Jantungku berdetak tak beraturan dan berdegub semakin kencang saat ciuman lembut Mas Satria mulai mejadi sebuah cumbuan. Deru napas semakin memburu seiring pergerakan tangan dari suamiku itu yang mulai bergerak liar. Pertama kalinya aku merasakan sentuhan yang membuat hampir seluruh sarafku menegang. Cumbuan panas Mas Satria mematik hasrat naluriku sebagai seorang manusia yang mengingginkan hal lebih dari kebersamaan ini. Orang menyebutnya malam pertama, malam dimana dua insan bukan hanya menyatukan perasaan mereka akan tetapi, juga penyatuan raga dalam sebuah pemenuhan hak dan kewajiban. “Aku menciataimu,” bisik Mas Satria. Bibir Mas Satria menyentuh telinggaku membuat seluruh badanku meremang, begitupun saat bibir lembut itu mulai menyusuri leher dan tengkukku. Tubuhku benar-benar t

