9. Menyusul Chika

1049 Kata
Kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang tersembunyi. Terasa perih namun tak menunjukan tingkat keparahan yang berarti. Hanya si penderita yang merasakan pedihnya luka itu seorang diri. “Bu, aku ijin mau berangkat ke Tangerang.” ucap Redha seraya menaruh tas punggungnya di sofa ruang tengah. “Lho. Mau ketemu siapa di Tangerang?” tanya wanita setengah baya yang sangat menyayangi anak tunggalnya itu. “Chika, Bu.” jawab Redha dengan lemas. “Chika sakit?” tanya ibu yang memberi isyarat khawatir akan kondisi anak laki – lakinya yang tidak biasa tersebut. “Chika...” Redha menelan ludah karena tak sanggup meneruskan kalimatnya. “Chika ingin semuanya selesai, Bu.” akhirnya dengan sisa kekuatan yang ada Redha mengucapkan kalimat yang sama sekali tak ingin keluar dari mulutnya. “Apa? Kenapa tiba – tiba sekali?” tanya ibu yang semakin penasaran. “Aku juga tidak tahu. Makanya aku mau memastikan alasan Chika. Aku berangkat malam ini ya, Bu. ” gumam Redha sambil berlalu pergi ke kamarnya yang terletak di ruangan paling pojok rumahnya dan meninggalkan ibunya yang tertegun dan tak bisa berkata – kata. *** Waktu menunjukan lewat tengah malam. Angin berhembus menyalurkan udara malam yang dingin ke seluruh tempat di terminal bus di kota itu. Redha memilih sebuah bus jurusan Tangerang yang akan membawanya menemui Chika. Hanya terlihat ada beberapa penumpang saat Redha naik tadi sehingga ia harus menunggu selama hampir 1 jam sebelum akhirnya bus pun berangkat. Redha mencoba terlelap dan melupakan Chika untuk sesaat karena besok ia harus melakukan beberapa hal penting untuk masa depannya dengan Chika. Ia merasa bahwa ia harus menabung energi untuk esok hari. Namun sia – sia, semakin ia mencoba untuk terlelap, bayangan Chika semakin jelas tergambar di benaknya. Perempuan yang selama hampir tiga tahun lebih berkomitmen dengannya kini harus rela ia lepaskan. Meski sebenarnya Redha mengetahui alasan Chika memutuskan hubungannya, namun ia tak akan menerima begitu saja keputusan Chika. Ia harus berjuang, minimal meyakinkan Chika bahwa dirinya pun selama ini berusaha untuk bisa selalu berada di sisi perempuan itu meski jarak memisahkan. Sekelebat, Redha teringat suatu masa saat dirinya baru saja membeli sebuah buku diari untuknya dan Chika. “Mulai sekarang, kita tulis semua hal yang kita lalui di buku diari ini sehingga kita bisa saling bercerita.” ucap Redha pada Chika beberapa tahun lalu saat mereka masih duduk di bangku kuliah. “Oh, ya. Baiklah. Kalau begitu biar aku yang mendapat giliran pertama ya.” tukas Chika dengan wajah kemerahan seraya menerima sebuah buku diari yang baru saja dibeli oleh Redha. Kenangan yang begitu manis untuk dilupakan. Meski pada akhirnya isi buku diari itu lebih banyak ditulisi oleh tangan Chika. Namun Redha sangat menikmati setiap torehan pena yang menceritakan kegiatan dan perasaan Chika saat itu. Redha menghela nafas dan kembali mencoba terlelap. Kali ini, kenangan yang muncul adalah tentang sebuah rekening yang mereka buat bersama setelah saling berkomitmen untuk menjaga hati satu sama lain. “Di sini tertera tanda tangan kita berdua. Semoga kelak bisa kita ambil uangnya bersama-sama juga ya.” ucap Chika sambil tersenyum manis. “Iya, tentu saja. Kita akan cairkan uangnya bersama – sama kalau menikah nanti.” balas Redha sambil tersenyum bahagia. Wajah Chika yang tersenyum manis memudar dan menghilang digantikan oleh sebuah momen kelulusan dimana keduanya terduduk dan mengambil foto selfie, atau wefie lebih tepatnya, di sebuah aula besar diantara ratusan bahkan ribuan wisudawan dari berbagai kampus daerah. Chika yang mengenakan kerudung hijau satin dipadukan dengan ikat kepala keemasan dengan aksen bunga – bunga nampak terlihat lebih cantik dari biasanya meskipun kebaya indah yang dipakainya tertutupi oleh jubah toga yang lebar menutupi sebagian besar tubuh Chika. Make up tipis yang ia poleskan di wajahnya membuat penampilannya hari itu bak bidadari di mata Redha. Tak ada yang menandingi kecantikan Chika kala itu menurutnya. Redha dan Chika akhirnya bisa mengumumkan pada dunia bahwa mereka memiliki ikatan satu sama lain setelah menyimpannya sekitar tiga tahun lamanya. Dahulu, keduanya selalu menyembunyikan ikatan diantara mereka. Namun, rasanya kini mereka sudah lebih leluasa untuk berjalan bersama tanpa ada rasa khawatir diketahui orang lain. Hal ini terlebih karena mereka sudah lulus kuliah. Hubungan antara Redha dan Chika tidak pernah diawali oleh sebuah kata bahkan janji manis dari mulut keduanya. Semua berjalan mengalir seperti air. Dengan frekuensi pertemuan yang tinggi karena keduanya sangat aktif dalam organisasi di himpunan kemahasiswaan, komitmen itu pun terjalin. Mereka tidaklah saling mengikat satu sama lain namun mereka berkomitmen kelak jika sudah saatnya mereka akan melabuhkan niat mereka di pelaminan. Selepas acara seremonial di aula kampus, Redha mengajak Chika bertemu dengan kedua orangtuanya. Itu merupakan kesekian kali Chika bertemu dengan orangtua Redha. Hubungan Chika dan keluarga Redha memang cukup dekat. Chika yang pandai mengambil hati sang calon ibu mertua tentu saja bak gayung bersambut. Penerimaan keluarga Redha terhadap Chika sangatlah baik. Seringkali Chika membawakan oleh – oleh setiap kali habis pulang dari Tangerang tak lupa juga hadiah ulang tahun berupa tas mewah dan hijab eksklusif dihadiahkannya untuk sang calon ibu mertua. Setelah mereka menemui orangtua Redha, Chika pun melakukan hal yang sama. Ia mengajak Redha bertemu dengan keluarganya yang datang jauh – jauh dari Tangerang. Keluarga Chika pun sangat menyambut baik kehadiran Redha di tengah – tengah mereka. Hanya saja satu hal yang kurang dari momen tersebut yakni tidak adanya pertemuan antara kedua keluarga Redha dan Chika. Seutas kecewa tersirat di wajah ibunda Chika saat itu. Tapi apa boleh buat mereka hanya bisa menunggu ajakan dari Redha untuk berkumpul bersama sebagai momen perkenalan dua keluarga yang tak kunjung terucap. Sampai di sini Redha baru menyadari kelalaiannya saat itu. Sama sekali tak terpikirkan untuk mempertemukan kedua keluarga mereka hari itu. Tapi semua sudah berlalu, yang bisa dilakukan kini adalah membuat kepastian akan hubungannya dengan Chika. Ia harus siap dengan segala alasan yang akan disampaikan Chika nanti. Semua kenangan itu sungguh sangat menyiksa. Entah sudah berapa lama mereka tak bertemu. Belakangan pesan via w******p atau telepon pun sangat jarang mereka lakukan. Mungkinkah Chika marah dan menyerah dengan hubungan jarak jauh ini? Apakah aku bersalah atas kejadian ini? Ah, rasanya tidak. Aku selalu berusaha untuk menghubunginya meski tidak dapat kupungkiri beban kerjaku saat ini sangat tinggi dan banyak menyita waktuku. Jangankan untuk diriku sendiri, untuk sekedar berbincang dengan keluarga di rumah saja sulit kulalukan. Harusnya Chika mengerti hal ini. Sekelumit tanya muncul di benak Redha hingga akhirnya membawa dirinya terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN