CHAPTER 7

2038 Kata
Di lain pihak ... Freya dan Thomas berkeliling ke desa terdekat dan menanyakan keberadaan Edmund kepada warga desa yang mereka temui. Cukup banyak orang yang mereka tanyai dan cukup jauh mereka memasuki pedesaan. Namun, sekali lagi hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mereka sama sekali tidak berhasil menemukan Edmund. Bahkan semua warga desa yang mereka tanyai, tidak ada satu pun yang melihat Edmund memasuki desa ini. Dengan perasaan kecewa, Freya dan Thomas berjalan hendak meninggalkan desa untuk kembali ke tempat perkemahan. Namun, tepat di dekat gapura, mereka menemukan seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun yang sedang menangis. Cepat-cepat Freya menghampiri anak itu.  “Dek, kenapa menangis?” Tanyanya.  Anak kecil itu masih terus menangis bahkan suara isak tangisnya semakin kencang dibanding sebelumnya. Freya berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan sang anak.  “Ceritakan pada kakak, kenapa kau menangis?”  Freya yang pada dasarnya suka pada anak-anak itu menunjukan perhatiannya dengan mengusap air mata si anak dengan jari-jari tangannya. Merasa tindakannya masih tak berpengaruh apa pun karena anak itu masih saja menangis, Freya menoleh pada kekasihnya.  “Thom, kau tidak membawa permen atau cokelat?” Tanyanya. Thomas yang sedang berdiri sambil berpangku tangan itu hanya diam, tak menanggapi.  Freya terkekeh saat baru mengingat sesuatu, “Ah, maaf. Aku lupa kau kan tidak suka ....” “Ini.”  Freya tersentak ketika Thomas tiba-tiba mengulurkan dua bungkus permen rasa cokelat. “Ini, berikan pada anak itu,” ucap Thomas karena Freya hanya diam mematung sambil menatap dua bungkus permen yang dia ulurkan.  “Ah, iya. Terima kasih.” Freya pun menerima dua bungkus permen itu dan berencana membujuk si anak agar berhenti menangis dengan permen tersebut.  “Lihat, kakak punya permen. Rasa cokelat lagi. Ini enak sekali lho.”  Anak kecil itu berhenti meraung-raung meski air matanya masih mengalir deras membanjiri kedua pipinya yang gembil. Kedua mata mungilnya menatap permen di telapak tangan Freya, terlihat ingin mengambilnya namun anak itu tidak berani melakukannya.  “Ayo, ambil.” Freya kembali membujuk. Anak itu menatap permen, lalu bergantian menatap wajah Freya yang sedang tersenyum padanya.  Gemas dengan anak itu yang tak kunjung mengambil permen, Freya pun berinisiatif dengan membuka bungkusnya. “Buka mulutmu, Aaaa,” bujuknya sambil dirinya sendiri membuka mulut secara tak sadar.  Anak kecil itu akhirnya mau membuka mulut. Freya tersenyum lebar, lega karena akhirnya berhasil membujuk si anak. Dia pun tanpa ragu memasukan permen rasa cokelat itu ke dalam mulut mungil anak laki-laki tersebut.  “Bagaimana? Enak, kan?” Tanya Freya, yang langsung direspon anak itu dengan anggukan.  “Sekarang katakan pada kakak, kenapa kau menangis sendirian di sini?” “Aku ingin main keluar desa, tapi ibu tidak mengizinkan.” Anak itu akhirnya menyahut, menceritakan alasan dirinya menangis sendirian di depan gapura.  Yang Freya tahu, daerah yang berada tepat di luar desa ini merupakan area perkemahan. Ada hutan dan gunung juga di sana jadi menurutnya wajar sang ibu melarang anaknya bermain sendirian ke sana.  “Rumahmu dimana? Kakak antar pulang ya?”  Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, anak laki-laki itu hanya mengangguk patuh. Dia bahkan tak menolak saat Freya menggenggam tangannya, mengajaknya berjalan sambil bergandengan tangan.  “Thom, kita antarkan anak ini pulang ke rumahnya dulu ya.” Freya meminta izin pada sang kekasih yang sejak tadi hanya menjadi penonton interaksi mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun untuk membantu Freya membujuk anak itu.  “Oke!” Sahut pria itu, tak menolak.  Mereka pun melangkah beriringana mengikuti langkah si anak yang menuntun mereka menuju rumahnya. Namun, baru beberapa langkah, mereka dikejutkan oleh suara ringtone dari ponsel Thomas yang meraung kencang. Cepat-cepat pria itu mengambil ponsel yang dia selipkan di saku celananya.  “Telepon dari Charlos,” ucap Thomas sembari memperlihatkan layar ponselnya pada Freya dimana di sana tertera pemberitahuan nomor Charlos sedang menghubungi.  “Ya sudah, angkat saja. Mungkin mereka sudah menemukan Edmund.” Itulah yang Freya harapkan. Thomas tanpa ragu mengangkat telepon dan dengan sengaja mengeraskan volume suaranya agar Freya bisa mendengar obrolan mereka.  “Kenapa, Char? Apa kalian sudah menemukan Edmund?”  Yang terdengar di seberang sana justru suara gemerisik yang memilukan telinga. Freya dan Thomas saling berpandangan. Mereka mulai cemas.  “Charlos, kalian baik-baik saja kan di sana?” Thomas kembali bersuara namun suara gemerisik itu yang kembali menyahut.  “Ada apa dengan mereka? Aku jadi khawatir,” ucap Freya. Dia tidak main-main, dirinya mulai mengkhawatirkan teman-temannya yang masih berada di area perkemahan. “Hallo, Thom.”  Freya dan Thomas seketika memasang wajah semringah, lega karena suara Charlos akhirnya terdengar.  “Charlos, kau baik-baik saja kan di sana?” Kali ini Freya yang berbicara. “Kami baik, hanya saja ada sedikit masalah yang kami temukan di sini.” “Masalah apa?” Thomas ikut menimpali. “Nanti saja kita bicarakan di sini. Kalian bagaimana? Sudah menemukan Edmund?”  Hanya dengan mendengar pertanyaan Charlos, Freya dan Thomas sudah mengetahui bahwa Edmund masih belum ditemukan.  “Kami belum menemukannya. Kami sudah bertanya pada penduduk desa, tapi tidak ada yang pernah melihat Edmund,” sahut Thomas, menjelaskan bahwa pencarian mereka pun nihil.  “Ck, sebenarnya kemana si Edmund itu?” Suara Charlos yang mulai tersulut emosi terdengar dari seberang telepon. “Ya sudah, kalian kembali dulu ke perkemahan. Ada hal yang perlu kita bahas.”  “OK!” Sambungan telepon terputus karena Charlos yang memutuskannya.  “Thom, kau pergilah duluan. Aku akan mengantar anak ini pulang dulu. Nanti aku menyusul ke sana.”  Thomas menipiskan bibir, tampak tak setuju dengan saran yang diajukan Freya.  “Lebih baik kita antarkan anak ini ke rumahnya dulu, lalu kembali ke perkemahan bersama-sama.” “Tidak, Thom. Kau duluan saja. Sepertinya kondisinya mendesak sampai Charlos menyuruh kita segera kembali.” “Kau yakin?” Freya mengangguk, tanpa ragu.  “Tapi aku khawatir kalau kau kembali ke perkemahan sendirian.” Thomas seketika terdiam seolah dia sedang memutar otak untuk mencari jalan keluar terbaik. “Oh, begini saja. Kau tunggu saja di desa ini. Nanti kami akan menjemputmu dengan mobil.”  Kini gantian Freya yang mengernyitkan alis, tampak tak setuju. “Tidak bisa, aku ....” “Jangan keras kepala. Aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan sendirian, Frey. Daerah ini sangat berbahaya. Aku tidak ingin kau menghilang seperti Edmund.” “Tapi ....” “Turuti kata-kataku atau kita pergi sekarang juga dan biarkan saja anak kecil itu sendirian di sini. Kita tidak perlu repot-repot mengantarnya pulang!”  Mendapat bentakan seperti itu, Freya hanya mampu menghela napas panjang. Sepertinya dia tak bisa melawan lagi atau mereka akan berakhir dengan bertengkar hebat. Lagi pula satu tahun belakangan ini sosok kekasihnya itu memang jadi mudah tersulut emosi.  “Baiklah.” Freya memilih mengalah. “Aku akan menunggu kalian menjemputku di sini.” “Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu.”  Thomas melangkah pergi begitu saja, membuat Freya hanya mampu menatap punggung kekasihnya yang semakin menjauh.  “Thom!!” Teriak Freya, tapi Thomas tak merespon. Pria itu tetap berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.  “Thom!!!” Freya lebih mengencangkan volume suaranya, tapi Thomas tak juga menoleh.  “Thomaaas!!!”  Dipanggilan ketiga, barulah pria itu menghentikan langkah, lantas menoleh ke belakang.  “Kau juga harus hati-hati!” Freya kembali berteriak. “OK!” Thomas balas berteriak, kemudian pria itu kembali melanjutkan langkah dengan tergesa-gesa.  “Dek, ayo tunjukan lagi rumahmu,” pinta Freya pada si anak yang hanya diam membisu mendengarkan pembicaraan Freya dan Thomas. Anak itu mengangguk, lalu kembali berjalan bersama Freya dengan tangan mereka yang masih bergandengan.  Rumah anak itu tak terlalu jauh dari gapura. Rumah minimalis berdinding bilik itu tampak sepi ketika Freya dan anak laki-laki itu tiba.  “Ini rumahmu?” Tanya Freya, memastikan. Begitu anak itu mengangguk, Freya akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.  Satu kali ketukan, tak ada yang menyahut maupun membukakan pintu. Freya kembali mengetuk pintu. “Permisi!!!” Freya berteriak sekencang-kencangnya. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati pintu. Sosok seorang wanita berusia sekitar 35 tahunan yang keluar dari rumah.  “Permisi, Kak. Saya ingin mengantarkan putra kakak,” ucap Freya, menjelaskan. Wanita itu begitu kentara menatapnya penuh curiga pada awalnya. Namun, begitu melihat Freya mengantarkan putranya pulang, seketika wajah wanita itu berubah ramah. “Oh, terima kasih sudah mengantarkan anak saya. Dia katanya mau bermain tadi.” “Iya, Kak. Saya menemukannya sedang menangis sendirian di depan gapura.” Wanita itu terdiam, memandangi wajah anaknya yang masih sembab karena terlalu banyak menangis. “Dia merengek tadi, minta main keluar desa tapi tidak saya izinkan,” katanya.  Freya jadi penasaran, dia pun memutuskan untuk mencaritahu. “Kenapa kakak melarangnya main di luar desa?”  Wanita itu menatap tajam Freya beberapa detik lamanya, sebelum helaan napas panjang meluncur begitu saja dari mulutnya yang sedikit terbuka. “Wajar saja kau tidak tahu keadaan di daerah ini karena sepertinya kau bukan warga desa ini.” “Benar. Saya datang dari kota. Saya sedang berkemah bersama teman-teman saya.”  Wanita itu tersentak seolah begitu terkejut setelah mendengar jawaban Freya. “Berkemah dimana?” Tanyanya, serius. “Jangan bilang, kalian berkemah di dekat gunung?”  Freya mengangguk, “Benar. Kami berkemah di sana.”  Dan ekspresi wanita itu yang terbelalak kaget membuat Freya semakin penasaran sekaligus khawatir.  “Haduh, bahaya itu. Cepat kalian pergi dari sana.” “Kenapa memangnya, Kak? Di sana ada apa?” Freya semakin dibuat penasaran. “Di sana ada pembunuh sadis. Dia psikopat. Banyak warga desa yang sudah menjadi korbannya.”  Kedua mata Freya membulat sempurna, jawaban wanita itu sama persis seperti yang diceritakan Charlos. Rupanya berita adanya pembunuh sadis di daerah itu memang bukan isapan jempol.  “Pembunuh sadis, Kak?” gumam Freya, masih sedikit ragu. “Iya. Korban-korbannya tewas dengan kondisi mengenaskan. Ada yang lehernya digorok.” Freya seketika membekap mulut. “Ada yang dimutilasi. Ada yang kepalanya dihancurkan hingga jasadnya tidak dikenali lagi.”  Freya tak kuasa menahan rasa takut sehingga tanpa sadar dia memeluk dirinya sendiri.  “Dulu daerah ini aman. Tidak pernah ada pembunuhan-pembunuhan atau kejahatan apa pun. Semua bermula dari penemuan jasad di dalam hutan.” “Penemuan jasad?” Freya mengulangi. “Iya. Jadi waktu itu ada warga desa yang mau menebang pohon. Tidak sengaja kakinya tersandung sesuatu. Saat diperiksa, ternyata kakinya tersandung tangan seseorang yang terkubur di dalam tanah.”  Freya menggelengkan kepalanya, mulai merasa ngeri.  “Lalu beberapa warga desa ke sana untuk memeriksa. Begitu tanahnya digali, ternyata ada mayat yang dikubur di sana. Wajahnya hancur seperti ditimpa batu besar. Tidak bisa dikenali lagi.” “Lalu jasadnya kalian apakan?” Tanya Freya. “Kami kuburkan lagi secara layak karena daerah ini kan cukup terpencil. Tidak ada kantor polisi di sini. Desa ini masih kuno orang-orangnya, tidak ada yang memiliki telepon.” Ibu itu terkekeh. Sedangkan Freya mengangguk-anggukan kepala, memahami situasi mereka.  “Nah, semenjak kejadian itu daerah ini jadi tidak aman. Sering terjadi pembunuhan. Biasanya mereka yang dibunuh adalah warga desa yang datang ke hutan atau ke gunung itu. Sepertinya si pembunuh ada di sana. Jadi kau harus segera pergi dari sini. Jangan menunda-nunda lagi atau kalian bisa saja menjadi korban kekejaman si pembunuh itu.”  Freya pun menegang. Berita yang dibawa Charlos rupanya benar. Mereka harus segera meninggalkan tempat ini. Namun, Freya tak bisa meninggalkan desa karena dirinya sudah berjanji pada Thomas akan menunggu di desa ini. Jadi yang bisa Freya lakukan sekarang hanyalah berkomunikasi dengan teman-temannya melalui ponsel dan dia akan sesabar mungkin menunggu dirinya dijemput. Tak hentinya berharap dalam hati, teman-temannya yang masih berada di area perkemahan, keluar dari sana dengan selamat.   ***   Pasangan lain yang tengah mencari keberadaan Edmund adalah Dustin dan Renee. Mereka mencari di sekitar sungai. Mereka tidak henti-hentinya meneriakkan nama Edmund namun percuma karena tidak ada yang menyahuti teriakan mereka. Cukup jauh berkeliling sehingga kini mereka mulai kelelahan.  "Dustin, aku cuci muka dulu sebentar," pinta Renee, yang langsung diangguki Dustin. Renee berjalan mendekati sungai, mencari area yang dangkal agar dirinya bisa dengan mudah mencuci muka tanpa takut terbawa arus sungai yang kebetulan sedang deras. Dia pun berjongkok setelah menemukan area yang pas. Rasa lelah yang dia rasakan sungguh luar biasa. Tubuhnya berkeringat cukup banyak hingga kemeja yang dikenakannya terasa basah dan lepek. Renee mengusap wajahnya dengan air sungai, rasa segar pun seketika membuatnya lega.  Sambil beristirahat sejenak, Renee menatap sekeliling sungai hingga matanya menangkap sesuatu yang terapung dan tampak mencurigakan. "Dustin, kemari sebentar," pintanya sambil melambai-lambaikan tangan, memberi isyarat pada Dustin agar mendekat. Dustin menuruti permintaan Renee. Kini pria itu berdiri di samping Renee yang masih dalam posisi berjongkok di pinggir sungai. "Ada apa, Re?" "I-Itu ... di sebelah sana, sepertinya ada sesuatu yang mengapung," kata Renee sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah sesuatu yang dilihatnya terombang-ambing karena terbawa arus sungai. Dustin memicingkan mata, mengikuti arah yang ditunjuk Renee. Dan benar saja seperti yang Renee katakan. Sesuatu tampak mengapung di permukaan air sungai. Rasa penasaran Dustin membuatnya memberanikan diri masuk ke dalam air sungai dan berjalan mendekati benda yang terapung itu.  Begitu tiba di dekat sesuatu yang terapung itu, kedua mata Dustin membulat sempurna karena terlalu terkejut melihat sesuatu yang sedang dilihatnya. "Dustin, benda apa itu?!" Tanya Renee di pinggir sungai sambil berteriak.  Dustin masih terbelalak dan sama sekali tidak menyahuti pertanyaan Renee. Renee heran dengan sikap Dustin yang diam bagaikan patung di dalam air. Kemudian Renee yang semakin penasaran, akhirnya mengikuti tindakan Dustin. Dia turun ke dalam sungai dan berjalan mendekati Dustin.  "Hai, Dustin. Kau kenapa?" Tanya Renee sambil menepuk bahu pria itu. Sekali lagi Dustin mengabaikan pertanyaan Renee dan tatapan matanya masih tetap fokus pada sesuatu yang terapung itu. Renee pun mengikuti arah yang ditatap Dustin dan detik itu juga tubuh Renee merinding begitu melihat sesuatu yang terapung itu.  "Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!" Spontan Renee berteriak sekencang-kencangnya. Sesuatu yang terapung yang saat ini berada di depan mata Renee dan Dustin, tidak diragukan lagi merupakan jasad manusia. Namun yang membuat jasad itu terlihat mengenaskan karena jasad itu terapung tanpa kepala dan tangan kanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN