Sebuah Kesepakatan

1405 Kata

"Kok malam, Pak?" Akhirnya tercetus juga apa yang ada dalam pikiranku. "Mana aku tau, kan bukan aku yang nentuin waktunya. Dah lepas Magrib kamu bersiap." Mas Satria langsung menutup panggilan telepon. "Siapa, Pak Satria?" tebak Wina yang masih duduk di depan mejaku. "Huum," jawabku singkat sambil meraih toples yang Wina bawa kemudian membuka tutupnya. "Kamu ngerasa nggak, kalau perlakuan dia ke kamu itu beda?" tanya Wina sambil mengangkat kedua alisnya. "Iya … marah mulu dia ke aku, semua-semuanya pasti salah. Mana ketus lagi … ish," gerutuku kesal. "Kalian kayak Tom sama Jerry. Awas … jangan kesel-kesel, ntar malah jatuh loh … jatuh sayang." Bukannya berempati, Wina justru menggodaku. "Wes tau," celetukku kemudian. "Apa?" Wina mendekatkan telinganya ke arahku. "Nggak … abaikan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN