Semua rasa yang tersimpan dalam hati berpendar menimbulkan bayangan yang terus menyala bagai lilin di tengah kegelapan. Bayangan itu akan terus menari menghiasi dinding memori kita. Tunggulah hingga surya menyapa dan gelap pun sirna. Baru kita ketahui segalanya dengan lebih nyata.
Aku masih dalam penantianku sendiri. Pesan manis yang dikirimkan Aby beberapa minggu lalu malah menjebakku dalam kegelisahan tak berujung. Entah apakah dirinya pun merasakan hal serupa?
Semakin aku tenggelam dalam resah gelisah, semakin aku ingin berlari dan mencari penawar dari rasa yang membuatku tidak nyaman ini. Suatu pagi, seorang teman KKN-ku yang lain bernama Andina mengajakku membantunya menyelesaikan penelitiannya di laboratorium atau kami biasa menyebutnya lab MIPA. MIPA merupakan singkatan dari Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Aku sangat tertarik karena sejak belajar di sekolah menengah dulu aku sangat suka pelajaran matematika juga IPA. Hari itu aku tidak ada kegiatan di jurusan sehingga aku memutuskan untuk menjemput Andin di kamar kost-nya.
“Hai, Andin. Sudah siap berangkat?” sapaku dengan ramah.
“Oh, tentu saja. Sebentar biar kuambil tasku dulu.” jawab Andina dengan satu kilatan ia menyambar tas punggungnya yang berisi berbagai keperluan yang dibutuhkan di lab.
Hari itu sangat terik, kami berjalan menyusuri gang sempit dari kamar kost Andina menuju Gedung MIPA yang megah. Sesampainya di depan gedung, seseorang menyapa Andina. Rupanya ia adalah kenalan Andina ketika SMA dulu. Mereka mengobrol begitu asyik di tengah teriknya sinar matahari. Sementara itu, aku hanya berdiri mematung dan memperhatikan sekitar. Tak banyak orang berlalu lalang karena hari memang sangatlah terik. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang berdatangan mengejar jam masuk kuliah.
Entah apa yang meyakinkanku untuk tetap berdiri di sana dan dengan setia menunggu Andina selesai mengobrol dengan teman lamanya. Firasatku mengatakan bahwa akan terjadi hal besar saat itu namun belum bisa kuketahui. Aku bukanlah seorang indigo tapi sejak masa SMP dulu berkaitan dengan beberapa hal instingku seringkali terbukti menjadi kenyataan, baik itu melalui mimpi maupun hanya sekedar firasat.
Pernah pada suatu kali ketika libur akhir tahun, aku secara berturut-turut terus memimpikan seorang teman lama yang sama sekali tak pernah kuingat bahkan kurindukan kehadirannya. Ia terus datang dalam mimpiku selama tiga hari berturut-turut hingga meyakinkanku bahwa ia akan datang ke sekolah dan berada dalam satu kelas denganku. Hal tersebut terbukti benar setelah kulihat beberapa lembar kertas pada papan pengumuman tentang pembagian kelas. Kutemukan namanya dan kutemui dirinya berada satu kelas denganku. Meski tidak semua hal terprediksi dengan kepekaanku namun aku percaya sesuatu yang dengan kuat kita yakini biasanya akan menjadi kenyataan.
“Eh, lihat siapa itu” tiba-tiba Andina menunjuk ke suatu arah datangnya beberapa orang yang bermunculan hampir bersamaan.
Kuperhatikan orang-orang tersebut satu per satu. Dan rupanya salah satu diantara mereka terdapat seseorang yang kukenal. Semakin lama mereka semakin mendekat, laki-laki tersebut pun mengenaliku dengan jelas. Wajahnya menimbulkan semburat kemerahan dan langkahnya mendadak terhenti sambil secara spontan ia melemparkan sebuah tas yang sedang dibawanya ke arah seorang perempuan yang berjalan di sampingnya. Sontak perempuan itu menangkap tasnya dengan terkaget-kaget.
“A..Aby!” gumamku dengan terbata.
Aby mencoba menghampiriku dengan langkah yang kaku. Kakiku bergetar dan tiba-tiba terasa lemas. Aku harus bertahan, pikirku saat itu. Aku mencoba sebisa mungkin menetralkan suasana yang canggung ini. Dengan suara bergetar aku mencoba menyapanya.
“Hai, lama tak bertemu!” sapaku mencoba ramah.
Aby tak menjawab, ia hanya menatapku dengan tatapan iba dan bersalah. Sepertinya banyak yang ingin ia katakan namun tak satu pun keluar dari mulutnya. Perempuan yang tadi berjalan bersamanya pun menghampiri kami. Ia menyapaku.
“Kenal dengan kak Aby?” tanyanya dengan halus.
“Oh, iya… kami teman KKN.” jawabku dengan kaku.
Aku berharap Andina dapat bergabung mengobrol bersama kami namun sayangnya ia masih sibuk dengan teman lamanya itu.
Secara perasaan aku ingin mengingkari hubungan yang ada diantara perempuan itu dengan Aby namun sayang otakku sudah terlanjur merekam momen yang baru saja terjadi, ketika Aby membawakan tas miliknya. Hal tersebut semakin menegaskan mereka memiliki hubungan istimewa.
“Aku adik kelasnya Kak Aby. Lidya Kamila.” ucap perempuan itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
Oh My Goodness, nama belakanganya sama denganku. Kenapa? Teriakku dalam hati.
“Ha..hai, namaku Mia.” ucapku dengan singkat karena masih terheran-heran dengan nama belakangnya yang sama denganku.
“Waahh, Aby.. siapa ini? Kenapa ga bilang-bilang iiihhh. Kita kan mau kenal. Iya kan, Mia?” celetuk Andina yang tiba-tiba menghampiri karena temannya sudah berlalu.
Melihat Andina datang, tiba-tiba Aby akhirnya berkata, “ Aku ada kelas. Sampai jumpa lagi.”
Aby melangkah pergi bersama Lidya dan meninggalkan aku dan Andina. Aku menahan semua rasa yang ada dan mencoba untuk tegar. Bukan sedih yang terasa sekarang namun lebih ke rasa heran dan marah. Sesaat kurasakan marah pada Aby namun ketika kupikirkan kembali, aku marah pada diriku sendiri yang terbuai begitu saja oleh pesan manis dari seseorang seperti Aby.
Tentang pesan singkat yang Aby kirimkan, kini pupus sudah. Tak ada harapan. Aku seperti dibuat terbang melayang ke awan bahkan sampai ke langit namun dihempaskan begitu saja ke bumi. Aby kini sudah bersama orang lain yang kusaksikan sendiri kebersamaannya hari ini, bukan hanya sekedar kabar burung atau gossip murahan dari teman-teman.
Sepanjang jalan menuju lab, pikiranku seolah kosong. Semua memudar, rasanya saat itu ingin aku benamkan kepalaku di dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya menyesali kebodohanku sendiri. Bukan salahnya tapi salahku, begitu pikirku saat itu. Namun tentu saja hal tersebut tak bisa kutunjukkan pada siapapun termasuk Andina.
Kupandangi dan kuperhatikan setiap wadah spirulina yang sedang diteliti oleh Andina. Lembar demi lembar ia masukkan ke dalam kaca objek pada mikroskop di hadapannya. Sementara itu, aku mendapat tugas mencuci wadah bekas spirulina serta kaca objek bekas yang telah dipakai. Hal itu sangat menguntungkan kondisiku yang ingin menyendiri dan tak ingin diganggu oleh siapapun. Aku berlama-lama mencuci dan mengelap setiap benda tersebut sambil menikmati perihnya hati yang teriris sembilu.
Pergilah Aby, lakukan sesukamu. Biarkan aku sendiri. Aku tahu kau bukanlah orang jahat. Aku hanya sedang tidak beruntung. Kau orang yang baik maka berbahagialah. Aku pun akan menemukan kebahagiaanku kelak. Tapi biarlah kurasakan rasa ini seorang diri, seperti dulu, seperti biasanya sampai aku menemukan seseorang yang membawa penawar dari rasa perih ini.
Untaian kata yang memilukan terus mengalun dalam benakku saat itu. Dan aku pun semakin tenggelam dalam kata-kataku sendiri selama beberapa waktu hingga perasaan sedihnya sedikit demi sedikit teralihkan dengan berbagai ritme kesibukan baru menjelang kelulusanku. Dan bahkan di hari kelulusan pun aku masih berharap untuk bisa memandangnya untuk terakhir kali meski dari kejauhan.