Setiap manusia memiliki porsi bahagia dan sedihnya masing-masing. Ada yang bahagia dulu baru sengsara, ada yang sengsara dulu baru bahagia, pada intinya Allah selalu adil kepada semua hamba-Nya. Aku percaya itu, mungkin, sekarang masaku untuk sengsara setelah bahagia menghampiri. Semenjak Syahnaz datang ke rumah, aku mendadak pendiam, aku juga tidak paham dengan diriku sendiri. Aku selalu mengatakan tidak apa-apa padahal jiwaku terasa berantakan. Aku selalu menampakkan raut tenang padahal hatiku sedang perang. Aku tidak tahu bisa belajar ini dari mana, hal yang tidak biasa aku lakukan sebelumnya. Aku yang biasanya langsung marah, kabur, saat dadaku terasa sesak, kini aku hanya bisa diam, menampakkan raut sok kuat, padahal jiwa dan hatiku butuh ruang lebar untuk bebas dari rasa sesak ini

