“Baru akan?” tanyaku dengan rasa kesal yang masih sama. “Iya, aku minta maaf. Bisa kita naik sekarang? Kita bicarakan di mobil,” pinta Mas Satria padaku. Mas Satria membukakan pintu mobil untukku. Tanpa menjawab aku berjalan ke mobil dan masuk. Mas Satria menutup pintu mobil setelah memastikan aku duduk di kursi. Terlihat pria itu setengah berputar dan sesaat kemudian sudah duduk di balik kemudi. Aku masih terdiam tidak bicara sepatah katapun. Mobil mulai bergerak pelan dan meninggalkan area perumahan. Memasuki jalan raya langsung disambut padatnya kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Jam berangkat kerja memang jalanan pasti padat dan selalu ramai, meski tidak seramai hari biasanya karena hari ini akhir pekan. Mobil melaju perlahan dan terkadang berhenti karena macet. Pagi ini

