“Abian, kau bisa mencium dahi istrimu sekarang.” Abian tersenyum menanggapi ucapan pria baya yang bertugas sebagai penghulu barusan. Ia pun tak ragu lagi menyentuh bahu perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya itu, membalikkannya agar mengarah kepadanya. Thea yang tadinya menunduk kini mengangkat kepalanya dan memandang tajam ke arah Abian. Pria yang ia sewa itu bukannya memberikan bantuan, justru menjebaknya di situasi yang lebih gawat. Abian masih saja tersenyum, mengabaikan raut wajah tak mengenakan Thea yang ditujukan kepadanya. Ia justru mengedipkan matanya pada Thea lalu mencondongkan wajahnya atau lebih tepatnya bibir merah mudanya ia condongkan ke arah kening Thea. Melaksanakan apa yang sudah dianjurkan oleh sang penghulu tadi. Namun, …. Dugh!! Hidung Abian berhasil d

