Setelah sesampainya di hotel, Mira langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk mengusir lelah. Frans masih belum juga kembali menemui temannya, tanpa sadar Mira pun terlelap.
Mira terbangun ketika merasakan bibirnya dikecup seseorang, dia membuka matanya dan melihat Frans sedang tersenyum ke arahnya.
"Sudah puas belanjanya?' tanya Frans, sambil melihat dua kantong besar yang tergelatak di lantai.
"Hmm ... aku sampai lelah. Jam berapa ini?" Mira melirik jam dinding yang, pukul setengah tujuh. Satu jam lamanya dia tertidur dengan pulas.
"Santai saja! Acaranya masih satu jam setengah lagi," kata Frans sambil, berbaring di samping Mira lalu memeluk wanita itu.
Mira membelai tangan Frans yang memeluk tubuhnya. Perlahan Frans mengecup pipi Mira hingga kecupannya berkahir di bibir wanita itu. Bibir mereka kembali saling memagut, kali ini lebih panas dari ciuman tadi pagi. Tangan Frans kali ini juga lebih gencar menjelajahi tubuh sensitif Mira, sehingga satu, dua desahan keluar dari bibir mereka.
Mira kini naik ke atas tubuh Frans, dia hendak melucuti pakaian laki-laki itu termasuk celana yang dikenakannya. Namun, tiba-tiba Frans menghentikan gerakan tangan Mira.
"Tidak Mira, jangan sekarang!" kata Frans.
"Kenapa? Ayolah Frans aku sedang menginginkannya," rengek Mira.
"Aku lelah, lain kali saja," tolak Frans.
Mira turun dari atas tubuh Frans, dengan mendengus kesal.
"Maafkan aku!" ucap Frans, yang merasa tidak enak kepada Mira. Padahal dia yang memulai permainannya lebih dulu.
"Apa aku kurang menarik di matamu?" tanya Mira.
Terus terang saja, penolakan yang dilakukan Frans cukup membuat Mira tersinggung. Tidak pernah ada yang menolaknya selama ini kecuali, Frans. Oh tidak ... mantan suaminya juga pernah menolak berhubungan badan dengan Mira, dan itu seolah membuat Mira tidak berarti.
"Bukan, bukan begitu Mir. Kamu sangat menarik di mataku. Aku hanya tidak bisa melakukannya sekarang," jawab Frans dengan cepat.
"Ck ... sudahlah! Aku mau mandi saja." Mira bangkit dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi.
Saat mendengar gemericik air di kamar mandi, Frans bangun dan terduduk dengan lesu di ujung tempat tidur sambil berkali-kali mengusap wajahnya. Bukan hanya Mira yang kecewa, dia juga kecewa dengan dirinya sendiri.
Dua puluh menit kemudian, Mira keluar dari kamar mandi. Frans melihat Mira yang terbalut handuk, dan tersenyum ke arahnya dengan sebuah senyum khawatir.
"Tidak usah menatapku seperti itu, aku telanjang pun sepertinya kau tidak akan tergoda," ucap Mira dengan ketus. Rupanya Mira masih kesal kepada Frans, laki-laki itu paham dan memilih untuk diam.
Pukul delapan malam mereka tiba di restoran mewah, Mira mengenakan gaun yang tadi siang ia beli ditambah high heels hitam, rambutnya ia biarkan tergerai. Sedangkan Frans memakai kemeja putih yang digulung hingga siku pada bagian lengan. Kendatipun masih kesal dengan Frans, Mira berusaha mengatur mimik sehingga terlihat wajar seolah tidak terjadi apa-apa.
Itu adalah sebuah acara makan malam yang diadakan di ruangan terbuka, lentera kaca berkilau menghiasi setiap meja. Di sana juga terdapat kolam renang yang dihiasi beberapa lentera bola terlihat cukup atraktif. Acara makan malam itu terkesan romantis, karena mereka yang hadir datang bersama pasangan mereka masing-masing, baik pasangan sah atau bukan.
Saat Frans dan Mira datang, mereka sudah menjadi pusat perhatian. Beberapa rekan bisnis menyambut Frans dengan senyum lebar. Mereka juga menilik ke arah Mira yang terlihat anggun dan cukup mempesona pada malam itu. Pupil mata mereka membesar ketika berjabat tangan dengan Mira, saat Frans mengenalkannya sebagai kekasih.
"Wah, sekarang aku tahu mengapa selama ini Frans menyembunyikan Anda, Nona. Setelah melihat ini, aku pun pasti akan melakukan hal yang sama dengannya," seloroh seorang pria.
"Frans, setelah ini aku tidak yakin rumah tanggamu akan baik-baik saja." Seorang pria di samping Frans menepuk-nepuk pundak Frans.
Frans hanya tersenyum mendengar kelakar mereka, senyuman penuh kebanggan. Dia sudah bisa menebak, ini akan terjadi. Pujian demi pujian akan ia terima ketika dia menenteng Mira dalam setiap pertemuan dengan rekan-rekannya yang lain. Keberadaan Mira di sisi Frans ibaratkan sebuah simbol kesuksesan dan maskulinitasnya sebagai laki-laki.
Pria sukses tidak cukup dengan satu wanita, entah bagaimana asalnya kalimat itu bisa menjadi sebuah acuan. Namun, yang pasti terlepas dari benar atau salahnya kalimat itu, fenomena itulah yang sekarang sedang dipertontonkan para tamu yang hadir dalam acara malam itu. Padahal kualitas seorang pria tidak hanya diukur sebatas kejantanan atau maskulinitas-nya saja.
Mira tidak merasa rendah diri dengan statusnya saat itu, seperti kata Frans kebanyakan dari mereka bukanlah pasangan sah sama sepertinya. Dia terlihat berbincang-bincang dengan empat pria dan wanita di salah satu meja sambil menikmati hidangan malam. Mereka membicarakan tempat-tempat di Sumba yang patut dikunjungi.
Mira terlihat antusias, dia sudah punya gambaran tempat mana saja yang akan ia kunjungi esok hari. Dia berencana mengajak Frans untuk mengisi waktu liburannya.
"Erick," panggil seseorang di depan Mira, ketika melihat laki-laki tepat berdiri di sebelah meja mereka.
Laki-laki yang dipanggil Erick pun menoleh seraya tersenyum.
DEGH!!
Erick?
"Wah apa kabarnya? Jarang-jarang nih seorang Erick hadir di acara seperti ini," ucap laki-laki yang tadi menyapa Erick.
Erick hanya menyunggingkan senyumnya, dia menyalami dan memperkenalkan dirinya satu per satu kepada orang-orang yang ada di sana, tidak terkecuali Frans dan Mira.
Saat tangan Erick terulur kepada Mira yang mematung, wanita itu ragu untuk menerima uluran tangannya.
'Laki-laki itu ... Tunggu, kemeja biru itu dan ikat pinggang yang dia pakai, bukankah ini laki-laki tadi siang? Laki-laki menyebalkan di pesawat. Dia Erick! Aroma parfumnya pun masih sama seperti satu tahun yang lalu,' Mira membatin, tidak menyangka.
"Sayang, kamu melamun?" Frans memberaikan lamunan Mira.
"Oh maaf," kata Mira, dia lalu membalas uluran tangan Erick tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
Erick mengambil sebuah kursi kosong di sampingnya, dan ikut bergabung dengan mereka.
"Gandengannya mana? Gak diajak," tanya salah satu dari mereka kepada Erick.
"Dia sedang dipinjam seseorang, sedang tersesat di hati yang lain," jawab Erick, yang dibalas dengan tawa orang-orang di meja itu.
"Dia sengaja tidak membawanya, sama seperti Frans wanitanya terlalu sempurna untuk ditampilkan dihadapan kita. Seorang Erick Ivander Garet tidak akan sulit menggandeng wanita yang dia inginkan."
"Yap betul, lihat dia terlalu merendah. Pakaian yang dia kenakan bukan dari brand terkenal, padahal dia seorang pemilik perusahaan Game terbesar dan sedang naik daun sekarang," cetus wanita yang berada di samping Mira.
"Aku suka baju ini, karena seseorang yang memilihkannya untukku." jawab Erick, sambil melirik Mira yang terlihat sedang menunduk.
Entah apa lagi yang mereka perbincangkan, Mira sudah tidak peduli dan tidak ingin mendengar. Yang Mira inginkan saat itu adalah pergi dari tempat itu. Dia sudah merasa tidak nyaman sejak kehadiran Erick.
Ini bukan hanya tentang peristiwa di pesawat atau pun tentang kejadian tadi siang, yang membuat Mira tidak senang. Ini tentang kejadian satu tahun yang lalu, ketika pertama kalinya dia bertemu dengan Erick.
Gara-gara Erick yang membawanya ke hotel, Mira dituduh telah berselingkuh oleh mantan suami dan mertuanya. Dan dijadikan alat oleh mantan suaminya sebagai alasan menggugat cerai.
"Frans, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Mira kepada Frans.
"Oh, mau aku antar?" tanya Frans.
"Tidak usah, kau di sini saja." Mira mencoba memaksakan senyum.
Mira terduduk di dalam toilet untuk beberapa saat, ia kembali teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Saat mantan suami dan mertua yang mengusirnya dari rumah, setelah mereka tahu Mira berada di hotel bersama Erick. Bayangan suaminya yang tersenyum licik, dan tatapan mantan ibu mertua yang seolah jijik dengan keberadaan Mira di rumahnya.
Mira mengusap air matanya dengan sebuah tisu, untung saja maskara yang digunakan tahan air sehingga tidak merusak riasan diwajahnya. Dia keluar dari salah satu bilik toilet, lalu merapihkan kembali tampilannya, Kemudian keluar untuk menemui Frans kembali.
Namun, betapa terkejutnya Mira ketika melihat sosok Erick sudah berdiri di hadapannya. Laki-laki itu sengaja menunggu Mira di sana.
"Apa kabar Elmira, apa kau masih ingat aku?"