Langkah kaki yang terayun menjauh seolah seperti hatiku sekarang yang sedang belajar untuk merelakan setiap kepingan kenangan yang berserak berhambur diterpa angin dan kemudian menghilang. Berjalan ke depan untuk menyongsong masa depan menghempas segala kesakitan dengan pergi dari kehidupan mas Satria. “Mas,” sapaku sesampainya di dekat Mas Danta. Pria itu terlihat sedang fokus pada layar ponselnya dengan posisi menyandar ke mobil. “Hai, Sayang,” jawab Mas Danta langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel dan kemudian memasukkan ke dalam sakunya. “Rame,” ucapnya kemudian sambil menebar pandangannya ke sekeliling. “Alhamdulilah,” balasku dengan menyungging sebuah senyuman. “Ada masalah?” tanyanya tiba-tiba, Mas Danta memindai wajahku untuk sesaat. Aku tidak tau kenapa pria ini begitu

