5. Pesan Manis

1435 Kata
“I met Iman, takwa, peace, love, health and wealth today. They need a permanent place to stay. I gave them your address. Hope they arrive safely to accompany you for the rest of your life.” Kubuka sebuah pesan singkat yang kusalin dari sebuah memori lama ponselku pada sebuah buku catatan harian semasa kuliah dulu. Ada sebuah pesan istimewa yang tertulis dalam Bahasa Inggris dimana setiap katanya tertoreh dan melekat di kepalaku. Sepertinya sudah berkarat bagai besi terpapar oksigen. Kuteruskan setiap penggalan kata dalam catatan itu hingga membawaku berpetualang kembali ke sebuah masa. Pertemuan pertamaku dengannya diawali dengan situasi yang sangat konyol. Aku mendapatkan nomor ponselnya dari selembar pengumuman yang berisi nama-nama mahasiswa peserta KKN yang satu kelompok denganku. “Halo, ini dengan Mia teman sekelompokmu KKN nanti. Kamu Abimanyu kan?” sapaku mencoba untuk ramah dalam sambungan telepon kami. “Iya, aku Aby. Salam kenal.” jawab sebuah suara di penghujung telepon. “Hari ini kita semua kumpul di Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) ya. Kamu dimana?” “Di … belakang kamu…” suara Aby terdengar semakin jelas dan nyatanya memang berada di belakangku. “Oh, hehehe…Hai.” Segera kututup percakapan kami dengan menekan tombol end pada layar ponselku. Sebuah pertemuan yang manis sekaligus lucu pikirku saat itu. Tak lama kemudian berdatangan teman-teman sekelompok yang lain. Jumlah kami semua bersepuluh dari berbagai jurusan yang berbeda, enam orang mahasiswi dan empat orang mahasiswa. Hari itu kami semua berembug dan menyusun daftar kebutuhan kami selama 40 hari berada jauh dari rumah. Satu minggu kemudian, kami kembali bertemu di sebuah pagi yang cerah. Semua sudah berkumpul kecuali satu orang. Tak lama berselang, seorang temanku bernama Rasyi berperawakan kurus dan modis datang sambil menyapa. “Hai, Mia..sudah lama ya?” “Hai, Rasyi..baru saja datang. Mana barang bawaanmu? Ko hanya sedikit.” tanyaku yang penasaran karena Rasyi hanya membawa tas selempang saja. “Wait, aku ambil dulu ya!” jawabnya sambil berlalu. Daan, rupanya aku tertipu, barang bawaan Rasyi jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Semua yang melihat menggelengkan kepala melihat kelakuan Rasyi saat itu. Setelah semua barang masuk bagasi akhirnya kami pergi menggunakan mobil kijang yang dikemudikan Aby. Kami sampai di desa tujuan kami, Desa Kencana Mukti. Setelah mengikuti rapat di balai desa kami diarahkan untuk menempati sebuah rumah milik salah satu petugas Desa benama Pak Ade. Hari – hari pertamaku begitu menarik. Seseorang yang introvert sepertiku tiba-tiba berubah menjadi seorang yang terbuka dan banyak bicara layaknya mereka para extrovert. Malam itu pak Ade memberi kami sebuah semangka besar hasil kebunnya. Sontak kami langsung membelah dan memakan buah tersebut bersama-sama. Aku yang penyuka buah tropis dengan kadar air yang tinggi ini tentu saja sangat menikmati momen tersebut. Satu potongan terakhir tersisa, kulihat semua orang sudah tak lagi tertarik untuk mengabiskan buah itu. “Yakin, ga ada yang mau makan lagi nih?” tanyaku meyakinkan yang lain. Semua hanya saling melirik sampai akhirnya, Mizan sang ketua berkata, “Udah, makan aja, Mi.. ga usah pake basa- basi segala.” gumamnya sambil terkekeh. Sebenarnya saat itu juga ingin aku menghabiskan potongan terakhir itu namun harga diriku jauh lebih berat dibandingkan dengan keinginanku. “Titip dulu ya. Ini bagianku, aku mau ambil handphone dulu di kamar” ucapku seraya berdiri dan meninggalkan mereka. Tak lama ketika kembali berada di tengah-tengah teman-teman, kulirik buah semangka yang tinggal sepotong itu, namun mengapa sekarang tiba-tiba menghilang. “Siapa yang mengambil semangka punyaku?” tanyaku sedikit kesal. Semua terdiam, dan nampak tidak menghiraukanku. Mereka sibuk dengan obrolan masing-masing. Hanya ada satu orang yang terlihat aneh. “Aby!! Kamu yang mengambil semangkaku ya?” aku sedikit berteriak karena semua orang terus berbicara. Aby tersenyum dan dengan tatapan licik menjawab, “Masa sih? Itu punya kamu memangnya?” “Ya iya lah. Aku kan tadi sudah tanya siapa yang masih mau semangka? Ga ada yang jawab. Ya sudah berarti itu punyaku!” ucapku dengan nada sedikit tinggi yang tak pernah kulakukan pada siapapun sebelumnya. “Hahaha… ya ga bisa begitu dong. Semangka kan bukan kamu yang beli, Mia. Pak Ade tadi yang ngasih buat kita semua.” sambung Aby terus memancing emosi. “Awas ya, kamu. Besok giliranku piket. Besok kamu gak akan dapat jatah makan! Minta aja sama Pak Ade!” ancamku dengan kesal namun sesuatu yang aneh menggelitik perutku membuatku ingin tertawa tapi kutahan karena gengsi. “Sudah..sudah. Sekarang kita mulai rapatnya.” ucap Mizan mencoba menengahi. Aku pun mencoba memulai mengikuti rapat dengan terus memasang tatapan sinis pada Aby yang semakin lama semakin terlihat menjengkelkan. Suatu perasaan yang lain dari biasanya yang kurasakan pada momen KKN ini. Bukan hanya jauh dari orangtua namun ada sedikit perubahan sikap dan karakter yang kurasakan terjadi pada diriku. Sore itu adalah agenda kami berjalan-jalan mengunjungi sebuah danau bernama Danau Kahuripan. Suasananya sangat indah. Matahari bersinar hangat, angin berhembus dengan sepoi-sepoi ditambah lagi pemandangan danau dan rakit- rakit bambu yang melaju di permukannya. Sungguh sangat indah. Aku bertemu dengan beberapa teman sekelas dari kelompok lain. Beberapa saat kami mengobrol dan segera kususul teman-teman dari kelompokku karena khawatir tertinggal. Mereka berkumpul di tepi danau, aku pun turut berhenti dan berkumpul bersama mereka. Tak ada obrolan penting, kubalikkan tubuhku menghadap ke danau, kunikmati hembusan angin dan hangatnya sinar matahari sore yang sebentar lagi akan tenggelam. “Ahhh indahnya..” gumamku secara spontan. Tanpa kusadari seseorang berdiri disampingku dan turut memandangi danau yang indah itu. Sejenak kusadari keberadaaannya dan kukira ia adalah Mizan. Namun dari ekor mataku kuperhatikan ia bukanlah Mizan. Sosok itu menoleh ke arahku dan memperhatikanku dengan seksama seolah memberikan energi hangat yang mengetuk dan membuatku melakukan hal yang sama. Saat aku mulai menggerakan kepalaku ke arahnya, tiba-tiba dengan cepat ia memalingkan wajahnya dariku. Kulihat guratan merah yang menjalar dan melebar ke seluruh bagian wajahnya membuatnya merona persis seperti kepiting rebus. Hanya tersisa sedikit senyuman yang tertangkap dan belum hilang. Suasana berubah menjadi kaku. Aku kehilangan kata-kata tapi tetap mencoba bersikap biasa saja. “Aby, langitnya lagi bagus ayo cepat ambil fotonya.” pintaku yang melihatnya memegang sebuah kamera digital. “Iya.” jawabnya singkat seraya mengangkat kamera dan mengambil beberapa gambar danau yang saat itu nampak begitu mempesona. *** Beberapa waktu berlalu setelah kegiatan KKN di Desa Kencana Mukti. Berbagai kenangan manis nan indah dan berharga untuk dikenang. Empat puluh hari bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal dan mengetahui berbagai karakter dari setiap orang di sekitar kita yang terlibat sehari-hari selama dua puluh empat jam bersama. Termasuk kenangan tentang Aby yang berlanjut menjadi sebuah kedekatan yang istimewa. Aku merasa nyaman berteman dengannya. Begitupun sebaliknya. Hampir setiap hari kami berkirim pesan meski hanya sebuah candaan. Hingga di suatu malam tepat pukul 12, Aby mengirimkan sebuah pesan manis mengucapkan selamat ulang tahun padaku dimana sebelumnya tak pernah ada seorang pun yang melakukan hal semanis itu. Muncul pertanyaan yang sulit kuungkapkan pada siapapun atau apalagi kutanyakan langsung pada Aby. Aku dan Aby hanya menjalani dan menikmati setiap momen obrolan kami meski tidak bertemu langsung. Hingga pada suatu momen reuni kami bertemu bersama dengan teman-teman yang lain. Aby sangat terlambat saat itu hingga membuatku sangat kecewa. Kami tak banyak mengobrol hanya menghabiskan waktu bersama dengan yang lain. Hal tersebut membuatku pulang membawa kesedihan yang terlarut dalam senyawa kimia tubuhku. Aku sangat sedih hingga terlelap dan hanyut dalam mimpi yang juga menyedihkan. Keesokan harinya, aku terbangun tepat pukul 4 pagi karena suara alarm dari ponselku. Segera kucari dan kumatikan alarm ponselku. Kuperhatikan ada sebuah pesan yang masuk. Tak muncul secara langsung dalam notifikasi ponselku karena rupanya memorinya sudah penuh. Kubuka menu dan kutemukan nama Aby di sana. Rasanya kaget luar biasa dan perasaan senang bercampur aduk dengan pertanyaan yang aku sendiri tak bisa menjawabnya. “I met Iman, takwa, peace, love, health and wealth today. They need a permanent place to stay. I gave them your address. Hope they arrive safely to accompany you for the rest of your life.” Tak sengaja air mataku menetes. Sebuah pesan yang manis dan tak biasanya dia mengirimiku pesan seperti ini apalagi setelah pertemuan kemarin. Kuperhatikan setiap kata dalam pesan itu. Semakin lama air mataku mengalir semakin menderas namun sepertinya aku harus segera membalas pesan itu. Kupikirkan kata-kata yang kurasa indah untuk membalas pesannya. “Today, someone knocked on my door. He gave me six beautiful pearls. They were amazing and I will surely keep it for myself.” Kubalas pesan Aby dengan untaian kata yang kubuat sendiri. Aby tak membalas pesanku tersebut berhari-hari dan aku pun menjadi segan untuk memulai. Aku tak bisa berpikir jernih, kusibukkan diriku dengan semua kegiatanku di kampus. Sesaat berharap bisa kembali bertemu langsung dengannya namun itu tak kunjung terjadi. Kami menjadi seperti orang asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN