SOG | Penguntit

1118 Kata
Sherina menghembuskan napas kasar begitu netranya tak sengaja bertemu pandang dengan netra jelaga milik seseorang yang sejak tadi terus membuntutinya. Saat ini dia tengah berada di toko buku langganannya. Rencananya dia ingin menghabiskan waktu liburnya dengan membaca buku. Toko buku yang Sherina datangi memang begitu luas dan dilengkapi fasilitas ruang baca bagi pengunjung. Awalnya semuanya berjalan normal dan menyenangkan. Tapi keanehan mulai terjadi saat Sherina tidak sengaja bertemu dengan Sagara, pria dewasa yang sekarang begitu dibencinya. Kenapa di kota yang seluas ini dia harus bertemu dengan pria itu? "Om Saga sengaja ya ngikutin aku?" Sherina menatap pria di depannya dengan curiga. "Tidak." jawab Sagara singkat, padat dan jelas. Pria itu memutar tubuhnya membelakangi Sherina. Senyum kecil muncul di wajah tampannya tanpa Sherina sadari. Sherina mendengus sembari berkacak pinggang. Jika bukan sengaja mengikutinya, lalu kenapa Sagara bisa ada di tempat seperti ini? Rasanya tidak mungkin pria sesibuk Sagara repot-repot meluangkan waktunya untuk membaca buku di toko buku ini. "Om bohong. Sherina yakin Om Saga emang beneran ngikutin aku. Dasar penguntit." Sherina bersidekap d**a menatap Sagara dengan sebal. Sagara menoleh,"Cerewet." katanya, lalu berlalu meninggalkan Sherina yang tengah kesal. Enak saja dia dibilang cerewet. Tak ingin membuat hatinya buruk dengan meladeni Sagara, Sherina lantas kembali mencari buku yang dia inginkan walau dengan hati kesal. Akhir pekan merupakan waktunya untuk beristirahat dari kesibukannya sebagai pelajar. Dan yang lebih penting, tidak ada jadwal les yang membuat kepalanya pening tujuh keliling. Sherina menempati tempat duduk yang cukup tersembunyi. Gadis itu butuh ruang untuk menikmati waktunya seorang diri. Dan kursi yang berada di pojok ruangan menjadi pilihan Sherina. Bruk Suara buku jatuh menarik atensi Sherina dari buku yang tengah dia baca. Tak jauh dari tempatnya, dia melihat seorang pria berperawakan jangkung tengah memungut sebuah buku yang terjatuh di lantai. Dan ketika pria itu menegakkan tubuhnya, barulah Sherina dapat melihat rupa dari pria itu. "Dia lagi." gumam Sherina setengah mendesis saat netranya tak sengaja bertemu pandang dengan Sagara. Sherina buru-buru memutus kontak mata di antara mereka. Lantas kembali menekuni bacaannya. Sesekali dia juga berhenti untuk sekedar meminum minumannya. Tak Sepiring camilan kering tersaji di atas mejanya. Sherina mengernyit heran sebelum menaikkan pandangannya. "Makanlah." kata Sagara yang dengan santainya duduk di depan gadis itu. Kedua alis Sherina meruncing, menatap sengit ke arah Sagara. Merasa terganggu dengan kehadiran pria itu. Sherina sengaja tak merespon ucapan Sagara. Bahkan dia hanya melirik camilan yang pria itu bawa tanpa minat. Lantas merapikan bukunya dan hendak beranjak pergi. "Tidak ada lagi tempat duduk yang kosong." ucapan Sagara menghentikan langkah Sherina. Sherina mengamati sekitar dengan seksama lantas mendengus. Apa yang dikatakan pria itu ternyata benar. Tidak ada tempat lain yang kosong, semuanya terisi penuh. Dengan malas Sherina kembali duduk di bangkunya semula. Dia berusaha mengabaikan sosok tampan yang duduk di depannya. Tapi sentuhan ringan pada punggung tangannya membuat Sherina tersentak. "Om Saga apa-apaan sih?" kesal Sherina cukup keras. Beberapa pengunjung sontak melihat ke arahnya dengan berbagai ekspresi. Tapi Sherina sadar jika mereka merasa terganggu dengan suara yang dia timbulkan. Dengan kikuk Sherina menundukkan kepalanya meminta maaf. "Kamu berisik sekali." ujar Sagara dengan suara rendah. Sherina mendelik tak terima."Ini semua gara-gara Om Saga yang tiba-tiba megang tangan aku." marahnya. Sagara menutup bukunya dengan pelan lantas menatap Sherina tanpa ekspresi. "Memangnya kenapa? Bahkan saya sudah pernah melakukan yang lebih dari itu." suara Sagara nyaris seperti bisikan. Sherina melotot mendengar ucapan Sagara barusan. Dia jadi mengingat apa yang telah pria itu lakukan pada dirinya di dalam toilet cafe beberapa hari lalu. "Dasar mesoom." umpat Sherina kesal. Tapi kedua pipinya tampak tersipu. Sagara terkekeh dan menopang wajahnya dengan sebelah tangan. Menatap lamat-lamat raut wajah Sherina yang merah padam. "Kenapa kamu suka sekali marah-marah. Padahal dulu kamu sering tersenyum jika bertemu dengan saya." kata Sagara tenang. "Itu dulu sebelum Sherina berubah benci sama Om Saga." desis Sherina. Sagara terkekeh kecil,"Kamu masih kesal karena saya cium waktu itu?" "Om pikir aja deh, siapa yang nggak marah dicium sembarangan sama orang yang baru dikenal?" Sherina bersungut-sungut. Sagara tampak santai dan merasa tidak terganggu sama sekali. Pria itu justru semakin dibuat gemas dengan reaksi Sherina. "Tapi kita sudah lebih dari dua kali bertemu." balasnya. Sherina mendecih, emosinya meletup-letup mendengar jawaban santai Sagara. Dia memilih untuk mengabaikan pria itu dan berusaha fokus pada buku di depannya. "Kenapa diam, hem? Apa kamu kepikiran dengan ci-uman kita waktu itu?" Sagara kembali bersuara, raut wajahnya tampak menyebalkan. "Dih, Om Saga nggak usah ke pede an deh." balas Sherina sewot. Sagara terkekeh geli, namun tak lagi mengganggu. Pria itu membiarkan Sherina menikmati waktunya membaca buku. Karena dia tahu gadis itu hanya memiliki waktu luang di akhir pekan saja. Kenapa dia bisa tahu? Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang sulit bagi Sagara. Pria itu diam-diam telah memata-matai Sherina. Tepatnya sejak dirinya nekat mencuri ciuman pertama Sherina di pesta waktu itu. Bisa dibilang Sagara mulai berani mengakui jika dirinya tertarik pada gadis itu. Sherina menaikkan sebelah alisnya ketika Sagara tak lagi bersuara. Tapi segera ditepisnya rasa penasarannya itu. Sherina memilih untuk kembali menekuni bacaannya. Mengabaikan Sagara yang masih setia menatapnya. Lama-lama Sherina mulai risih dengan keberadaan Sagara di dekatnya. Gadis itu menutup bukunya dengan kasar. Lantas menatap tajam ke arah pria itu. Bersiap menyuarakan kekesalannya yang sejak tadi dia pendam. Tapi Sherina seketika dibuat tertegun dengan apa yang dia lihat saat ini. "D-Dia tidur?" gumam Sherina entah pada siapa. Di depannya kini tampak Sagara tengah memejamkan matanya. Bahunya dia gunakan sebagai bantal. Dan pria itu terlihat sangat damai. Tak ada tatapan tajam atau raut menyebalkan yang Sherina lihat. Justru wajah tampan dengan raut polos yang kini dia temukan. Sherina menggigit bibir bawahnya dengan resah. Sagara dengan tampang seperti ini terlihat sangat menawan. Dan jujur saja, Sherina merasa jantungnya tidak aman karena melihat pemandangan itu. Diam-diam Sherina mengamati lamat-lamat pahatan sempurna yang ada di depannya. Kedua kelopak mata Sagara tertutup rapat. Dan bulu matanya yang lentik jadi terlihat jelas. Tatapan Sherina turun melewati hidung Sagara yang bangir. Sherina dibuat tertegun saat tatapannya berhenti pada bibir pria itu. Warnanya merah segar, sepertinya Sagara bukan seorang perokok. Tanpa sadar Sherina membasahi bibirnya yang terasa kering. Ingatannya kembali pada saat-saat dimana Sagara menciumnya. Jadi bibir itu yang telah beberapa kali menyentuhnya? Debaran di jantungnya kian meningkat. Dia masih bisa mengingat bagaimana Sagara menciumnya dengan menggebu. Dan baru kali ini Sherina merasa diinginkan sebesar itu. Selama ini hidupnya terasa monoton. Kegiatannya hanya diisi dengan belajar dan belajar. Di sekolah atau di rumah tidak ada bedanya. Dia tetap harus belajar jika tidak ingin papanya mengamuk. Ardhio tidak pernah lagi memperhatikannya. Pria itu terlalu sibuk bekerja. Tidak ada waktu untuk memanjakan Sherina yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. "Om Saga emang nyebelin. Tapi sama dia, aku jadi ngerasa diperhatiin." gumam Sherina masih betah menatap Sagara yang tertidur dengan lelap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN