aldi.
Mira memilih jumpsuit berwarna merah terang tanpa lengan untuk dikenakan. Sekalipun dia terburu-buru, dia tidak ingin meninggalkan riasan di wajahnya. Lipstik yang senada dengan warna baju, dia sapukan di bibir, tidak lupa dia menyemprotkan parfum di titik-titik nadi tubuhnya. Setelah dirasa penampilannya cukup sempurna, Mira segera pergi meninggalkan rumah kontrakannya.
Masih ada waktu setengah jam lagi, pikir Mira saat melirik jam di tangannya. Dia membeli secangkir kopi dan sepotong roti sebagai menu sarapannya di sebuah kafe bandara. Duduk di hadapannya seorang pria dengan membelakngi Mira, yang juga tengah menikmati secangkir kopi.
"Wah ... punggung yang sempurna, lengan yang berotot. Pasti pria itu sangat tampan!" bisik Mira, sambil menatap punggung bidang lelaki di depannya.
Mira mengetuk-ngetuk meja menantikan laki-laki itu menoleh ke arahnya, tentu saja dia ingin tebar pesona kepada laki-laki itu. Radar dalam diri Elmira sebagai w*************a sedang aktif. Namun sayang, setelah beberapa menunggu, pria itu tidak juga menoleh. Pria itu justru pergi dengan menggunakan kacamata hitam dan memasang masker yang menutupi sebagian wajahnya. Mira tentu saja kecewa.
"Ish, seharusnya aku mengambil kursi di depan sana tadi," desisnya, kemudian menyunggingkan setengah senyuman. Setelah itu dia juga pergi meninggalkan kafe itu.
Mira masuk ke dalam kabin pesawat, sambil mencari-cari kursi yang akan diduduki. Dia menaiki business class jadi tidak sulit menemukan kursinya.
"Akhirnya, ini keren sekali," gumamnya terdengar antusias. Dia duduk dengan nyaman di kursi pesawat yang empuk.
Kursi-kursi di kabin itu terdiri dari dua kursi ergonomis bersebalahan dan legroom yang cukup luas. Ini pertama kalinya bagi Elmira menaiki pesawat dengan business class, karena Frans mentransfer sejumlah uang yang cukup banyak untuknya kemarin. Melihat penumpang lain berbaring dengan nyaman di kursi, dia pun penasaran bagaimana cara menekuk kursi itu sampai mendatar seperti tempat tidur. Mira menekan tombol yang berada di samping kanannya, perlahan pijakan kaki itu meninggi sehingga kaki Mira bisa selonjoran dengan nyaman.
Tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di samping kursi yang bersebelahan dengan Mira. Melihat seseorang duduk di sampingnya wanita itu melirik ke samping. Mira cukup terkejut ketika melihat pria disampingnya, itu adalah pria yang ia lihat ketika di kafe tadi. Pria yang memiliki punggung bidang juga atletis. Pria itu masih memakai masker dan kaca mata hitamnya meskipun sudah berada di dalam pesawat.
Meskipun senang, tetapi Mira masih bisa bersikap tenang bahkan terkesan angkuh. Dia memainkan rambut untuk mengusir rasa gugup dan dengan tujuan sedikit menggoda pria itu. Namun, tampaknya pria itu tetap bergeming.
Seorang pramugari mendatangi mereka dan menyodorkan masing-masing segelas jus jeruk.
"Aku tidak memesan jus jeruk," tolak Mira.
"Ini welcome drink, salah satu fasilitas yang didapatakan dari maskapai kami jika Anda berada di business class," sahut paramugari dengan tersenyum ramah.
"Oh begitu," ucap Mira, yang merasa malu sambil menerima jus jeruk. Kentara sekali ini adalah perjalanan pertamanya menaiki pesawat selain kelas ekonomi.
Mira melirik ke arah lelaki di sampingnya, tidak terlihat ekspresi apa pun karena hampir seluruh wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam.
'Apa dia seorang buronan?' pikir Mira.
Setelah pramugari itu pergi, Mira berniat menurunkan kembali pijakan kakinya, kembali dia menekan tombol di samping kanan. Bukannya turun, kali ini pijakan kaki itu malah semakin meninggi. Seketika dia gugup dan tidak tahu bagaimana caranya menurunkan kembali pijakan kursi. Mira menekan tombol lain, tetapi tidak berhasil.
"Bagaimana ini? Kenapa gak bisa turun lagi," keluhnya yang tanpa sadar didengar pria di samping.
Pria itu melirik ke arah Mira, tetapi tampaknya tidak ada niatan untuk membantu Mira yang kebingungan. Dia kembali diam mematung menatap layar di hadapannya.
"Permisi, bagaiman cara menurunkan ini lagi? Aku tidak ingin tidur karena perjalanannya hanya tiga jam saja," tanya Mira, dengan sedikit malu-malu.
Pria itu sama sekali tidak menyahut apalagi membantu Mira, dia masih tetap acuh tak acuh. Mira tidak percaya dengan apa yang diterimanya, pria itu mengabaikan begitu saja bahkan melirik ke arahnya pun tidak. Tentu saja Mira malu dan kesal, dia mengatupkan bibir sembari menekuk kening.
'Selain buronan, pria itu ternyata tuli dan bisu. Menyesal aku sempat kagum padanya tadi!" gerutu Mira dalam hati. Akhirnya dia berbaring saja selama perjalanan dengan memunggungi pria itu.
Perjalanan selama tiga jam lebih itu terasa sangat lama bagi Mira, untuk memejamkan mata pun sulit. Dia masih merasa dongkol dengan pria di sampingnya.
Akhirnya pesawat pun tiba di Bandara Tambolaka. Tanpa menunggu lama Mira segera mengambil koper dan ingin cepat-cepat pergi dan keluar dari dalam pesawat. Berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria angkuh itu.
Melihat tingkah Mira yang terburu-buru, pria tadi menyunggingkan senyumnya.
"Elmira Feliha Salim. Kita akan bertemu lagi!" bisik pria itu.