Frans sudah menunggu Mira di bandara, laki-laki itu menyambut sambil merentangkan kedua tangan ketika melihat Mira berjalan ke arahnya dengan anggun.
"Bagaimana perjalananmu hm?" tanya Frans sambil mengecup pipi Mira.
"Buruk," jawab Mira, yang membuat Frans keheranan.
"Kenapa?"
"Tidak bukan apa-apa. Aku hanya tidak bisa tidur selama di pesawat," jawab Mira.
Mereka kemudian naik sebuah mobil dengan seorang driver yang sudah menunggu, mengantarkan mereka ke salah satu hotel dekat pantai yang berjarak cukup jauh dari bandara. Jika dibandingkan dengan Bali, Sumba tidak seramai Bali. Penginapan yang tersedia juga tidak sebanyak di Bali.
Namun, keindahan di pulau itu tidak kalah dengan Pulau Bali yang sudah sangat mendunia. Pulau eksotik itu juga akhir-akhir ini sedang menjadi favorit wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
"Nanti malam aku ada pertemuan dengan rekan bisnisku, aku ingin kamu ikut menemaniku," cetus Frans, ketika mereka sedang berada di dalam mobil.
"Kenapa sih kamu selalu mengajakku ke acara-acara seperti itu?" tanya Mira heran. Itu artinya dia akan dikenalkan lagi dengan rekan-rekan bisnis Frans. Mengapa Frans terang-terangan seperti itu? Bukankah itu akan membahayakan hubungan Frans dengan istrinya? Pikir Mira.
"Kamu tidak usah heran seperti itu! Rata-rata mereka semua akan membawa selingkuhan, dan istri kedua mereka di pertemuan itu dan itu bukan hal yang tabu di antara kami. Jadi santai saja!" jelas Frans, yang seolah tahu apa yang Mira pikirkan.
"Baiklah, tapi sepertinya aku tidak mempunyai baju yang pantas untuk acara nanti malam," rengek Mira.
Frans mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, "Gunakan ini, kau bisa membeli apa pun sepuasnya!" Frans menyodorkan kartu itu ke hadapan Mira.
Mira tersenyum lebar lalu memeluk dan mengecup kedua pipi Frans, "Terima kasih," ucapnya dengan senang.
Frans memang sangat royal terhadap Mira, laki-laki itu selalu menggelontorkan rupiah ke rekening Mira setiap bulan. Bisa dibilang Frans adalah target yang paling menguntungkan bagi Mira, karena selain royal laki-laki itu sama sekali tidak pernah membawanya ke atas ranjang. Kontak fisik mereka sebatas berpegangan tangan, meraba dan berciuman.
Kendati sikap Frans itu sedikit aneh bagi Mira, tetapi wanita itu tidak ambil pusing. Yang terpenting bagi Mira misinya nanti berhasil dan saldo di rekeningnya semakin bertambah.
Mereka tiba di sebuah hotel cukup mewah dengan pemandangan laut dan pantai karang. Frans sudah memesan kamar Suite room untuk mereka.
"Aku akan mandi dulu, kau istirahat saja!" ucap Frans.
"Hmm ...," sahut Mira, singkat.
Mira membuka tirai jendela yang menghadap ke sebuah kolam renang dan pemandangan hijau di sekitarnya. Setelah itu dia mengeluarkan barang-barang miliknya dari dalam koper.
"Kita makan siang dulu, setelah itu temanku megajak melihat salah satu vila miliknya. Apa kau mau ikut?" tanya Frans, saat keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah.
"Aku ingin jalan-jalan saja sambil membeli gaun untuk nanti malam," jawab Mira, menatap tubuh tegap Frans yang setengah telanjang.
Mira menelan salivanya, ketika memandang tubuh Frans yang setengah telanjang. Hormon kewanitaannya terusik melihat pemandangan yang cukup membuat otak Mira lebih aktif. Dia menghampiri Frans yang sedang memilih pakaian yang akan dikenakannya. Meskipun tidak didasari perasaan cinta, tapi kali ini tubuh Mira sedang menginginkannya.
"Wangi ...," endus Mira sambil memeluk Frans dari belakang.
Frans tersenyum, lelaki berusia sekitar 33 tahun itu tersenyum dan mengerti apa yang diinginkan Mira. Dia membalikkan tubuhnya, menyambut pelukan Mira lalu mengecup bibir wanita itu. Bibir mereka saling bertaut satu sama lain untuk beberapa saat, Mira lebih aktif kali ini. Tangannya bergerilya menyelesip ke dalam handuk yang masih melilit tubuh Frans.
"Aku sudah lapar, tadi pagi aku melewatkan sarapanku," ucap Frans, terdengar seperti sebuah alasan untuk menghindari keinginan Mira.
"Aku juga lapar, ingin memakanmu," bisik Mira, yang terdengar menggoda.
"Aku sungguh-sungguh Sayang, perutku sangat perih," balas Frans.
"Hmm ... baiklah," ucap Mira, sambil melepaskan pelukan Frans. Terlihat raut kekecewaan dari wajahnya. Dia kembali membereskan kembali kopernya yang sempat ia tinggalkan.
Frans pun kembali berbalik untuk mengambil pakaian, dia menarik napasnya dengan berat. Bukan keinginannya mengecewakan Mira, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya sehingga dia tidak mampu memenuhi keingian wanita cantik yang kini sedang bersamanya.
Mereka makan siang di sebuah kafe yang memiliki arsitektur bergaya etnik, tetapi tetap dibalut dengan unsur modernisasi dengan konsep semi outdoor. Frans memilih menu Salmon & Garlic Dijon, sedangkan Mira memilih nasi campur sebagai menu makan siangnya. Sembari makan siang mereka juga tampak berbincang-bincang dengan ringan, sesekali Frans dan Mira terlihat tertawa.
Namun, mereka tidak menyadari jika sedari tadi mereka tengah diawasi oleh dua pasang mata yang terus mengawasi mereka.
Setelah selesai menikmati makan siang, Frans dan Mira berpisah di depan kafe. Frans pergi karena akan menemui temannya dan menyisakan Mira yang tampak kebingungan menentukan arah tujuannya. Ini tempat asing bagi Mira, karena pertama kalinya dia datang ke Sumba. Frans tidak mengatakan seluk beluk daerah itu, laki-laki itu hanya memberikan sebuah kartu tanpa batas limit.
Akhirnya Mira berjalan menuruti langkah kaki entah ke mana tujaannya. Mira menggunakan sebuah topi pantai karena cuaca di sana cukup panas, tidak lupa dia memakai kacamata hitamnya. Mira pikir akan membosankan berjalan-jalan sendiri di tempat asing, ternyata ini cukup menyenangkan bagi Mira.
Sampai Mira menemukan sebuah toko Clothing Line yang menjual pakaian dan akseseoris etnik khas daerah itu. Tempat itu didominasi dengan hiasan kain tenun yang khas, sengaja untuk tidak menghilangkan unsur kedaerahan khas Pulau Sumba. Kebanyakan produk yang dijual di sana adalah memang dibuat dengan tujuan untuk memberikan unsur sensual dan elegan. Sangat cocok bagi wanita seperti Mira yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Setelah memilih-milih, pilihannya jatuh kepada salah satu gaun yang berbahan chiffon sutra berwarna hitam dengan potongan asimetris. Terlihat cocok digunakan Mira, pada bagian belakang tertutup sedangkan pada bagian depan memperlihatkan sebagian paha dan kaki jenjangnya.
Selain itu dia juga membeli beberapa pakaian lain, salah satunya pakaian laki-laki untuk Frans. Ketika melihat kemeja biru denim, dia merasa itu akan ccocok dipakai oleh Frans. Dia hendak mengambilnya dari salah satu pakaian yang terpajang. Namun pada saat yang sama, seseorang juga mengincar kemeja itu karena ada tangan kekar yang memegang kemeja itu.
Mira melihat ke arah pemilik tangan itu, dia langsung melepaskan kemeja itu karena terkejut. Orang yang dilihatnya adalah laki-laki yang duduk di sampingnya ketika di pesawat tadi. Laki-laki itu masih memakai pakaian yang sama dengan masker dan kacamatanya.
Teringat dengan kejadian di pesawat, entah masih merasa malu atau kesal Mira langsung pergi meninggalkan laki-laki itu.
"Kamu tidak jadi mengambil kemeja ini?" tanya Laki-laki itu, yang menghentikan langkah Mira.
Mira berbalik lalu mengatakan, "Tidak!" kemudian pergi untuk memilih barang lain sebelum menuju kasir.
Pada saat akan membayar, Mira dipertemukan lagi dengan laki-laki yang menurutnya menyebalkan itu. Mira berada di kasir nomor satu, sedangkan laki-laki itu di kasir nomor dua.
Mira sempat melirik belanjaan yang di beli laki-laki itu. Satu buah kemeja biru denim, satu buah ikat punggang dan beberapa aksesoris untuk pasangan. Rupanya dia sudah mempunyai pasangan, pikir Mira.
Kasir menyebutkan total harga belanjaan laki-laki itu
"Sebentar," ucap laki-laki itu sambil membuka dompet miliknya.
"Aku pikir dia bisu dan tuli," gumam Mira, yang tentu dapat didengar pria di sampingnya.
Pria itu menoleh ke arah Mira, sedangkan Mira memilih mengacuhkan dengan melihat ke arah lain.
"Jadi berapa?" tanya Mira, untuk mengalihkan perhatiannya. Kasir di depannya pun menyebutkan total harga belanjaan Mira.
Pria itu membayar dengan sebuah black card yang dikeluarkan dari dalam dompetnya.
Mira tahu tidak sembarang orang memiliki kartu pembayaran eksklusif itu, hanya dimiliki oleh orang-orang super kaya. Kartu itu tidak diterbitkan secara sembarangan. Namun, sedikit pun Mira tidak tergoda lagi dengan pria itu. Meski awalanya dia ingin menggoda pria itu, tetapi kesan yang diberikan saat di pesawat tadi cukup membuat hati Mira pedar.
Setelah Mira menerima tas belanjaannya, dia segera keluar dari tempat itu diiringi langkah kaki pria tadi di belakangnya. Mira menyusuri jalan pertokoan dan kafe sederhana diiringi sinar matahari yang mulai berwarna jingga.
Tiba-tiba Mira menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah belakang.
"Untuk apa kamu mengikutiku?" tanya Mira.
Ternyata laki-laki tadi masih berjalan di belakang Mira.
"Apa jalan ini milikmu? Ini jalan umum, jadi aku bebas saja ke mana aku berjalan."
"Ada banyak jalan lain di sekitar sini, mengapa kamu memilih berjalan di belakangku? Apa kamu tertarik padaku?" tanya Mira kembali.
Bukannya menjawab pertanyaan Mira, laki-laki itu terlihat tertawa seolah mengejek, dilihat dari gerakan bahunya yang naik turun. Dan hal itu semakin membuat Mira tambah dongkol.
Mira melihat sebuah taksi yang melintas, dengan cepat dia menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas. Untung saja, taksi itu tidak berpenumpang. Mira langsung masuk ke dalam taksi meninggalkan laki-laki tadi yang masih terpaku melihat kepergiannya.