Bab 9

1973 Kata
Bel masuk berbunyi setelah istirahat panjang. Yusri, Yasril, dan Mikel berjalan bersama dari warung Nizal menuju gerbang sekolah. Langkah mereka berbarengan, melewati kerumunan siswa yang masih bertebaran di halaman. Dan untuk pertama kalinya, Yusri merasakan sesuatu yang asing. Tatapan. Bukan tatapan biasa. Bukan tatapan iba seperti dulu ketika dia masih menjadi anak pendiam yang mudah tersinggung. Bukan juga tatapan sinis seperti ketika dia mulai berubah menjadi anak yang suka bolos. Ini tatapan yang berbeda campuran antara rasa ingin tahu, kekaguman, dan sedikit... takut? “Lihat tuh, Mikel bareng Yusri,” bisik seorang siswa dari kelas sebelah. “Sejak kapan mereka akrab?” sahut yang lain. “Hati-hati sama Yusri itu. Katanya kemarin dia lawan anak SMA sampe babak belur.” “Iya, gue dengar juga"sahut yang lain. Yusri memasang wajah datar, berusaha tidak mendengar. Tapi suara-suara itu merambat masuk ke telinganya, membuatnya sedikit tersenyum dalam hati. Yasril di sampingnya melirik, ikut tersenyum. Mikel yang berjalan di sisi lain justru melambaikan tangan ke arah kerumunan yang memperhatikan mereka. Bukan sombong, hanya menyapa teman-temannya yang manggut-manggut dari kejauhan. “Gue duluan, ya,” kata Mikel ketika mereka sampai di perempatan lorong. “Kelas gue di selatan.” “Iya,” jawab Yusri. Mikel menepuk pundak Yusri pelan, lalu berjalan ke arah kelasnya. Beberapa siswa yang melihat adegan itu saling berpandangan. Mikel yang dingin dan eksklusif, tiba-tiba akrab dengan Yusri? Sungguh pemandangan yang langka. Yusri dan Yasril melanjutkan berjalan ke kelas 9A. Begitu masuk, mata Yusri langsung tertuju ke bangku belakang. Riyan duduk sendirian, menunduk, Arif di sampingnya tampak gelisah. “Ayo, kita ke dia,” bisik Yasril. Yusri mengangguk. Mereka berdua mendekati bangku Riyan dan duduk di kursi kosong di hadapannya. “Lu kenapa lesu amat, Yan?” tanya Yasril langsung. “Emang apa yang dikatakan guru di ruang BK kemarin?” Riyan mengangkat kepala. Matanya sembab, seperti habis menangis atau begadang semalaman. Dia menatap Yasril dan Yusri bergantian, lalu menghela napas panjang. “Lu bayangin,” kata Riyan, suaranya parau. “Gue gak bergelud, gak ngapa-ngapain, tapi gue yang masuk ruang BK. Sedangkan si b*****t Farhan itu gak dipanggil sama sekali. Iya, gue emang punya reputasi nakal atau gimana? Tapi ini kan gak adil!” Yusri dan Yasril diam, memberi ruang untuk Riyan bicara. “Di ruang BK, gurunya berkata...” Riyan meniru suara guru BK dengan nada getir. “Riyan, lu tamat sebentar lagi. Kenapa sifat lu masih belum berubah? Atau lu mau dikeluarkan sekarang juga?” Riyan mendongak, menatap langit-langit kelas seolah mencari kekuatan. “Gue jelasin kejadiannya panjang lebar, dari awal sampai akhir. Gue bilang, ‘Saya tidak bermain dasi, Bu. Yang main Farhan. Kenapa saya yang disalahkan?’” Suaranya bergetar. “Gue tau, Bu, saya orangnya nakal. Tapi Ibu Wati itu emang benci sama saya! Dia selalu cari-cari kesalahan saya!” Yusri mengepal. Yasril menggigit bibir. “Bu guru BK diam sejenak,” lanjut Riyan. “Kayaknya mikir. Tapi akhirnya dia cuma bilang, ‘Baiklah, kalau seperti itu perkataanmu. Sekarang kamu fokus belajar saja, sebentar lagi ujian. Tapi kalau kamu melakukan kesalahan lagi atau berbuat nakal, ibu akan suruh kepala sekolah mengeluarkanmu.’” Riyan menunduk. Bahunya sedikit bergetar. “Lu bayangin, sampe segitunya guru-guru ke gue. Gue cuma minta keadilan, tapi yang gue dapet ancaman.” Yasril membuka mulut, tapi Riyan belum selesai. “Dan gue tanya, ‘Kenapa Farhan tidak dipanggil, Bu? Dia yang mulai, dia yang main-main. Saya cuma duduk di belakang.’ Tahu jawabannya? Guru BK cuma bilang, ‘Sudah, kamu sudah boleh keluar.’” Riyan memejamkan mata. “Selesai. Cerita. Itulah nasib anak bandel kayak gue.” Yusri menghela napas panjang. Dia meraih bahu Riyan, memegangnya dengan tangan kanannya yang sehat. “Sabar, Bro,” kata Yusri. Suaranya pelan, tapi tegas. Yasril juga ikut menepuk punggung Riyan. “Iya, sabar. Nanti kalau ada apa-apa, kami akan bela lu sebisa mungkin.” Riyan menatap mereka berdua. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum kecil. “Makasih. Tapi jangan terlalu ikut campur. Nanti kalian kena getahnya juga. Biar gue sendiri aja.” “Gak bisa,” potong Yusri cepat. “Kita satu kelas. Kalau ada yang gak adil, kita lawan bareng-bareng.” Riyan terdiam. Lalu dia mengangguk pelan. “Oke. Makasih.” Bel masuk berbunyi. Pelajaran sore itu adalah matematika. Yusri duduk di bangkunya, membuka buku, berusaha fokus. Di kepalanya, kata-kata Riyan masih terngiang. Tapi dia paksa dirinya untuk berkonsentrasi. Bentar lagi ujian akhir, pikirnya. Bentar lagi kelulusan. Tidak ada waktu untuk pusing dengan hal-hal seperti ini. Guru matematika masuk, dan kelas segera hening. Yusri menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan perhatian ke papan tulis. Pulang sekolah. Langit mulai jingga di ufuk barat. Yusri dan Yasril memilih jalan pintas seperti biasa jalan kecil di belakang sekolah yang tembus ke gang dekat rumah mereka. Jalan itu sepi, hanya ada satu tower BTS tinggi menjulang di tengah sawah kering. Tempat itu terkenal. Bukan karena tower-nya, tapi karena di sinilah sering terjadi pertarungan antar sekolah. Tanah kosong di bawah tower BTS sudah puluhan kali menjadi saksi bisu perkelahian anak-anak SMP dan SMA. Yusri dan Yasril sudah sering lewat sini, melihat dari kejauhan, dan memilih cuek. Tidak pernah terlibat. Tapi hari ini berbeda. Saat mereka mengayuh sepeda melewati area tower, empat sosok sudah berdiri di tengah jalan. Mereka sengaja menghalangi. Dua di antaranya bersandar pada motor, dua lagi berdiri dengan tangan disilangkan. Yusri mengerem sepedanya. Yasril di sampingnya juga berhenti. Rendi berdiri paling depan. Wajahnya masih ada bekas lebam dari tinju Yusri pagi tadi. Di belakangnya, tiga temannya berdiri Adal, Rozi, dan Joni. Mereka semua berbadan tegap, seperti atlet. Adal tinggi kurus dengan lengan berotot, Rozi pendek padat dengan d**a bidang, dan Joni paling besar, tinggi dan lebar seperti tembok. “Woi, yang naik sepeda! Berhenti lu!” teriak Rendi. Yusri menatap mereka datar. Dia tidak menjawab, hanya mengayuh sepeda pelan, berusaha lewat. Tapi Rendi tidak membiarkan. Dia berlari kecil, menghadang sepeda Yusri, dan menahan stangnya. Adal, Rozi, dan Joni ikut bergerak, mengepung mereka dari sisi lain. “Gue bilang berhenti!” Rendi menatap Yusri lekat. “Kita sparing lagi.” “Gue gak mau,” kata Yusri singkat. “Bukan tawaran,” Rendi tersenyum sinis. “Ini paksaan.” Yasril yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Lu mau apa sih? Dia lagi sakit tangan. Gak liat tuh diperban?” Rendi melirik tangan kiri Yusri yang masih terbungkus kain. Dia tertawa kecil. “Nggak masalah. Gue tunggu sampai dia sehat. Tapi sekarang, kita ngobrol dulu.” Dari arah jalan besar, suara motor mulai terdengar. Beberapa siswa SMP 2 Suger yang kebetulan lewat melihat kerumunan itu, lalu berhenti. Mereka berteriak dari kejauhan, memberi semangat. “Ayo, Rendi! Hajar!” “Sparing! Sparing! Sparing!” Yasril mulai gelisah. Yusri tetap diam, tapi matanya tidak berkedip menatap Rendi. Tiba-tiba, suara motor lain terdengar dari arah berlawanan. Sebuah motor tua berwarna hitam melaju kencang masuk ke jalan sempit itu, menerobos kerikil dan lubang-lubang di aspal. Pengendaranya membawa motor dengan liar, hingga hampir menabrak Rozi yang berdiri di pinggir. Motor itu berhenti mendadak, dan seorang pemuda turun dengan gerakan cepat. Riyan. Dia melepas helm, melemparkannya ke tanah, dan langsung berdiri di antara Yusri dan Rendi. Matanya merah, napasnya masih memburu. “Lu ngapain ngajak sparing teman gue, anjing?” kata Riyan, suaranya dingin. Rendi mengernyit. “Teman lu? Sejak kapan lu berteman dengan mereka?” “Itu urusan gue.” Riyan menatap Rendi, lalu matanya beralih ke Adal, Rozi, dan Joni satu per satu. “Lu cari lawan? Ayo sama gue. Jangan sama anak yang tangannya lagi sakit.” Adal yang tinggi kurus itu maju selangkah. “Lu siapa? Berani-beraninya lu nyampur urusan orang.” “Gue Riyan. Kelas 9A. Satu sekolah sama mereka.” Dia menunjuk Yusri dan Yasril dengan jempol. “Kalau lu cari masalah sama mereka, berarti lu cari masalah sama gue.” Joni yang paling besar tertawa. “Lu? Sendirian?” Riyan tidak menjawab. Dia hanya melepas tasnya, melemparkannya ke Yasril yang menerima dengan bingung. Lalu dengan gerakan cepat,begitu cepat hingga Joni tidak sempat bereaksi,Riyan menendang lutut Joni dari samping. Dug! Joni tersungkur, lututnya membengkok ke arah yang salah. Dia menjerit kesakitan. Riyan berputar, meninju perut Adal yang mencoba menyerang dari belakang. Adal terhuyung, lalu Riyan menendang dadanya hingga jatuh tersungkur ke tanah. Rozi yang melihat dua temannya jatuh dalam hitungan detik, mundur selangkah. Matanya membelalak. “Apa-apaan ini?” Rozi berbisik pada dirinya sendiri. Rendi juga mundur. Wajahnya yang tadi penuh percaya diri mulai berubah. Dia memandang Riyan dengan ekspresi baru bukan lagi meremehkan, tapi waspada. Yusri dan Yasril di belakang hanya bisa melongo. Mulut Yasril terbuka, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yusri juga terkejut, tapi dia mencoba menyembunyikannya. Riyan menoleh ke Rozi dan Rendi. “Masih mau sparing? Ayo. Gue tunggu.” Rozi menggeleng cepat. “Ah, cabut aja, dah! Woi, Rendi, ayo balik!” Rendi masih ragu, tapi ketika melihat Adal dan Joni sudah babak belur, dia mengalah. “Oke. Tapi ini belum selesai, Riyan. Lu tunggu aja.” “Gue tunggu,” jawab Riyan datar. Rendi membantu Joni berdiri. Adal bangkit sendiri dengan meringis memegangi perutnya. Mereka berempat berjalan tertatih ke arah motor, lalu melaju pergi dengan cepat. Dari kejauhan, para penonton SMP 2 Suger yang tadinya berteriak kini bubar tanpa suara. Sunyi. Jalan kecil di bawah tower BTS kembali sepi. Angin bertiup pelan, membawa debu dari sawah kering. Yasril yang sedari tadi diam, akhirnya angkat suara. “Lu... takut ama Riyan, ya?” berkata kermereka berempat sambil teriak. Riyan yang mendengar itu tersenyum kecil. “Mana ada. Mereka kaget aja tadi. Kita satu sekolah, tiba-tiba datang. Nanti siapa tau ada lagi yang datang. Makanya mereka takut.” Yasril mengangguk polos. “Hmm... iya, lah, itu.” Riyan memungut helmnya, membersihkan debu yang menempel. Dia menatap Yusri. “Lu gak kenapa-napa?” Yusri menggeleng. “Gak. Makasih, Yan.” Riyan hanya mengangguk. “Sama-sama. Besar kali mereka cari masalah sama orang yang lagi sakit tangan. Dasar gak tau diri.” Yasril tersenyum. “Kita duluan ya, Yan. Mau langsung pulang.” “Oke, siap,” kata Riyan sambil menyalakan motornya. Yusri dan Yasril mengayuh sepeda perlahan meninggalkan area tower BTS. Riyan masih berdiri di tempatnya, menatap mereka pergi, lalu memutar motornya ke arah lain. Riyan tidak langsung pulang. Dia mengejar Rendi dan kawan-kawannya yang sudah melaju ke arah tongkrongan PS. Motor Riyan melaju kencang di jalan aspal yang retak-retak. Di kejauhan, dia melihat Rendi, Rozi, Adal, dan Joni berhenti di depan tongkrongan PS,tempat nongkrong favorit anak-anak sekolah. Dan di sana, sudah ada Mikel bersama sekitar sepuluh temannya. Riyan mengerem motornya tepat di belakang rombongan Rendi. Rendi yang mendengar suara motor menoleh, wajahnya pucat. “Lu ngapain ngajak sparing teman gue, anjing?” kata Riyan, suaranya keras. “Yusri tangan masih sakit. Lu malah cari-cari dia di jalan sepi. Kurang ajar.” Rendi membuka mulut. Riyan sudah berdiri di hadapannya. “Kita aja yang sparing. Sekarang. Di sini,Atau lu takut?” Dari dalam tongkrongan PS, Mikel dan teman-temannya melihat kejadian itu. Beberapa dari mereka langsung berdiri, penasaran. “Eh, itu Riyan, kan?” kata salah satu teman Mikel. “Dia sekelas sama Yusri?” Mikel mengangguk pelan. “Iya.” “Tuh, dia ngajak sparing Rendi. Tapi Rendi kayaknya gak mau.” Mikel mengamati dengan seksama. Wajah Rendi yang tadinya garang kini terlihat ragu. Dia menoleh ke Adal dan Joni yang masih babak belur, lalu ke arah tongkrongan PS yang mulai ramai dengan penonton. “Udah, lupain aja, brow,” kata Rozi sambil menarik lengan Rendi. “Anggap tak ada terjadi. Mereka makin banyak.” Adal juga mendesak. “Ayo cabut, Ren. Gue masih sakit perut.” Rendi menggertakkan gigi, tapi akhirnya mengalah. “Oke. Tapi ini belum selesai.” “Gue tunggu kapan pun,” jawab Riyan santai. Rendi, Rozi, Adal, dan Joni naik ke motor masing-masing dan melaju pergi dari tongkrongan PS dengan cepat, meninggalkan debu beterbangan. Mikel keluar dari tempat duduknya, mendekati Riyan. Wajah tampannya menyunggingkan senyum kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN