“Assalamualaikum,” salam Mas Satria saat pria itu berdiri di hadapanku. “Waalaikumsalam, ada apa?” tanyaku masih dengan waja marah. “Aku menelponmu dari tadi,” jawab Mas Satria kemudian. Wajahnya terlihat tegang atau mungkin dia juga sedang lelah. “Iya aku tau,” jawabku kemudian, masih dengan hati kesal dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku itu. “Kenapa tidak di angkat?” tanya Mas Satria kemudian padaku. Mas Satria menatapku dengan tatapan tajam, ada rasa kesal juga dalam sorot mata itu. Sama halnya dengan yang aku rasakan sampai sekarang. Sepertinya suasana hati kami sedang sama sama buruknya. Aku menarik napas dalam mencoba menenangkan dan mengendalikan diriku sendiri. “Masuk dulu, nggak enak dilihat orang,” ucapku sambil beranjak. Sedari tadi kami masih sama-sama berdiri

