“Aku seperti ranting tua yang rapuh, kapan pun bisa saja patah lalu jatuh ke tanah. Berderak, berserak, lalu secara perlahan mengurai menyatu dengan tanah. Itulah aku tanpamu, Arini, berpuluh tahun hingga rambut di kepala hampir putih menyeluruh.” Kedua mata Andreas masih bertaut dengan kedua mata Arini yang berbinar bahagia, mata bening itu dipenuhi air karena menahan tangis. Ia tak menyangka Andreas menderita jauh lebih menyakitkan dari dirinya. “Menemukanmu kembali seperti aku menumbuhkan pucuk ranting baru. Aku merasa hidup kembali sekarang, jauuhh lebih membahagiakan yang sebelumnya aku bahagia saat menemukan binar mata indah milik putrimu. Aku melihatmu di sana, di setiap ia menatapku, Arini. Kamu tahu seperti apa rasanya aku setiap kali ia muncul di hadapanku, aku merasakan kehadi

