"Maaf, Mbak. Kami sudah mau tutup." Seorang perempuan berkerudung biru tua menghampiri meja kecil yang terletak di sudut tenda, tempat aku duduk. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan benar sudah tidak terlihat pengunjung yang lainnya. Entah sudah berapa lama aku disini aku juga tidak tahu. Setelah berjalan cukup jauh dari klinik tadi aku berhenti dan masuk ke sebuah angkringan. Hanya memesan segelas wedang jahe dan kemudian duduk dengan pikiran yang entah kemana. Otakku sudah enggan untuk aku ajak berpikir lagi, sudah sangat lelah. Semua masih terasa seperti sebuah mimpi buruk dan aku berharap ini semua benar-benar hanya sebuah mimpi dan saat aku terbangun semua nya tetap baik-baik saja. Hanya saja ini bukan sebuah mimpi, ini benar-benar kenyataan. Pria itu yang tadi pagi menikahiku

