"Rasya?" "Arsya!" Aku langsung membulatkan mulut. Ya, mana mungkin ada Rasya di sini. Pasti ini adalah Arsya. Eh, Arsya? "Bukankah kau pulang, kemarin?" tanyaku dengan spontan. Walau sebenarnya aku sama sekali tidak penasaran. "Iya ... tidak jadi. Si b******k itu mungkin sudah tidak mau sembuh!" Dia mengumpat pada kembarannya sendiri dengan menyebut 'b******k' padanya. Gila memang! Aku berjalan melewatinya, aku pikir dia juga melewatiku karena arah kami yang berlawanan. Ternyata dia malah berjalan mengiringiku dan berbalik dari arahnya yang sebelumnya. "Kok balik lagi?" tanyaku. "Ada yang mau aku bicarakan denganmu?" "Kalau berkaitan dengan kembaranmu aku tak tertarik!" ketusku langsung saja. Dia yang berjalan di sampingku ini terdengar mengembuskan napas yang cukup ker

