Setelah sadar dengan kondisiku, kak Ali mulai mendekat, saat sudah benar-benar ada di dekatku, dia menaikkan sebelah alisnya sambil mengungkapkan wajahku dengan tangan besarnya. "Kamu kenapa?" tanyanya. Aku langsung mengerucutkan bibir. "Kalau kamu diundang sama sahabat kamu, pasti kamu datang, 'kan?" Kak Ali menganngguk sambil melepas tangkupan tangannya di wajahku. "Iya, kenapa emangnya?" "Kamu enggak peka," ucapku pelan. Tiba-tiba dia tertawa. "Kamu aku ajak kok." Rasanya bulu kudukku merinding. Diajak liburan ke Bandung saja aku sudah jingkrak-jingkrak kegirangan, lantas bagaimana jika aku diajak liburan ke luar negeri. Rasa senangku pupus begitu saja saat aku ingat kalau aku ini tidak memiliki paspor. "Tapi, 'kan, aku enggak punya paspor, Kak?" Wajahku memelas kembali. "Buat

