4. Perjalanan Dinas

1325 Kata
Setelah berada di dalam gerbong, Mia dan Redha mencari-cari nomor kursi yang sesuai dengan tiket yang mereka pegang. “Ah, itu dia!” ucap Redha seraya menurunkan tas selempangnya dan mempersilahkan Mia untuk mengambil tempat duduk di dekat jendela. Manis sekali sikapnya, tutur Mia dalam hati. Setelah terdengar bunyi pengumuman bahwa waktu keberangkatan telah tiba, kereta pun mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Ini merupakan kali pertama Mia naik kereta karenanya ada perasaan sedikit gugup sekaligus senang bukan main. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu hampir 3 jam. Waktu yang cukup lama untuk sebuah perjalanan hingga beberapa kali mereka tertidur pulas sampai akhirnya tiba di Stasiun Gambir. Dari area stasiun, terlihat Tugu Monas yang kokoh berdiri untuk pertama kalinya, begitu tinggi menjulang. Berhubung waktu seminar masih tersisa sekitar 2 jam, Mia dan redha mencoba untuk masuk ke area Monas namun sayangnya pintu gerbangnya ditutup dengan keterangan sedang dalam perbaikan sehingga tidak ada siapapun yang berkunjung saat itu. Segera saja mereka memutuskan untuk mencari halte busway menuju Jalan Sudirman tempat mereka akan mengikuti seminar. Redha cukup lincah dan jeli dalam menemukan jalur dan rute busway sementara Mia mempercayakan segalanya kepadanya. Setelah sampai dan menunggu di halte, busway yang ditunggu pun tiba. Tak ada tempat duduk yang kosong. Semua terisi penuh tak terkecuali tempat duduk untuk ibu hamil, orangtua dan d*********s. Sensasi terombang-ambing di dalam busway pun mulai terasa dan mengingatkan Mia pada wahana permainan di Dunia Fantasi, salah satu wahana permainan besar dan terkenal di Jakarta. Sesekali Mia terayun ke kiri dan ke kanan mengikuti jalur yang ditempuh bahkan terhempas ke depan dan belakang ketika sang sopir menginjak rem dengan agak kasar. Ia bergelantungan pada pegangan yang tesedia di atas kepalanya. Ada hal menarik yang ia lihat setiap kali ada wanita hamil atau orangtua yang masuk, beberapa orang tanpa disuruh segera berdiri dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Sungguh inisiatif dan tingkat toleransi yang tinggi. Berhubung rute pertama tidak melalui Jalan Sudirman, Mia dan redha harus berganti busway menuju arah yang mereka tuju. Kali ini, kendaraan tersebut kosong, hanya ada Mia, Redha dan Pak Sopir. Tidak berapa lama, Redha berinisiatif mengeluarkan ponselnya. Ia mengambil beberapa foto Mia dan juga memintanya melakukan hal yang sama pada dirinya. “Buat bukti ke sekolah..” tukasnya sambil berbisik. Tak lama kemudian ia duduk di sebelah Mia dan memiringkan kepalanya ke arah Mia. Tangan kirinya memegang ponsel dan siap mengambil foto mereka berdua. “Hey, apa yang kamu lakukan?” sedikit berteriak Mia mencoba merendahkan nada suaranya dengan refleks. “Untuk bukti perjalanan, Miss.” Jawab Redha membela diri. “Sudah sampai rupanya, yuk turun!” ajak Redha. Angin berhembus tatkala mereka melangkahkan kaki menjauhi busway. Di tengah panasnya udara kota Jakarta, sebuah aroma khas pun tercium. Seketika Mia berhenti melangkah. Aroma ini begitu khas mengingatkannya akan sebuah ritual pagi yang biasa ia lakukan sebelum berangkat kerja. “Tidak mungkin!” teriak Mia dengan rasa kaget luar biasa. “Ada apa, Miss Mia?” Redha terkaget dan menghentikan langkahnya seketika. Mia merasakan wajahnya memanas dan tentunya memerah. Bukan karena panasnya udara kota namun karena rasa malu teramat sangat dikarenakan ia terlupa tidak memakai deodorant pagi tadi. “Oh, ti..tidak apa-apa. Ayo kita jalan lagi sebentar lagi sampai” tukas Mia mengalihkan perhatian. Untunglah aromanya hanya tercium oleh Mia sendiri, namun bisa dibayangkan betapa menyengatnya aroma keringat dicampur dengan bau baju baru yang belum sempat dicuci. Sebuah perpaduan aroma yang sempurna untuk menghancurkan hari Mia saat itu. Dengan menjaga jarak, Mia membuntuti Redha berjalan memasuki area gedung berlantai 7 tersebut. Tak lupa Redha mengeluarkan ponselnya dan kembali mengambil gambar masing-masing secara bergantian dengan dalih sebagai bukti perjalanan. Mereka menaiki sebuah elevator hingga sampai di lantai 5. Pintu elevator pun terbuka dan segera disambut oleh panitia seminar yang langsung memepersilahkan mereka untuk mengambil souvenir berupa pena cantik dalam sebuah kotak beralaskan kain beludru merah. Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak meja berbentuk lingkaran dengan diselimuti taplak putih khas hotel berbintang dengan kursi yang juga berselimut putih dengan pita keemasan di sandarannya. Sebuah welcoming drink pun datang yang turut menyegarkan tenggorokan yang dahaga. Redha duduk di sebelah Mia, ia menyisir poni lempar miliknya menggunakan jemari tangannya yang menyerupai jari pianis, tak lupa kacamata yang selalu nangkring di batang hidungnya ia perbaiki posisinya dengan benar. Sementara itu, Mia yang merasa kehilangan percaya diri saat teringat akan deodorant yang lupa tak dipakainya tak mengijinkan tubuhnya melakukan banyak gerakan yang memungkinkan timbulnya hembusan angin yang membawa aroma khas yang tidak diharapkannya. Mia dan Redha cukup menikmati hidangan dan juga seminar hari itu. Semua berjalan lancar, seperti biasa Redha dengan penuh percaya diri mengajukan sebuah pertanyaan dalam misi memperkenalkan sekolah mereka ke dunia luar. Seminar pun berakhir pada pukul 3 sore, tiba -tiba Redha mendapat ide untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sahabatnya di kawasan Sunter. Karena hari masih sore, mereka pikir tidak akan menjadi masalah bila pergi sejenak ke Kawasan Sunter sebelum akhirnya pulang. Mereka kembali naik busway menuju Sunter dilanjutkan dengan angkot sampai suatu daerah tertentu yang tak diketahui posisi pastinya oleh Mia. Matahari masih bersinar, kali ini agak hangat karena menjelang sore namun tetap saja sebisa mungkin Mia menjaga terus jarak antara dirinya dengan Redha agar tak terlalu dekat. Mereka menyeberangi sebuah jalur kereta dan memasuki sebuah area perumahan yang cukup nyaman dengan pohon di kiri dan kanan jalan. Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah dengan warna cat putih. “Assalamu’alaikum” sahut Redha mencoba memanggil pemilik rumah. “Wa’alaikumsalam, Ehh..Redha.” seorang perempuan sebaya dengan kami keluar dengan rambut lurus hitam tergerai. Belakangan diketahui bahwa namanya adalah Gema. Ia mempersilahkan Mia dan Redha masuk dan duduk. Redha banyak berbincang dengan perempuan itu. Rupanya mereka dahulu adalah teman SMA, mereka berbincang dengan asyik. Sementara itu, Mia memohon ijin untuk menggunakan toilet untuk mandi karena tak tahan dengan udara panas terlebih lagi bau tubuhnya yang sudah sangat menyengat menurutnya. Selepas menyegarkan diri, dan berbincang sebentar rupanya waktu sudah menunjukan pukul 18.00 segera saja mohon ijin untuk segera pulang. Gema bersama suaminya yang baru saja pulang kerja mengantarkan Mia dan redha sampai di stasiun. Perjalanan menuju stasiun kereta pun agak padat dan kereta yang mereka tuju merupakan jadwal kereta terakhir hari itu. Ada sedikit perasaan was-was, bagaimana bila mereka melewatkannya? Beberapa pikiran terlintas dan berkelebat di benak Mia. Meski akhirnya mereka masih bisa untuk ikut jadwal keberangkatan terakhir karena ada keterlambatan. Syukurlah. Akhirnya Mia dan Redha pun sampai di stasiun. “Lain kali mampir lagi ya, Red..sama Mia.” dengan kerlingan genit Gema berkata sambil menyiratkan sesuatu. “Oh, engga..lain kali bukan sama saya..” tukas Mia segera mengalihkan perhatian. Mereka pun segera berpisah berhubung waktu yang semakin sempit. Kereta pun tiba, kembali Mia dan Redha duduk bersebelahan. Ada perasaan yang tak biasa memang dari petualangan hari ini. Untuk pertama kalinya Mia berpergian dengan seorang teman lelaki. Untunglah itu Redha, seseorang yang baik, cerdas dan santun. Mia dan Redha terkantuk-kantuk setelah makan malam di gerbong makan tadi. Nasi goreng rasanya menu yang paling tepat untuk mengisi perut lapar dan kantong yang sudah menipis. Rasanya agak aneh memang bersebelahan dengan seseorang laki- laki yang terkantuk-kantuk dengan kepala condong ke kiri dan ke kanan. Mia menggerakan tubuhnya ketika menyadari kepala Redha hampir menempel di bahunya. Begitu seterusnya hingga mereka kembali sampai di Bandung sekitar pukul 11 malam. “Mau kuantar?” ucap Redha selepas turun dari kereta dengan ragu berhubung waktu sudah larut malam. “Oh, tidak perlu. Kakakku menjemput!” Mia menolak dengan halus. Tidak lama muncul sosok perempuan yang usianya tidak jauh dari Mia dengan senyum mengembang menyambut kedatangannya yang tak lain adalah kakak Mia. “Baiklah, terima kasih atas hari ini, sampai ketemu besok ya.” ucap Mia pada Redha. Entah apakah Reda merasakan hal yang sama dengan Mia. Sebuah perasaan nyaman dan hangat menyelimuti hati Mia kala itu. Namun seperti biasa, perasaan seperti itu segera saja ia tepis dengan anggapan bahwa Redha memang sosok pria hangat pada siapapun dan bisa menghipnotis setiap hati yang lemah. Sehingga ia katakan pada dirinya sendiri, “ Jangan terlena wahai hati! ”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN