“Ran.” Tanganku terasa ada yang menarik, ternyata Mas Danta yang menarik tanganku. Mungkin karena aku tidak segera beranjak makanya sepupu abang Chand itu menarik tanganku. Aku melangkah ke belakang karena di Tarik oleh Mas Danta masuk ke dalam lift, pandangan mataku masih mengarah pada Mas Satria yang melihatku dengan tatapan berbeda. Mas Satria terhenti beberapa langkah saja dari lift yang akan membawaku turun. Sampai pintu lift tertutup Mas Satria tidak beranjak masuk padahal masih cukup. Mungkin dia akan ke lantai atas entahlah. “Kamu kenapa?” tanya Bang Chand padaku. “Kayak orang bingung gitu,” lanjutnya lagi. “Nggak … emm capek paling, Bang.” Aku tidak sepenuhnya mencari alasan, aku benar-benar capek. Terutama capek hati, yah … capek dengan sikap Mas Satria yang tidak bisa mengha

