Keesokan harinya, kudapati Arin sudah berada di sekolah seperti biasanya. Ia memang paling sigap di antara guru-guru lain. Meskipun menggunakan kendaraan umum, namun soal jam kedatangan ia selalu lebih awal dibanding yang lain. Arin tampak lebih segar dari biasanya, aku pun menyapa berbasa-basi menanyakan kondisinya. Setelah itu, kami berpisah karena aku mendapat giliran menyambut anak-anak di depan pintu utama. Hari itu sangat cerah, anak-anak diantar oleh orang tua mereka ke depan pintu gerbang disambut oleh para guru sambil tersenyum ramah dan berjabat tangan. Sambil menyambut anak-anak, terdengar Ms Purnama dan Redha membicarakan sesuatu dengan serius. Aku tak berusaha menguping namun kedengarannya mereka sedang membicarakan Arin. “Mr, sepertinya Ms. Arin harus menemui Psikolog. Kema

