Redha Arya Nugraha adalah tipe laki – laki metroseksual yang selalu tampil rapi, dengan gaya rambut kekinian, pakaian stylish dan kulit bersih yang sangat terawat. Kacamata minus 4 yang selalu dikenakannya tidak membuat esensi ketampanan versi dirinya berkurang sedikitpun malah justru menjadi ciri khas yang tidak dimiliki semua guru laki – laki yang ada di SD Global Champion. Postur yang cukup ideal serta cara bicara yang santun menjadi salah satu daya tarik terutama bagi para orangtua siswa. Beberapa bahkan mengatakan Mr. Redha adalah aset sekolah yang berdaya jual tinggi.
Hari itu Redha nampak terlihat segar dengan kemeja biru pastel dan dasi senada yang terlilit di leher jenjangnya dipadukan dengan celana slim fit andalan yang membuatnya terlihat sangat modis. Rambut lurus yang tersisir rapi disertai poni lempar yang sedang nge-trend di kalangan anak muda membuatnya sangat berbeda dari semua mahkluk yang ada di sekolah itu. Ya, hanya Redha satu – satunya guru laki – laki yang sangat memperhatikan penampilan di sekolah.
Saat istirahat siang, aku dan Hasna berbincang sambil menikmati waktu senggang di ruang guru. Tak berapa lama, Redha datang dengan wajah kusut yang kukira imbas dari rapat komite sekolah yang baru saja berakhir. Belakangan, setiap kali ada pertemuan dengan komite sekolah, Redha selalu nampak tertekan. Entah apa yang terjadi di ruangan rapat tersebut. Seringkali, Redha melampiaskan rasa yang mengganggunya itu dengan mengajak kami makan di luar, pergi ke toko buku atau bahkan menonton film seorang diri di bioskiop. Semua itu ia lakukan sebagai bentuk pelarian dari semua kelelahan karena beban yang ditanggungnya sebagai guru dan juga wakil kepala sekolah.
Ia menaruh ponselnya dengan agak kasar di meja kerjanya yang posisinya tak jauh dari tempat kami berbincang. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia menggulung lengan bajunya untuk sedikit membebaskan ruang geraknya dan berlalu begitu saja.
Kami yang keheranan awalnya tak begitu mengindahkan pemandangan tersebut. Namun, Hasna yang diam – diam menaruh rasa pada Redha cukup terbawa suasana. Bukan karena melihat Redha bersedih namun karena ia tak mendapat kesempatan mengobrol atau bertegur sapa dengan laki – laki tersebut. Hal itu membuatnya sedikit kecewa.
Hasna melangkah mendekati meja kerja Redha dan mengambil ponsel Redha yang tergeletak begitu saja. Ia menekan tombol menu dan membuka fitur w******p. Hasna terlihat fokus membaca sebuah pesan yang terkirim dari ponsel tersebut. Sementara itu, aku yang terduduk sendiri mencoba mengisi waktu dengan membuka beberapa buku pelajaran yang ada di hadapanku. Tiba – tiba saja Hasna memanggilku dengan pandangan masih terfokus pada ponsel milik Redha yang dipegangnya sedari tadi. Hasna memberikan ponsel tersebut dan memintaku membacanya.
“Lihat ini!” ucap Hasna seraya menyodorkan ponsel tersebut.
Kuambil dan perlahan kuperhartikan setiap kata yang terkirim dalam sebuah pesan dari seseorang bernama Chika.
“We’ve been through so many days with joys and blessing. I was so thankful for what you did for us. Now, it seems that this long-distance relationship couldn’t match us anymore. We’ve come to an end. Hope that you find someone else better than me. Thank you.”
(“Kita sudah melalui hari-hari indah bersama. Aku sangat berterimakasih atas apa yang sudah kamu lakukan untuk kita. Sepertinya hubungan jarak jauh ini tidak lagi cocok untuk kita berdua. Kita sudah sampai pada titik akhir dari kebersamaan ini. Semoga kamu mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Terima kasih.”)
“Wow! Apa ini?” tanyaku dengan sedikit kaget.
“Ini pesan dari Chika. Nampaknya mereka putus.” papar Hasna yang turut bersedih membaca pesan tersebut.
“Kasihan Redha. Dia pasti terpukul banget.” sambungnya dengan wajah yang lebih sedih dari sebelumnya.
“Oh, jadi ini yang bikin Redha nampak kusut banget ya. Hmmm, kasihan sekali.” gumamku yang agak bingung bagaimana harus merespon situasi ini.
Hasna turut menunjukan kesedihan yang dalam. Ia merasa dirinya adalah bagian dari Redha. Meski ada secercah harapan yang kini muncul di benaknya. Namun tak bisa dipungkiri ia sangat prihatin atas apa yang menimpa Redha.
Setelah beberapa saat, kami segera meletakkan kembali ponsel milik Redha dan menjauhi mejanya berusaha agar Redha tak mengetahui apa yang kami lakukan. Kami masih duduk dan menunggu sebelum pulang. Kali ini kami tak bersegera pulang seperti biasanya karena khawatir dengan kondisi Redha yang baru saja patah hati.
“Kalian masih di sini?” tanya Redha yang tiba – tiba muncul di belakang kami.
“Eh, i.. iya, Mr. Kami belum pulang.” jawabku yang agak kikuk karena merasa bersalah telah mengintip pesan dari ponsel miliknya.
“Yuk, kita pulang. Udah sore.” tukasnya sambil segera membereskan barang – barangnya.
“Redha, kita makan dulu yuk sebelum pulang?” tiba – tiba Hasna mengajak untuk pergi ke sebuah café langganan kami.
“Er, baiklah.” jawab Redha terlihat aneh namun sepertinya ia tak mau banyak berpikir.
Sementara itu, aku memutuskan untuk tidak banyak bicara pada Redha namun seperti biasa tetap membuntuti di belakang motor Redha yang melaju dengan lebih pelan dari biasanya. Kesedihan itu begitu nyata, sepertinya mesin motor Redha pun mendadak tidak bertenaga. Pepohonan di kiri dan kanan jalan pun melambai dengan lemas seolah mengetahui apa yang baru saja menimpa Redha.
Sesampainya di Café, kami memesan menu favorit kami. Hasna terlihat lebih perhatian dari biasanya. Ia mencoba memulai pembicaraan dengan Redha namun sia – sia. Redha tak banyak merespon obrolan Hasna. Redha terkesan sedang asyik dalam lamunannya sendiri. Ia mungkin tak mendengar apa yang aku dan Hasna bicarakan. Aku paham dengan hal tersebut dan membiarkannya seperti itu sampai akhirnya kami menyelesaikan acara makan sore itu. Tak ada pembahasan mengenai pesan yang dikirimkan Chika untuk Redha. Kami berpura – pura tidak tahu tentang hal itu terlebih karena aku tidak mau disalahkan karena telah mengintip pesan tanpa seijin pemiliknya.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena hari hampir petang. Aku memboncengi Hasna yang terlihat kecewa karena usahanya untuk menghibur Redha gagal. Sementara itu, Redha mengambil jalur yang berbeda dengan kami yang menunjukkan dengan jelas bahwa ia sedang tak ingin diganggu oleh siapapun.
“Mi, Redha marah ya sama aku?” celetuk Hasna tiba – tiba.
“Marah kenapa? Dia Cuma sedang sedih.” jawabku sambil memegangi stang motor.
“Kok, malah jadi aku yang ngomong sendiri ya? Kenapa sih dia ga merespon?” tanya Hasna dengan kecewa berat.
“Gini, Has. Aku pernah baca buku tentang kepribadian antara pria dan wanita.” kalimatku terputus karena menyeimbangkan kembali motor yang sedang melaju cukup kencang.
“Laki – laki itu kalau sedang sedih dia akan menyendiri selama beberapa waktu sampai kesedihannya hilang. Dia ga akan membiarkan orang lain mengganggunya. Berbeda dengan kita, perempuan, yang harus curhat dan mengeluarkan unek – unek yang ada di hati. Gitu, Has.” paparku yang memang sedikit gemas dengan tingkah Hasna .
“Oh, jadi yang tadi aku lakukan itu salah ya?” tanya Hasna masih kebingungan.
“Ya engga sepenuhnya salah sih. Tapi lain kali mending kita biarkan Redha pergi sendiri aja. Beri dia ruang dan waktu untuk self-healing.”
Hasna tak lagi menjawab paparanku. Namun sepertinya pikiran kami saat itu masih menerawang memikirkan keadaan Redha yang kondisinya cukup mengkhawatirkan.