“Hari Senin nanti, kamu sudah mulai bekerja di kantor saya, kamu mengerti ... Allea?” Alles mengangguk mantap, ia sudah menduga Wiranto Putra tak akan membiarkannya lepas begitu saja setelah semua biaya pengobatan ibunya pria itu selesaikan, setidaknya Allea merasa sangat berutang budi. “Satu lagi, di kantor, jangan pernah menganggap atau pun memanggil saya dengan sebutan ayah, panggil saya Tuan Wiranto Putra.” Penuh penekanan Wiranto mengajari Allea bagaimana cara memanggilnya, ia tak ingin orang-orang mengetahui kebenarannya bahwa Allea adalah putri kandungnya yang ia telantarkan sejak kecil, tidak lebih tepatnya sejak Allea dalam kandungan. Lagi-lagi Allea menganggukkan kepala, ia menyetujui semua keinginan Wiranto, pria gila hormat itu memang sengaja menemuinya hanya untuk memastika

