[5 tahun yang lalu]
Kayden Zerga Kaltara bersama ayahnya melakukan pertemuan bisnis sekaligus makan malam di kediaman Arsenio Rilley—atau yang biasa dikenal sebagai Alley.
Mereka melakukan kerja sama untuk pembangunan pusat perbelanjaan terbesar di salah satu ibu kota yang ada di Kalimantan.
Sejak Kayden sampai hingga makan malam selesai, dia sama sekali tidak menemukan anak kecil yang pernah dia temui beberapa tahun lalu. Kayden izin ke teras belakang sebentar, berharap anak itu bersembunyi di kolong meja. Sayangnya, tidak ada.
Bukannya Kayden peduli, tetapi dia cukup penasaran. Setelah pertemuan singkat sore itu, mereka tidak pernah bertemu lagi karena Kayden langsung dikirim oleh ayahnya sekolah ke luar negeri dan belajar bisnis di sana. Dia baru kembali sekitar setahun belakangan.
"Kamu cari siapa, Kay?" Leo menegur putranya yang terlihat tidak tenang dan kurang fokus pada pembicaraan bisnis mereka.
Rahang Leo mengetat, cukup menjadi peringatan agar Kayden bersikap lebih sopan dan tidak membuatnya malu. Ini bisnis besar mereka setelah sekian tahun, Leo sangat berharap Alley tertarik dengan tawarannya.
Jika gagal hanya karena sikap Kayden tidak profesional, Leo akan menghajar anak itu sampai babak belur. Leo membesarkan Kayden untuk menjadi penerus keluarga, bukan hidup santai sambil menghabiskan hartanya.
"Saya izin ke kamar kecil."
"Silakan, Nak Kayden, ada di sebelah sana, ya." Alley tampak ramah, tidak merasa terganggu dengan sikap Kayden.
Tidak memedulikan tatapan Leo yang kian menghunus, Kayden tetap beranjak menuju kamar kecil di dekat tangga menuju lantai dua.
Kayden tidak benar-benar buang air, melainkan naik ke lantai dua. Dia melangkah pelan menyusuri setiap ruangan yang tertutup, beberapa bagian paling ujung cukup gelap karena lampunya dimatikan.
"Ada orang di sana?" tanya Kayden to the point, saat dia menyadari ada gelombang di balik gorden cokelat menuju balkon.
"Enggak ada."
Sayangnya, itu menjadi jawaban paling bodohh yang dilakukan Selina saat memutuskan bersembunyi.
"Kamu punya kebiasaan bersembunyi, ya?" Entah kenapa, Kayden selalu tertarik dengan momen ini, seperti terlempar pada kejadian beberapa tahun lalu pada pertemuan pertama mereka. "Di sana gelap, kamu tidak takut ada hantu?"
"Kamu pergi aja, jangan ke sini."
Lagi, Kayden tidak boleh ke sana.
Bukannya menurut, Kayden malah semakin mendekat. Kini jarak mereka kira-kira hanya satu meter saja.
Selina memunculkan sedikit kepala, menatap Kayden dalam kegelapan cukup lama. Tatapan itu sangat sulit Kayden baca, tidak tahu pemiliknya sedang senang atau sedih.
"Pergi!"
Saat tak sengaja melihat sesuatu tak beres pada wajah gadis itu, Kayden mengernyit bingung. "Mata kamu terluka?" Dia langsung menghidupkan senter pada ponselnya, berusaha melihat keadaan Selina secara jelas.
Selina buru-buru menutup dirinya dengan gorden lagi, menolak untuk dilihat oleh Kayden.
"Kamu aman bersama saya."
Dan ya, kalimat hipnotis itu lagi.
Genggaman Selina pada gorden melonggar, membuat Kayden mencuri gerakan lebih cepat untuk melihat keadaannya.
Kayden tak tahu harus bereaksi apa ketika melihat Selina dalam keadaan penuh memar di wajah maupun tubuhnya.
"Kamu habis jatuh?"
Selina menggeleng, menunduk cemas.
Seperti berkaca pada kejadian masa lalu, Kayden langsung paham. "Dipukul nenek kamu?"
Mata Selina melebar, kemudian membekap nulut Kayden dan memberi aba-aba agar dirinya diam.
"Kamu pergi, aku mau istirahat ke kamar. Jangan bilang papa apapun yang barusan kamu lihat."
Saat Selina ingin pergi, Kayden masih berusaha menghalanginya meminta penjelasan. "Kamu selalu menerima perlakuan buruk ini dan memilih diam saja?"
Selina mengangguk jujur. Mereka saling menatap cukup lama dan dengan jarak yang cukup dekat.
"Kamu tidak menangis?"
"Udah biasa."
Tidak sempat bertanya kenapa, Selina mendengar suara langkah neneknya dari ruang baca ujung lorong lantai dua. Dia panik, buru-buru keluar dari tempat persembunyian.
Tapi sebelum ke kamar, dia menggenggam tangan Kayden. "Kalau aku udah besar, ajak aku kabur dari sini, ya?"
Kayden tidak menjawab apa-apa.
"Aku suka kamu. Bawa aku pergi yang jauh. Aku bakal nurut sama kamu."
Setelah itu, Selina berlari tergesa-gesa meninggalkan Kayden yang mematung.
Ketika sadar, Kayden menggeleng. "Suka saya? Ck, bosan ingusan!"
***
[Masa sekarang]
Kayden sudah rapi dengan setelan kerjanya, mengecek beberapa dokumen penting yang harus dia tanda tangani sambil menikmati sarapan. Hari ini dia juga ada rapat bersama dewan komisaris hingga jam makan siang.
"Permisi, Tuan. Ada Nona Selina datang."
Arash Kalingga, sopir pribadi sekaligus tangan kanan Kayden. Dia masih muda, cerdas, dan tampan, kira-kira usianya lebih muda dari Kayden sekitar dua tahun.
"Datang lagi bocah itu?" Arash mengangguk. Kayden memutar bola matanya malas, helaan napas pun jadi berat.
Baru saja Kayden bertemu Selina di mimpinya, ternyata gadis itu kembali datang di dunia nyata untuk mengganggu ketenangannya.
Kayden tidak berniat membawa Selina kabur atau membalas perasaannya. Dia tidak tertarik dengan semua itu.
"Mau saya suruh pulang saja? Tapi dia datang membawa sesuatu untuk Anda."
"Apalagi yang dia bawa? Saya bisa jualan bunga jika terus-terusan dikasih tanaman setiap hari."
Arash terkekeh, mempersilakan Kayden untuk menemui Selina di ruang tengah. Sudah Arash peringkat lebih dulu agar Selina menunggu di sana saja, karena Kayden paling tidak suka diganggu saat makan.
"Calon suamiku!" Selina bangkit dari sofa, tersenyum lebar menyapa Kayden yang tampak memesona dan wangi semerbak. "Ganteng banget sih, jadi indah pemandangan pagi aku."
"Ada apa?" tanya Kayden malas.
Jika dulu Selina tak banyak omong, maka berbeda dengan sekarang. Dia sangat berisik dan Kayden tak menyukai hal itu.
Selina tidak memedulikan wajah masam Kayden. Dia tetap riang dan bersemangat. "Aku bawain kamu hadiah, kali ini beda. Aku udah tau kamu muak dikasih tanaman, jadi aku punya ide baru."
"Apa ini?"
"Buka dulu dong."
Selina membawa kotak yang cukup besar, sengaja dia tutup kain.
Malas meladeni tingkah absurb Selina, Kayden buka saja kain itu. Dan ya, dia maupun Arash cukup terkejut dengan sesuatu yang ada dalam kotak tersebut.
"Buat apa?" Kayden memicing, meski sebenarnya sudah bisa menebak niat Selina.
"Ini baby husky, buat kamu rawat. Lucu banget, 'kan? Mirip sama kamu."
Hanya Arash yang terhibur dengan tingkah Selina. Dia selalu tertawa jika gadis itu datang untuk mengacaukan Kayden.
"Kembalikan dia ke tempatnya, saya tidak bisa merawat hewan di sini."
Selina menggeleng cepat, menahan tangan Kayden yang akan pergi. "Jangan gitu dong. Lihat, baby husky-nya marah kamu tolak." Menunjuk ke anak anjing yang memang terlihat memberengut.
"Memang wajahnya seperti itu."
"Nggak mau tahu, pokoknya harus kamu rawat. Itung-itung latihan dulu sebelum nanti kamu punya bayi beneran sama aku."
Arash tersedak air liurnya, kemudian menghadap arah lain untuk tertawa. Dia puas sekali mendengar alasan Selina yang membuat wajah Kayden semakin ditekuk.
"Bocah ini!" geram Kayden geregetan. "Pulang sana, jangan mengganggu saya terus."
"Aku bukan bocah lagi. Umurku udah dua puluh tahun."
"Tetap saja bocah."
Selina berusaha tetap tersenyum lebar. Tidak ada kata putus asa dalam kamusnya saat mendekati Kayden. "Jangan gitu dong, Om. Nanti aku buat jatuh cinta sama bocah ingusan ini, baru tahu rasa. Aku bisa loh bikin kamu klepek-klepek sama pesona aku."
"Ambil anak anjingnya, Rash. Biar bocah ini cepat pergi."
"Huh, tega banget. Sekarang kita kasih nama dulu baby husky-nya. Kira-kira, apa ya?" Selina menatap anak anjing tersebut, kemudian beralih pada Kayden. "Aku namain kamu Kayna. Kayden dan Selina."
Arash menutup mulutnya, menahan tawa.
"Makin ngaco kamu!" Kayden menggertakkan gigi, tapi akhirnya mengiyakan saja. "Sudah saya terima. Kamu pergilah."
"Nanti aku kasih hadiah lagi, ya?"
"Tidak usah!"
Selina cemberut. "Nggak mau tau, pokoknya aku bakal kasih kamu hadiah terus setiap hari. Mau tau nggak, kapan aku berhenti?" Dia mengulum senyum, malu-malu dan langsung salah tingkah. "Kalau kamu nikahin aku."
Kayden mendengkus, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Selina yang semakin tidak terkontrol. "Ayo, Rash, saya sudah terlambat."
Selina berlarian kecil mengikuti langkah Kayden. "Calon suami, rumah kamu sebesar ini, sayang banget cuma ditinggalin bareng Arash. Ajak aku juga dong, nanti aku yang masak dan urusin keperluan kamu."
"Tidak usah, makasih."
Kayden masuk ke mobilnya, meninggalkan Selina yang masih berusaha merayu. "Sebaiknya kamu sekolah yang bener, jangan pikir nikah-nikah mulu."
"Kamu loh udah tiga puluh tahun. Masa mau menjomlo terus? Nanti kalau ketuaan, dipanggil kakek sama anak kita."
Karena merasa tidak dipedulikan, akhirnya Selina terlintas ide licik agar menarik perhatian Kayden.
"Ah, kepalaku tiba-tiba pusing. Aku mau pingsan!" Pelan-pelan Selina menunjukkan dirinya lemas dan pandangannya mengabur. Dia berpegangan pada tiang di dekatnya.
Bukannya merasa iba, Kayden menyuruh Arash melajukan mobil, meninggalkan Selina dan segala dramanya.
"Woi, Kayden kurang ajar!" Selina memaki dari tempatnya, mengacungkan jari tengah.
Di mobil, Kayden memijat pelipisnya pusing. Sementara Arash, hanya tergelak geli.
"Selucu itu, Anda tidak tertarik dengannya, Tuan?"