Sulit sekali ternyata mengendalikan diri dan emosi saat berada sedekat ini dalam satu ruangan. Atmosfer berbeda aku rasakan dan ini sangat menyesakkan, kata Ikhlas yang bisa aku ucapkan saat tidak bersama ternyata tidak semudah itu terucap saat dalam keadaan seperti ini. “Bisa!” Mas Danta meyakinkanku, diraihnya kedua tanganku yang berada di atas meja dan digenggamnya kemudian. “Kamu bisa, aku yakin itu.” Aku hanya mengangguk dan kemudian mengatur napas supaya bisa mengendalikan emosi dan menetralisir perasaanku. Aku tersenyum pada pria bermata sipit yang duduk di depanku, sebuah senyuman getir untuk sekedar menyamarkan rasa sakitku. Tidak lama berselang seorang perempuan paruh baya mengantar makanan yang tadi aku pesan. Dua mangkuk soto, satu piring berisi empal dan dua gelas teh hanga

