Kesetiaan dan penantian akan diuji dalam sebuah hubungan. Harmonisasi antara pilihan, keyakinan dan usaha akan terbukti seiring dengan berjalannya waktu. Begitu pula dengan kenyataan yang dialami Redha selepas Chika memutuskan hubungan dengan dirinya.
Redha tersentak dan terbangun dari tidurnya. Rasanya ia baru saja terlelap namun ketika melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi. Ia melihat sekeliling, beberapa penumpang berjalan turun sambil membawa barang bawaannya. Beberapa masih terlelap dan menunggu dibangunkan oleh kondektur bus.
Sudah sampai rupanya, gumam Redha pada dirinya sendiri. Segera ia mengambil tas selempang dan menyisir rambut poninya dengan jemarinya yang panjang bak jari pianis. Ia menuruni tangga bus dan berjalan ke tepi terminal. Matanya menyisir semua tempat di terminal dan mencari sebuah tempat bertuliskan mushola. Ia berjalan perlahan sampai pada akhirnya menemukan tempat yang ditujunya.
Setelah mengambil air wudhu, Redha menunggu beberapa saat untuk menunaikan sholat shubuh berjamaah. Setelah itu, ia terduduk sebentar sambil memainkan ponselnya. Tak ada siapapun yang mengetahui keberangkatannya ke kota itu. Ia berpikir dan mencari alasan yang tepat untuk meminta ijin tidak masuk hari itu.
Sehari sebelum keberangkatan, sebenarnya Redha sudah meminta ijin kepada kepala sekolah untuk tidak hadir keesokan harinya. Redha dengan jujur mengatakan rencana yang akan dilakukannya pergi ke luar kota.
Mendengar hal itu, kepala sekolah mengijinkan Redha bahkan berniat untuk menemani Redha mendatangi rumah keluarga Chika. Setelah berpikir ulang, Redha dengan halus menolak tawaran tersebut karena ia belum tahu pasti apa yang akan terjadi nanti.
Akhirnya ia menemukan rangkaian kata yang pas untuk bisa dikirimkan kepada kepala sekolah melalui fitur psean singkat pada ponselnya.
Setelah pesan terkirim, ia kembali tertegun dan memandangi kembali pesan Chika yang ia terima kemarin. Menyakitkan. Rasa pedih itu muncul kembali namun semangat untuk mengakhiri kepenasaranannya jauh lebih tinggi. Ia mencoba mengirim pesan pada Chika dan meminta alamat lengkapnya.
Dalam resah gelisah akhirnya terdengar nada pesan masuk dari ponsel miliknya. Segera ia buka pesan yang ia tunggu sedari tadi. Namun sayang Chika tidak memberikan alamatnya kepada Redha. Redha tidak bisa menunggu lagi. Segera saja ia menekan tombol “panggil” pada nomor kontak Chika.
Beberapa saat ia menunggu sampai akhirnya Chika menjawab teleponnya.
“Chika, aku sudah di terminal. Mari kita bertemu!” ajak Redha dengan suara bergetar.
“Apa? Kamu di Tangerang? Untuk apa lagi?” jawab Chika terkaget – kaget,
“Kita bertemu langsung. Ijinkan aku ke rumahmu.” pinta Redha dengan agak memaksa.
Mendengar ucapan Redha yang sungguh – sungguh, akhirnya Chika pun membiarkan Redha mendatanginya. Redha senang bukan main. Setidaknya masih ada secercah harapan yang bisa ia usahakan. Dari terminal, ia segera mencari angkutan umum menuju komplek perumahan dimana Chika tinggal.
Sekitar pukul 5.30 pagi, sebuah angkutan umum yang membawa Redha berhenti tepat di sebuah perumahan bernama Perumahan Griya Asri. Di sana sudah ada seorang perempuan terduduk di atas motor yang dikendarainya yang tidak lain adalah adik Chika yang menunggu untuk menjemput Redha. Redha pun menyapanya dan segera berangkat menuju rumah sang kekasih pagi itu.
Perasaan rindu bercampur resah, hati yang berdebar lebih kencang dari biasanya turut menwarnai pagi Redha kala itu. Sesampainya di rumah Chika, ia melepas sepatunya dengan perlahan kemudian duduk di sebuah sofa di ruang tamu. Belum terlihat tanda – tanda Chika akan muncul. Tak lama berselang, ibunda Chika dengan perawakan mungil dan senyum yang ramah menyambut kedatangan Redha di rumahnya.
“Sudah sarapan, Nak Redha?” tanya wanita yang merupakan ibunda Chika itu.
“Belum, Bu. Tadi ketika sampai saya bersegera kemari.” jawab Redha dengan lembut mencoba menyembunyikan perasaannya.
“Kalau begitu, yuk ikut sarapan! Ibu buat nasi goreng pagi ini. Coba bilang mau ke sini, nanti ibu siapkan menu untuk Nak Redha.” ajaknya masih dengan ramah.
“Tidak usah repot – repot, Bu!” Redha menolak halus ajakan ibunda Chika.
“Tidak apa – apa, yuk sama – sama! Sebentar lagi Chika turun ko.” ajaknya sekali lagi.
Mendengar hal tersebut, Redha berubah pikiran. Ia menuruti ajakan ibunda Chika untuk sarapan bersama. Benar saja, tak lama kemudian wanita yang ditunggunya muncul di hadapannya. Dengan ragu, Redha berdiri dan menyapa Chika yang nampak sudah siap dengan setelan mengajarnya. Tidak ada banyak waktu rupanya, pikir Redha. Ia harus memanfaatkan waktu yang ada untuk bicara dengan Chika.
“Hai, Chik..” sapa Redha dengan mata berkaca – kaca.
“Hai.” jawab Chika dengan dingin.
Chika menyiapkan piring makan dan menuangkan nasi goreng buatan ibunya ke atas piringnya juga Redha. Kemudian ia menaruhnya di depan Redha yang kembali terduduk. Sementara itu, ibunda Chika memahami situasi yang kaku tersebut. Ia segera berpamitan keluar untuk menyiram tanaman di depan rumahnya.
Redha kemudian memulai pembicaraan.
“Bagaimana harimu belakangan ini?” tanya Redha mencoba mencairkan suasana.
“Tak ada yang istimewa. Semuanya berjalan seperti biasa.” jawab Chika tanpa ekspresi.
“Hariku sangat padat. Tak ada waktu untuk diriku sendiri, untung ada Mia yang membantu di sekolah.” gumam Redha yang tiba – tiba teringat Mia.
Mendengar itu, suapan Chika terhenti dan bertanya.
“Syukurlah, Mia membantu. Namun tetap saja padat harimu kan? Tak bisa kamu luangkan waktu untuk sekedar mengirim pesan, bukan?” ucap Chika dengan sinis.
“Maafkan aku. Mungkin kau harus ikut ke Bandung supaya kita tidak begini.” balas Redha masih dengan mata berkaca – kaca.
Chika memalingkan muka kemudian berkata.
“Kenapa harus aku? Bukan kamu saja yang pindah ke sini!” jawab Chika dengan ketus.
“Aku hampir terlambat. Biar kuantar kau ke terminal sekalian aku pergi ke tempat kerjaku.” sambungnya seraya memebereskan peralatan makannya.
“Chika, jangan begini dong.” ucap Redha sedikit memelas namun Chika tak mengindahkan dan bersegera menelepon taksi.
Setelah taksi datang, Chika dan Redha berpamitan pada ibunda Chika dan juga adiknya. Mereka memasuki mobil jenis sedan tersebut. Mobil pun segera melesat pergi meninggalkan rumah itu.
Dalam perjalanan, Redha masih berusaha meyakinkan Chika namun sayangnya Chika saat itu terlalu enggan dan marah pada Redha.
“Apakah tidak ada kesempatan lagi untukku, Chik?” tanya Redha dengan suara parau.
“Kita sudah melalui perjalanan yang panjang. Tiga tahun lebih bersama saat kuliah ditambah satu tahun setelah lulus. Tidak ada perubahan dalam kebersamaan kita. Kita seolah semakin jauh dan tenggelam dalam rutinitas. Bila kita memang berjodoh, kita pasti akan bersama pada akhirnya. Namun, kali ini aku perlu waktu untuk berpikir jernih. Aku rasa kaupun memerlukannya.” papar Chika kali ini dengan lebih tenang.
“Kita sudah sampai. Pergilah.” sambung Chika sambil memalingkan wajahnya yang kini nampak bersedih dan berkaca.
“Baiklah, kalau itu maumu. Aku pergi.” jawab Redha dengan sendu dan juga berkaca – kaca.
Redha menutup pintu mobil sedan tersebut dan membiarkan bayangan Chika dari dalam mobil berlalu di hadapannya. Hanya itu yang bisa ia upayakan hari itu. Redha tidak merasa sepenuhnya bersalah atas apa yang terjadi. Ia tidak menerima dirinya menjadi satu – satunya penyebab kandasnya hubungan yang telah dibinanya selama 4 tahun bersama Chika.
Redha berbalik dan dengan langkah gontai berjalan menuju salah satu bus yang akan membawanya pulang ke Bandung. Hati yang pilu menyatu padu dengan awan kelabu yang bergelayut manja di langit pagi itu. Baiklah, Chik kalau itu maumu. Berpikirlah sesukamu. Jernihkan pikiranmu. Aku akan menunggu saat kau yakin dengan hatimu. Aku akan menunggumu.