bc

Semesta Menyatukan Kita

book_age18+
53
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
mafia
gangster
heir/heiress
sweet
kicking
campus
city
office/work place
small town
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Ana Citra Lestari, dokter berdedikasi, terpaksa dijodohkan dengan Angga Putra Maharendra, CEO dingin yang menyimpan dendam masa lalu. Pernikahan paksa ini awalnya penuh kebencian dan kecurigaan. Namun, takdir dan pertemuan tak terduga perlahan menyatukan hati mereka, mengubah balas dendam menjadi cinta yang mendalam.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ikatan Tanpa Cinta
Hujan deras mengguyur Kota Jakarta sore itu, menciptakan suara gemuruh yang seolah sedang mengiringi gejolak batin yang tengah dirasakan Ana Citra Lestari. Di dalam mobil sedan hitam milik ayahnya, Ana duduk diam menatap tetesan air yang meluncur turun di kaca jendela. Pandangannya kosong, namun pikirannya berputar kencang, berusaha mencerna kenyataan pahit yang baru saja disampaikan orang tuanya satu jam yang lalu. “Kamu harus menikah dengannya, Ana. Tidak ada penolakan,” suara ayahnya, Pak Darmawan, masih terngiang jelas di telinganya, tegas dan tak terbantahkan. “Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik keluarga dan mengembalikan semua yang telah hilang.” Ana menghela napas panjang, mengusap pelan lengan jas putih yang masih ia kenakan. Ia baru saja pulang dari rumah sakit tempatnya bertugas sebagai dokter residen. Bagi Ana, dunia medis adalah tempat di mana segalanya berjalan berdasarkan logika, ilmu pengetahuan, dan kebenaran. Ia biasa menyembuhkan penyakit, merawat pasien, dan melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Namun, kali ini, ia merasa sedang dihadapkan pada sebuah penyakit yang tak bisa disembuhkan dengan obat apa pun: takdir yang dipaksakan. “Pa, kenapa harus aku?” tanyanya saat itu, berusaha menahan nada kecewa. “Kak Raka saja yang tanggung jawab, dia anak laki-laki, dia pewaris usaha Ayah. Kenapa aku yang harus dikorbankan dengan pernikahan yang bahkan aku tidak mengerti alasannya?” Bu Ratna, ibunya, hanya memandang dengan tatapan sedih namun tak berdaya. “Ini bukan sekadar pernikahan biasa, Nak. Ini soal hutang budi, janji masa lalu, dan juga penebusan kesalahan yang pernah Ayah buat bertahun-tahun silam. Keluarga Maharendra memegang kunci dari segalanya. Dan Angga Putra Maharendra, calon suamimu itu, satu-satunya orang yang berkuasa mengubah nasib kita.” Nama itu. Angga Putra Maharendra. Nama yang selama ini sering terdengar di berita bisnis, di majalah ekonomi, dan menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Jakarta. CEO muda, kaya raya, tampan, namun memiliki reputasi yang dingin, kejam, dan tak tersentuh. Pemimpin Grup Maharendra, perusahaan konglomerasi yang menguasai banyak sektor bisnis di negeri ini. Ana sama sekali tidak mengenal laki-laki itu. Yang ia tahu, Angga Maharendra adalah sosok yang menakutkan, laki-laki yang tidak pernah tersenyum di depan publik, dan konon memiliki banyak sekali wanita yang berebutan ingin berada di sisinya. Lantas, mengapa laki-laki sehebat itu mau dijodohkan dengannya? Seorang dokter muda dari keluarga yang sedang berada di ambang kehancuran? Mobil yang dikemudikan sopir keluarga akhirnya memasuki gerbang sebuah kediaman mewah di kawasan elit Pondok Indah. Rumah itu besar, megah, dan terasa dingin meski lampu-lampu gantung di dalamnya menyala terang. Di sinilah tempat tinggal keluarga Maharendra, tempat di mana nasib hidup Ana akan ditentukan malam ini. Setelah turun dan disambut oleh pelayan, Ana dipersilakan masuk ke ruang tamu utama. Di sana, sudah ada orang tuanya, Pak Darmawan dan Bu Ratna, yang duduk di seberang sepasang suami istri paruh baya yang berwibawa. Pak Haris dan Bu Sari, orang tua Angga. Namun, ada satu sosok lagi yang langsung menarik seluruh perhatian Ana begitu ia melangkah masuk. Di sudut ruangan, berdiri tegak seorang laki-laki dengan setelan jas hitam yang pas di badan, menegaskan postur tubuhnya yang tinggi dan berotot. Rambutnya disisir rapi, dan wajahnya... wajah yang sangat tampan, namun terukir dengan garis-garis kekerasan dan keangkuhan. Itu dia. Angga Putra Maharendra. Laki-laki itu menoleh sekilas ke arah Ana, dan sepasang mata hitam pekatnya menatap tajam, seolah sedang menilai sebuah barang dagangan, bukan calon istrinya. Tatapan itu membuat Ana merasa tak nyaman, seolah-olah ada es yang mengalir di sepanjang tulang punggungnya. Tidak ada kehangatan, tidak ada senyum, hanya ada rasa benci dan amarah yang tertahan, yang entah mengapa terasa begitu jelas terpancar dari sorot matanya. “Silakan duduk, Ana,” ucap Bu Sari dengan nada lembut, berusaha mencairkan suasana yang kaku. Ana duduk di kursi yang tersedia, tepat di hadapan Angga. Jarak mereka tidak terlalu jauh, namun terasa ada jurang pemisah yang sangat lebar di antara keduanya. “Kami mengundang kalian malam ini untuk mematahkan rencana yang sudah lama disepakati oleh orang tua kami,” buka Pak Haris, suara beratnya bergema di ruangan luas itu. “Sesuai perjanjian lama antara almarhum ayah saya dan Pak Darmawan, anak-anak kita akan disatukan dalam ikatan pernikahan. Semesta seolah memang mengatur agar janji itu harus terpenuhi, meski waktu telah berlalu begitu lama.” Ana melirik ke arah ayahnya yang menundukkan wajah. Ada rahasia besar di sini, Ana bisa merasakannya. Ayahnya terlihat penuh rasa bersalah, dan Angga... laki-laki di hadapannya itu, justru menatap Pak Darmawan dengan pandangan yang tajam, penuh dugaan, dan seolah sedang menatap musuh bebuyutan. “Pernikahan ini akan dilaksanakan dua minggu lagi, secara sederhana namun tetap resmi,” lanjut Pak Haris lagi. “Dan setelah menikah, Ana akan tinggal di kediaman utama keluarga Maharendra bersama Angga.” “Maaf, Paman,” suara Angga terdengar rendah dan berat, memotong pembicaraan ayahnya. Matanya kini tertuju sepenuhnya pada Ana, membuat jantung gadis itu berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan. “Apakah kalian yakin wanita ini adalah orang yang tepat untuk menjadi istri saya? Seorang dokter yang sibuk, yang mungkin tidak paham bagaimana cara bergaul di lingkungan saya, atau bagaimana menjaga nama besar keluarga Maharendra?” Nada bicaranya merendahkan, menusuk tepat ke hati Ana. Ia merasa dipermalukan, namun ia tahu ia tidak boleh marah. Demi orang tuanya, demi nama baik keluarga Lestari, ia harus bertahan. “Aku bekerja keras menjadi dokter karena aku ingin berguna bagi orang lain, Tuan Maharendra,” jawab Ana tenang, berusaha menatap balik mata tajam itu meski tangannya dingin dan berkeringat. “Mungkin aku tidak paham seluk-beluk bisnis atau kemewahan, tapi aku paham soal tanggung jawab dan janji. Sama seperti kamu yang pasti paham betapa pentingnya memegang teguh kesepakatan orang tua kita.” Sudut bibir Angga terangkat sedikit, bukan karena senyum ramah, melainkan senyum sinis yang penuh arti. “Cerdik juga,” gumamnya pelan, cukup terdengar oleh Ana. “Kau pikir pernikahan ini hanya soal kesepakatan dan tanggung jawab, Nona Dokter? Kau salah besar. Pernikahan ini hanyalah sebuah alat. Dan kau... kau hanyalah bagian dari rencana ini.” Kalimat itu menggantung di udara, penuh teka-teki. Ana tidak mengerti maksudnya, tapi ia menangkap satu hal: Angga membencinya. Atau lebih tepatnya, Angga membenci seluruh keluarganya. Ada dendam di sini, dendam yang terpendam entah sejak kapan, dan sepertinya Ana-lah yang harus menanggung akibatnya. “Sudah diputuskan. Tidak ada lagi perdebatan,” tegur Pak Haris tegas. “Angga, kamu tahu alasan mengapa hal ini harus terjadi. Jangan sampai kamu membuat masalah baru hanya karena ketidaksukaanmu.” Angga mendengus pelan, lalu berdiri tegak kembali. Ia melangkah mendekati Ana, berhenti tepat di samping kursi gadis itu. Tinggi badannya menjulang, membuat Ana harus mendongak untuk menatap wajahnya. “Ingat satu hal, Ana Citra Lestari,” bisik Angga, suaranya rendah namun berisi ancaman yang nyata, cukup terdengar oleh Ana saja. “Kau mungkin berpikir semesta menyatukan kita karena takdir yang indah. Tapi biar aku beritahu kebenarannya. Kau ada di sini, menjadi istriku, hanya untuk membayar kesalahan besar yang pernah ayahmu perbuat padaku dan pada keluargaku bertahun-tahun lalu. Pernikahan ini bukan awal dari kebahagiaan. Ini adalah awal dari pembalasan dendam yang sudah lama aku siapkan. Dan kau... kau akan menjadi saksi sekaligus korban dari semuanya ini.” Darah Ana terasa berhenti mengalir. Jadi benar dugaannya. Ada masalah lama, ada kesalahan ayahnya, dan Angga memegang semua kendali untuk membalasnya. “Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Ayah dan kamu,” jawab Ana dengan suara yang bergetar namun berusaha tegar. “Tapi saya berjanji, saya akan menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab sesuai peran saya. Dan saya berharap, seiring berjalannya waktu, kebencian itu bisa hilang.” Angga tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit dan dingin. “Hilang? Tidak akan pernah. Dan jangan bermimpi kau bisa masuk ke hatiku, Ana. Karena hati itu sudah lama milik orang lain. Ada seseorang yang selalu ada di hatiku, seseorang yang jauh lebih baik, lebih pantas, dan lebih aku cintai dibandingkan kau yang hanya didapat lewat perjanjian paksa ini.” Kalimat itu seperti pisau tajam yang menancap tepat di d**a Ana. Ada orang lain. Ada cinta pertama yang masih ia cintai, yang jelas-jelas posisinya tergantikan oleh Ana hanya karena perjodohan ini. Lantas, apa nasibnya nanti? Apakah ia hanya akan menjadi istri boneka sementara cinta sejati Angga ada di luar sana? “Pertemuan ini sudah cukup,” ucap Angga kepada orang tua mereka, mengalihkan pandangannya dari Ana seolah gadis itu adalah sampah yang tak lagi berguna. “Saya harap semua persiapan berjalan lancar. Dan ingat, Pak Darmawan... utang kalian belum lunas. Justru baru saja dimulai.” Angga berbalik badan dan berjalan pergi dengan langkah tegap, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun. Ana menatap punggung laki-laki itu yang menjauh, merasakan beban berat menimpa bahunya. Ia menoleh ke arah ayahnya, ingin sekali bertanya apa kesalahan yang telah diperbuat hingga harus membayarnya dengan harga semahal ini menikahkan putrinya dengan laki-laki yang penuh kebencian. Namun, melihat wajah ayahnya yang tampak tua dan penuh penyesalan, Ana memutuskan untuk diam. Mungkin nanti ia akan tahu. Mungkin nanti, saat ia sudah terperangkap sepenuhnya dalam dunia Angga Maharendra, semua rahasia itu akan terungkap satu per satu. Dalam perjalanan pulang, hujan masih turun dengan deras. Ana menyandarkan kepalanya di kursi mobil, memejamkan mata. Ia membayangkan dua minggu ke depan, ia akan resmi menjadi Nyonya Maharendra, hidup di bawah satu atap dengan laki-laki dingin yang berniat membalas dendam, sementara hatinya dimiliki wanita lain. Apakah semesta benar-benar menyatukan kita untuk bahagia? batin Ana bertanya-tanya ragu. Atau semesta justru sedang mengikatku dalam rantai penderitaan yang panjang? Pikiran Ana terhenti seketika saat ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dengan tangan sedikit gemetar, Ana membuka pesan itu. "Selamat datang di neraka barumu, Istri kontrakku. Kau pikir hanya aku yang punya masa lalu dan cinta pertama? Ingatlah, takdir punya cara licik untuk bermain. Dan tunggu saja besok, di acara pertemuan bisnis keluarga, kau akan bertemu dengan seseorang yang akan mengubah segalanya. Seseorang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupmu sebelum kau memutuskan menjadi dokter dan melupakan segalanya." Ana terpaku, napasnya tertahan. Siapa pengirim pesan ini? Bagaimana dia tahu soal masa lalunya? Dan siapa orang yang akan ia temui besok? Apakah orang itu adalah cinta pertamanya yang telah lama hilang, atau justru orang yang akan memperumit segalanya lebih parah lagi? Di luar jendela, kilat menyambar membelah langit gelap, seolah menjadi pertanda bahwa badai besar bukan hanya ada di luar sana, tetapi sudah masuk ke dalam hidup Ana, dan ia tidak tahu apakah ia akan selamat melewatinya atau justru hancur bersamanya. (Bersambung...)

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
728.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
963.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
349.5K
bc

Not just, the Beta

read
343.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook