11. Pedophobia

1236 Kata
Sesuatu yang berasal dari pikiran bawah sadar tentang ketakutan yang divisualisasikan dalam kehidupan nyata jelas berdampak pada kondisi psikologis bahkan fisik seseorang. Beberapa waktu lalu, aku baru mengetahui ternyata ada sebuah kelainan dimana ketakutan yang berlebihan atas sebuah objek tertentu bisa sangat mengganggu kondisi psikologis bahkan muncul ke dalam berbagai gejala fisik. Arin namanya. Ia adalah partner mengajarku di sekolah tempatku bekerja. Usianya sebaya denganku karena dulu kami juga merupakan teman satu kelas saat kuliah, sama seperti Redha dan Hasna. Arin lebih dulu melamar posisi sebagai guru di tempat itu. Kemudian tidak berapa lama, ia merekomendasikanku kepada Redha yang saat itu sudah menjabat sebagai wakil kepala sekolah dikarenakan sekolah masih kekurangan guru untuk mengisi beberapa posisi seperti guru mata pelajaran dan wali kelas. Arin adalah sosok gadis manis yang mempunyai prinsip hidup yang kuat, ia tak mudah terombang-ambing dengan arus kehidupan yang menerpa. Ia juga merupakan seorang teman yang sangat baik namun juga seorang guru yang tegas, bisa dikatakan cukup galak pada saat mengajar di kelas. Suatu hari setelah selesai mengajar di sesi pertama, bel pun berbunyi. Arin masuk ke ruang guru dan terduduk di mejanya dengan ekspresi tak biasa. Wajahnya memerah dan sesekali ia menutup mulutnya seolah akan memuntahkan sesuatu. Aku mendekatinya karena melihat pemandangan tak biasa tersebut. “Miss Arin sedang sakit?” tanyaku seraya menyentuh bahunya. “Entahlah, belakangan aku merasa tidak enak badan. Mungkin masuk angin.” jawabnya sambil menahan diri untuk muntah. “Kalau merasa tidak enak badan, lebih baik istirahat saja di rumah, Miss.” “Aku masih ada satu sesi mengajar lagi, mungkin setelahnya aku akan pulang.” Ia memaksakan dirinya menimpali saranku. Mendengar hal tersebut segera kuambil gelas dan kubuatkan teh manis hangat untuknya. “Semoga rasa mualnya segera hilang. Minumlah!” kusodorkan teh manis hangat tepat dihadapannya. Segera saja Arin meminumnya dan kembali menundukkan kepalanya ke meja. Aku membiarkan Arin tertunduk di mejanya dan kembali mencetak soal ulangan untuk sesi mengajar berikutnya. “Hei, Miss Ariiin… kenapa? Sedang kurang sehat ya?” sapa sebuah suara dengan penekanan dan logat yang khas. “Hi, Red” jawab Arin dengan lemas dan terbiasa berbahasa non formal dengan Redha. “Seperti yang kau lihat.” jawab Arin melanjutkan sambil tersenyum memaksakan diri. “Istirahatkan, Miss… mengajarnya besok lagi saja.” “Ah, tidak apa-apa. Cuma tinggal satu sesi lagi ko.” Tidak berapa lama bel pun berdering, semua guru tak terkecuali Arin bersiap kembali ke kelas. Aku berlari mengejarnya berhubung ruang kelas tujuan kami bersebelahan. Sebelum masuk ke ruangan, aku menahan langkahku sebentar dan menoleh ke arah Arin yang juga sedang berdiri di ambang pintu. Ia memejamkan mata dan terlihat menarik nafas panjang berkali-kali kemudian mengambil langkah maju dan tak terlihat lagi. “Bruk” suara pintu kelas yang tertutup sedikit mengagetkanku yang tertegun sedari tadi karena memperhatikan Arin. Segera kulangkahkan kaki, masuk ke dalam kelas tujuanku. “Greet to the teacher” teriak seorang anak laki-laki dengan lantang sementara yang lain merespon dengan mengucapkan salam dengan serentak. “All right, class. Today, we’re going to have a test. Make yourself ready, then. Only stationery on your table, please!”. Anak – anak segera menuruti perintahku. Tanpa diinstruksikan, mereka mengatur jarak masing-masing. Beberapa menit berlalu, beberapa anak bertanya tentang instruksi dan soal yang kurang mereka pahami. Hanya terdapat 14 anak dalam satu kelas tersebut. Hal ini membuatku lebih mudah untuk memperhatikan tingkah mereka saat ulangan. Ada yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa mau diganggu oleh teman di sebelahnya yang memelas memohon jawaban. Ia memposisikan buku – buku seolah berdiri menutupi sisi kiri dan kanan mejanya. Ada juga yang saling memberi kode yang kemudian tersadar bahwa aku sedang memandangi mereka. Kuberikan tatapan tajam dan mengarahkan jari telunjuk ke arah mereka pertanda aku mengawasi tingkah laku mereka. Kedua anak tersebut tersenyum dan segera memperbaiki posisi duduk mereka. Ada pula yang terlihat gusar dan terus bertanya meski rasanya instruksinya sudah kujelaskan berulang kali. Hingga tiba-tiba, kami dikagetkan oleh sebuah teriakan seorang perempuan dari luar kelas. Aku sontak berlari ke arah pintu dan menariknya dengan kasar diikuti oleh anak-anak yang secara refleks mengikutiku dari belakang. Mereka berkerumun, setelah kudekati terlihat sosok Arin yang bersimpuh di depan kelas dan terlihat lemas hampir tak sadarkan diri. Beberapa guru berdatangan termasuk Redha. Ia memberiku kode untuk memapah Arin masuk ke sickbay room, semacam ruang UKS di sekolah. Aku dibantu seorang guru perempuan bernama Miss Purnama yang segera menjalankan instruksi tersebut. Beberapa guru yang sedang tidak ada kelas pun ikut membantu mengkondisikan anak-anak untuk kembali belajar. Dengan perlahan kami merebahkan tubuh Arin di atas tempat tidur di ruang UKS. Miss Purnama membawakan air putih hangat yang segera diminum oleh Arin setelah sadarkan diri. “Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi.” gumam Arin. “Sudah kubilang, Miss Arin harusnya pulang sedari tadi. Jangan memaksakan diri.” mendengar saranku, Arin langsung terdiam. Arin mulai gelisah, ia menggaruk beberapa kali di tangan dan kakinya sambil seolah menahan rasa mual yang menguasainya. Ia meminta ijin untuk ke toilet. Tidak berapa lama, ia keluar dari toilet dan kali ini terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Arin kemudian menuruti saranku untuk segera pulang. “Miss Arin mau pulang sekarang? Aku antar ya, kebetulan aku juga searah dengan Miss hari ini.” ajak Ms Purnama menawarkan diri. “Oh, begitu ya. Baiklah, Miss Pur.. terimakasih.” jawab Arin sambil kali ini menggaruk bagian punggungnya. Aku mengantarkan keduanya sampai di gerbang depan sekolah. Setelah itu, aku berbalik dan mendapati seorang anak kelas 2 yang tadi berada di kelas Arin beberapa saat sebelum kejadian. “Hey, Kak.. sini sebentar!” dengan sedikit usaha agar suaraku bisa didengarnya berhubung jarak yang agak jauh diantara kami. “Iya, Miss. Ada apa?” jawab anak laki-laki dengan perawakan tinggi dan kurus namun terlihat bijaksana tersebut. “Apa yang terjadi di kelas Miss Arin tadi? Bisa kamu jelaskan kenapa Ms Arin bisa berteriak dan berhambur keluar kelas seperti tadi?” tanyaku agak sedikit mencecar anak tersebut dengan pertanyaan. “Oh, itu… Miss Arin kaget tadi.” “Kaget kenapa?” tanyaku penasaran. “Ijlal dan Puji bertengkar di kelas karena penghapus Puji hilang” ucap anak yang kemudian dipanggil Raffa tersebut. “Lalu Miss Arin bisa kaget karena apa? Toh kan hanya melerai temanmu itu kan?” selidikku semakin tak bisa memahami kondisi yang coba dijelaskan oleh Raffa. “Aku tidak tahu pasti, Miss. Tapi Puji menangis sejadinya setelah dilerai dan memeluk Ms Arin. Entah kenapa Ms Arin tiba-tiba terjatuh ke lantai dan berusaha merangkak menuju ke arah pintu.” papar Raffa. “Merangkak?” tanyaku sambil mencoba membayangkan sosok tegas Arin ketika di kelas yang tiba-tiba ambruk dan merangkak tak berdaya menuju pintu untuk berusaha keluar. “Iya, Miss..teman-teman semuanya kaget bahkan ada yang berteriak menyebut Miss Arin Suster Ngesot”, jawab ijlal sambil nyengir. Sambil sedikit menahan tawa, aku melanjutkan pertanyaanku. “Lho, kenapa ya? Apa Puji terlalu keras berlari hingga seolah menabrak Miss Arin?” “Tidak, Ms. Puji berdiri dekat Ms Arin sewaktu dilerai.” papar Raffa melanjutkan. Karena Raffa sepertinya tak menjawab rasa penasaranku aku kemudian membiarkannya pergi. “Baiklah, Raffa..terimakasih banyak ya. Kak Raffa boleh pergi.” Kemudian Raffa berlalu meninggalkanku dalam kepenasaranan tentang Arin. Arin ambruk dan menghindari Puji? Mengapa cerita yang dikatakan oleh Raffa baru saja menunjukan seolah Arin tidak ingin didekati oleh Puji? Tapi mengapa harus sampai se-ekstrim itu? Bermacam pertanyaan tentang kejadian yang baru saja dialami oleh kawan dekat Mia tersebut membuatnya semakin penasaran. Ada apa dengan Arin sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN