“Sudah ah Mas becandanya, itu sebuah hal yang sedikit sensitif untuk dibuat becandaan,” ucapku kemudian. Mungkin Mas Danta hanya ingin menghiburku saja atas kejadian tadi pagi. “Aku tidak bercanda, aku serius suka sama kamu,” balas Mas Danta dengan wajah yang memang terlihat serius. “Plis … ini nggak lucu,” ucapku lagi dengan bibir mengerucut, untuk sebuah gurauan ini sudah cukup jauh. “Aku serius dengan perasaan dan perkataanku. Aku ingin menikah denganmu, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku.” Mas Danta mendekat dan meraih kedua tanganku kemudian menggenggamnya. Aku terdiam dan merasa bingung atas semuanya, hal ini tidak aku pikirkan sebelumnya. Meski aku juga merasa ada yang berbeda dari sikap Mas Danta padaku. Tapi, sebuah pernikahan … itu masih sangat j

