“Astaghfirullah, Thea … kamu kenapa?” “Thea mual, Bund. Pen-ngen mun-tah, Huekzz!!” Tanpa membuang waktu lagi gadis yang rambutnya dikepang seribu itu berlari masuk lebih jauh ke dalam rumahnya. Ia membuka pintu toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya di lantai karena sudah tak sempat lagi ia menuju closet. Sementara itu, Hanny, Reno, dan Kelvin masih diserang rasa keterkejutan atas apa yang mereka saksikan barusan. Kini Kelvin yang lebih dulu memasang wajah curiga pada putranya yang terlihat paling bersikap normal. “Abian, ikut ayah sekarang!” “Reno, maaf, izinkan gue berbicara empat mata dengan anak gue ini.” Setelah memastikan Reno mengangguk, memberikan izin, Kelvin membawa Abian masuk ke dalam rumah sahabatnya itu. “Jawab ayah dengan jujur. Berapa lama kamu dan Thea berpa

