Meski mentari bersembunyi di balik awan kelabu dan dinginnya udara pagi yang merasuk dan menusuk tulang, namun senyuman anak – anak justru menghangatkan suasana pagi itu. Nampak gigi - gigi putih cemerlang ditambah beberapa gigi yang baru saja tumbuh menyeringai manis di bibir anak – anak yang datang menyapa para guru yang berjajar di depan aula menyambut kedatangan mereka.
Kegiatan seremonial pagi selesai, semua kembali ke kelas masing – masing. Tiba-tiba seorang perempuan muda yang kukenal mendekat. Semakin ia mendekat, kuperhatikan wajahnya yang tidak sedang dalam kondisi mood yang bagus.
“ Hai, Hasna. Ada apa? Kau Nampak tidak senang hari ini?”
“ Ini semua gara-gara kamu, Mia.” jawabnya dengan ketus namun menyisakan sedikit senyuman kecil.
“Lho, apa salahku?” aku bertanya-tanya.
“Aku mau ke kelas dulu. Bye …” tukas Hasna dan segera berlalu menuju kelas 2A.
Hasna adalah salah satu sahabat dekatku di sekolah. Kami juga merupakan teman sekelas ketika kuliah dulu. Kami sering menghabiskan waktu bersama baik sekedar menyelesaikan pekerjaan sekolah, bahkan shopping sekalipun. Jarak antara kost-an Hasna dengan sekolah tidak terlalu jauh sehingga aku sering mampir dan mengobrol banyak hal di sana. Bagiku, Hasna adalah teman yang baik meskipun terkadang sangat moodi.
Aku pun kemudian masuk ke kelas 1B untuk memulai pelajaran. Sejumlah anak sudah duduk dengan tertib dan menyapaku dengan salam yang mereka ucapkan secara serentak. Kujawab salam tersebut dan segera melakukan apersepsi.
Aku bertanya tentang binatang peliharaan mereka. Beberapa anak bercerita tentang hewan yang mereka pelihara di rumah. Namun ada seorang anak bernama Rafi yang dengan wajah sedih menceritakan ikan peliharaannya yang sudah mati.
“Ms, I had a goldfish.” tuturnya sambil berdiri dan berjalan mendekatiku.
“ Wow. What do you call it?” tanyaku dengan bersemangat.
“ I named it Rafa but it was gone.” tuturnya kembali.
“Did somebody take it away?” tanyaku dengan antusias.
“No, it died yesterday.” dengan wajah sendu ia bergumam pelan dan hampir tak terdengar.
“Oh, what a pity. I’m sorry to hear that Rafi.”
“It’s ok, Ms.” jawab Rafi sambil kembali ke tempat duduknya.
Setelah semua anak mendapat kesempatan untuk menyebutkan hewan peliharaannya, aku pun melanjutkan pada kegiatan inti yaitu membuat model teks deskripsi sederhana tentang binatang dan tentu saja disertai beberapa flash card binatang untuk menstimulus motivasi anak-anak.
Kegiatan pembelajaran berlangsung hingga bel istirahat berbunyi.
Setelah menutup pembelajaran dan mempersilahkan anak-anak untuk menikmati waktu istirahat, aku melangkah keluar. Tepat di depan pintu kelas Hasna dan Arin sedang berdiri dan berbincang dengan masih memeluk buku dan map administrasi kelas.
“Hey, ko pada ngumpul di sini?” sapaku sedikit dengan hentakan mencoba untuk mengagetkan mereka.
“Nah ini nih orangnya.” tiba-tiba Hasna kembali mengingatkanku dengan ucapannya pagi tadi.
“Ada apa sih sebenarnya? Cerita dong!”
Hasna memalingkan wajah dan memberi kode pada Arin untuk memulai.
“Jadi gini, Mia. Semalam Hasna bermimpi. Hasna bermimpi kamu dan Redha menikah.” ujar Arin sambil tertawa.
“What? Hahaha…” aku ikut terkekeh karena tak sanggup mendengar hal menggelikan itu.
“Ga mungkin laahh. Ayo lah, secara Redha bukan tipe-ku” sambungku sambil masih menahan tawa.
“Beneran ya? Ga akan mungkin kan?” tanya Hasna memastikan.
“Ga mungkin bangeett.. eh, tapiii..ga tau juga ya..hehehe.” aku mencoba menggoda Hasna yang makin cemberut.
“Aku tau tipenya Mia Kok, Has. Jangan kuatir!” ucap Arin.
Tiba-tiba Redha datang menghampiri kami yang masih tertawa melihat Hasna yang cemburu buta.
“Hey, kalian. Is it a girl talk? Boleh ikutan nimbrung dong?” ucap Redha yang tiba – tiba muncul dan mengagetkan kami bertiga yang sedang terkekeh..
“Ga boleh!” jawab Hasna dengan semburat kemerahan di wajahnya. “This is a girl talk.”sambungnya menegaskan.
“Oh, baiklah kalau begitu. Bye, semuanya.” ucap Redha sambil berlalu.
Setelah Redha pergi, kami pun segera membubarkan diri karena khawatir kehabisan waktu istirahat. Aku segera menyimpan pelengkapan mengajar di mejaku dan berlari ke kantin membeli beberapa makanan untuk mengisi perutku yang lapar. Sambil mengunyah pisang goreng yang baru saja kubeli di kantin dan sebotol air mineral, aku terduduk di bawah pohon palem di sisi pintu aula.
Semilir angin dari lambaian pohon palem membawaku menerawang pada kisah perjalananku ke Jakarta minggu lalu bersama Redha. Setitik senyum tertoreh di bibirku mengingat kekonyolan yang terjadi saat itu. Lupa memakai deodorant, memakai batik kembar dengan Redha, pergi ke rumah temannya Redha di daerah Sunter sampai mengejar kereta terakhir. Semuanya begitu berkesan. Aku tak memungkiri ada rasa nyaman dan bahagia setiap kali mengenang saat itu. Tapi .. hey.. aku tidak akan menyimpan rasa untuk Redha, pikirku. Terlebih lagi, Redha sudah berkomitmen dengan seseorang. Hal lainnya adalah Hasna sahabatku sangat menyukainya. Dan lagipula Redha sama sekali bukan tipe-ku. Sudahlah.
Kutepis dan kuhempaskan semua angan tentang Redha. Aku masih menyimpan harapan pada seseorang di masa laluku. Aku masih ingin menyimpan rasa ini. Minimal ini akan menjauhkanku dari angan terhadap Redha.
“Ms. Miaaaa…” sapa seorang anak sambil berlari ke arahku.
“Hai, Liaaa..” jawabku membalas dengan teriakan panjang yang sama. “Lia sudah makan?” sambungku meneruskan kalimatku ketika Lia sudah mendekat dan duduk di sampingku.
“Sudah, Ms. Ms kenapa matanya berkaca-kaca?” tanya Lia yang begitu peka.
“Oh, engga apa-apa. Mata Ms Mia terkena angin jadi agak sedikit perih dan berair.” jawabku menyembunyikan sedikit rasa yang menggangguku hingga membuatku berkaca-kaca tanpa kusadari.
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Saatnya kembali ke kelas. Aku dan Lia bersama-sama masuk menuju gedung utama. Kami berpisah di koridor, Lia masuk ke kelas 3A sementara aku masuk ke ruang guru untuk mengambil perlengkapan mengajar.
“Ms. Mia, ada waktu sepulang sekolah nanti?” tiba-tiba suara Redha mengagetkanku.
“Oh, ada apa ya, Mr?” tanyaku dengan keheranan dan kembali bersikap formal layaknya partner kerja profesional.
“Kita hangout yuk?” ajak Redha dengan senyum merekah di bawah kacamatanya yang minus 4.
“Wow, mau kemana kita?” tanyaku mencoba untuk antusias.
“Kita pergi bareng Arin dan Hasna.” tutur Redha.
“Oh, baiklah kalau begitu. Aku ikut!” jawabku tiba-tiba bersemangat.
Setelah beberapa kejadian ini, aku menjadi canggung dengan Redha. Aku merasa benar – benar harus menjaga jarak dengannya. Banyak faktor yang membuatku berpikir dua sampai tiga kali untuk dekat dengan Redha. Redha memang sangat perhatian. Namun aku menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar berhubung Redha memang terbiasa bersikap seperti itu pada semua orang. Aku harus menguatkan hati. Bukan karena Hasna atau orang lain. Aku hanya tak ingin terbuai dan terlena dengan sesuatu yang hanya ada dalam imajinasiku sendiri. “You can do this, Mia!”, ucapku dalam hati.