Pagi yang cerah, Andreas menunggu kedatangan Sandra di ruangan pribadinya. Ia tak sabar menunggu cerita sekretarisnya itu saat bertemu Allea. Tidak ada yang Andreas pikirkan selain Allea dan ibunya saat ini, betapa pria itu ingin sekali menjumpai kekasihnya, tetapi entah mengapa nyalinya menciut dan ia merasa sebagai pengecut sekarang. “Aargh.” Andreas melipat kedua tangannya di belakang kepala dengan wajah mendongak menatap langit-langit ruangan. Ia seakan melihat wajah Arini di sana, tersenyum, tertawa, seperti kala itu saat-saat kebersamaan mereka. “Permisi, Pak.” Seorang gadis muncul di balik pintu, lalu melangkah tegap memasuki ruangan, ia memang sudah terbiasa keluar-masuk ruang kerja Andreas dan duduk di kursi kosong seberang meja. “Ah, Sandra, bagaimana pertemuan kalian kemarin

