Bab 8

1942 Kata
“Iya,” jawab Yusri. Matanya mengikuti Riyan yang duduk dengan d**a sedikit membusung. “Orang jangan dinilai dari sampulnya.” Bu Aida melanjutkan pelajaran dengan membahas jawaban Riyan. Suaranya yang lembut dan cara mengajarnya yang santai membuat semua orang fokus, bahkan Yusri yang masih sesekali memegangi tangannya yang sakit. Di bangku belakang, Riyan mulai tersenyum kecil. Arif di sampingnya menepuk pundaknya pelan. “Hebat, lu, Yan.” Riyan hanya mengangguk. Tapi di matanya, ada cahaya yang mulai menyala lagi. Mungkin, setelah sekian lama selalu menjadi kambing hitam, hari ini adalah hari di mana dia membuktikan sesuatu. Bahwa dia lebih dari sekadar anak bandel yang sering disalahkan. Yusri melihat itu dari bangku depan. Dia tersenyum lagi. Bukan karena Devi kali ini, tapi karena Riyan. Ada kepuasan kecil melihat seseorang yang diremehkan bisa bangkit dan menunjukkan kemampuannya. Tiga bulan lagi lulus, pikir Yusri. Mungkin kita semua sedang berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Pelajaran fisika berjalan lancar hingga bel istirahat berbunyi. Bu Aida menutup bukunya dengan senyum, memberi tugas kecil untuk minggu depan, lalu keluar kelas dengan anggun. Siswa-siswa mulai berhamburan ke kantin dan warung. Yasril menarik lengan Yusri. “Ayo, cerita sekarang. Tangan lu kenapa?” Yusri menghela napas, lalu mulai bercerita tentang pertandingan bola kemarin sore. Tentang tendangan keras dari sudut sempit. Tentang pergelangan tangannya yang keseleo. Tentang ayahnya yang mengurut dengan diam-diam dan marah yang ditahan di ujung kata. Yasril mendengarkan dengan saksama sambil sesekali tertawa kecil. “Nasib jadi kiper, ya.” “Iya,” kata Yusri sambil berdiri. “Tapi gue jadi ingat sesuatu.” “Apa?” Yusri tersenyum senyum manis yang membuat Yasril ikut tersenyum tanpa tahu alasannya. “Tentang Devi.” “Lho, kok loncat ke Devi?”seru Yasril “Pertama kali dia kenalan, gue lari.” Yasril tertawa keras. “Anjir, Ri! Lu lari? Malu-maluin banget!” “Iya, gue tahu,” Yusri tertawa kecil. “Tapi sekarang gue gak akan lari lagi.” Mereka berdua berjalan keluar kelas menuju warung Nizal. Langit masih cerah, angin pagi masih sejuk. Tangan Yusri masih sakit, tapi hatinya terasa lebih ringan. Di kejauhan, di antara kerumunan siswa yang keluar dari gerbang, dia melihat sekilas sosok Devi bersama teman-temannya. Devi menoleh, tersenyum, lalu kembali berjalan. Yusri tidak lari kali ini. Dia hanya tersenyum balik, lalu melanjutkan langkah. Warung Nizal seperti biasa ramai saat jam istirahat. Asap mi goreng mengepul dari wajan besi di belakang, bercampur dengan suara tawa dan obrolan siswa yang duduk di bangku-bangku panjang bambu. Di sudut paling pojok, Mikel sudah duduk lebih dulu dengan semangkuk soto dan es teh manis. Rambutnya yang kecoklatan sedikit basah oleh keringat habis main bola, kulit putihnya kontras dengan seragam abu-abu yang dikenakannya. Matanya tertuju pada pintu warung ketika Yusri dan Yasril masuk. Biasanya, Mikel tidak pernah menyapa Yusri. Mereka satu sekolah, satu angkatan, tapi berbeda dunia. Yusri adalah anak pendiam yang baru beberapa bulan ini berubah, sementara Mikel adalah idaman cewek sekaligus petarung tangguh yang baru kemarin membuat kekacauan di depan sekolah. Mereka tidak pernah bertukar kata lebih dari sekadar anggukan. Tapi hari ini Mikel melakukan sesuatu yang tidak biasa.“Bro,” panggil Mikel sambil mengangkat dagu ke arah Yusri. “Tangan lu kenapa? Diperban ....!” Yusri berhenti. Dia menoleh ke Mikel, agak terkejut mendengar sapaan akrab itu. Yasril di sampingnya juga melongo. “Oh, ini,” Yusri mengangkat tangan kirinya yang terbungkus kain. “Biasa, jatuh dari rumah. Buru-buru ke kamar mandi, kesandung.” Mikel menyeringai. “Yaelah, bisa-bisanya. Jatuh dari rumah sampe tangan diperban. Jangan-jangan lu berantem ?” “Bukan,” jawab Yusri singkat, meskipun matanya menghindar. Mikel tertawa kecil.“duduk sini dulu.” Yusri dan Yasril saling pandang. Yasril mengangkat bahu, lalu mereka berdua duduk di bangku yang tak jauh dari Mikel. Suasana terasa aneh biasanya mereka tidak pernah satu meja, apalagi mengobrol. Tapi Mikel tampak santai saja, menyuap sotonya sambil sesekali melirik ke arah jalan. “Dengar-dengar,” Mikel berkata di sela suapan, “lu yang bantu anak SMA itu babak belur kemarin? Yang di warung sini?” Yusri tidak menjawab. Yasril yang mengambil alih, “Iya, dia. Saya juga ikut.” Mikel mengangguk pelan. “Bagus. Gue suka orang yang punya nyali.” Sebelum Yusri sempat merespons, suara motor bergemuruh di luar warung. Bukan satu atau dua, tapi banyak. Sekitar sepuluh motor berhenti di depan warung, menimbulkan debu yang beterbangan hingga ke dalam. Yusri, Yasril, dan Mikel menoleh bersamaan. Joe turun dari motor paling depan. Rambut pirangnya yang khas masih sama, badannya yang tambun terlihat sedikit gemetar. Di belakangnya, sembilan orang lain turun dari motor masing-masing. Wajah-wajah garang, dengan seragam SMP 2 Suger yang kusut tidak karuan. Yasril bersiul kecil. “Wah, bawa bala bantuan.” Mikel meletakkan sendoknya. Matanya tidak berkedip menatap Joe. Joe melangkah masuk ke warung, matanya menyapu ruangan. Begitu melihat Mikel, dia langsung mengarah ke sana. Tapi sebelum dia sampai, matanya menangkap sosok Yusri yang duduk di samping Mikel. Joe mengernyit, lalu tanpa permisi langsung memotong pembicaraan yang sedang berlangsung. “Lu yang kemaren kan?” Joe menunjuk Mikel. Yusri tidak suka dipotong saat bicara. Apalagi orang yang memotong adalah Joe anak SMP 2 Suger yang kemarin kabur ninggalin temannya. Sesuatu dalam diri Yusri meledak. Mungkin karena tangan kirinya masih sakit, mungkin karena kesal dengan tingkah Joe yang arogan, atau mungkin karena memang sejak tadi dia sedang mencari alasan untuk meluapkan emosinya.Tanpa peringatan, tangan kanan Yusri melayang. Dug....! Tinju kanannya mendarat tepat di perut Joe. Bukan pukulan biasa itu pukulan yang dilatih setiap hari di tebing tanah merah, pukulan yang biasa menghantam batang pisang dan dinding tanah liat. Joe tersentak, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya memegangi perut. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. “Lu siapa?” kata Yusri dengan suara dingin. Matanya menatap Joe tanpa ekspresi. “Gue lagi ngomong, lu potong.” Yasril di sampingnya hampir tersedak. “Anjir, santai, Ri!” Mikel yang melihat adegan itu justru tersenyum. Matanya berbinar. “Nambah cari masalah ni orang,” gumamnya pelan, suaranya terdengar seperti kekaguman. Joe masih terhuyung, tapi sembilan temannya di belakang tidak tinggal diam. Mereka bergerak maju, mengepung. Satu dari mereka yang paling besar dan tampak paling tenang bernama Rendi. Dia tidak ikut-ikutan maju, tapi berdiri di belakang dengan tangan disilangkan, mengamati. Mikel bangkit dari duduknya. Gerakannya cepat. Begitu dua orang lawan mencoba menyerang dari kiri dan kanan, tubuh Mikel berputar seperti angin. Satu tendangan menjatuhkan yang pertama, satu pukulan membuat yang kedua terhuyung. Dengan gerakan silat yang rapi, Mikel membabat habis tiga orang dalam hitungan detik. Tapi Rendi akhirnya bergerak. Dia tidak seperti yang lain. Ketika Mikel menghadapinya, Rendi membalas dengan pukulan beruntun yang membuat Mikel sedikit mundur. Rendi ternyata punya pukulan keras dan gerakan yang tidak bisa ditebak. Mikel mengerutkan kening. “Lumayan juga.” Pertarungan antara Mikel dan Rendi berlangsung lebih sengit. Mikel mencoba tendangan putaran, Rendi menghindar. Rendi membalas dengan pukulan silang, Mikel menangkis. Untuk pertama kalinya, Mikel mendapat perlawanan seimbang. Yusri melihat itu dari samping. Tangannya yang masih terbalut kain terasa sakit, tapi matanya panas. Tanpa bicara, tanpa peringatan, dia melangkah maju. Tangan kanannya satu-satunya yang sehat ditarik ke belakang, lalu diluncurkan dengan seluruh tenaga yang dia punya. Dug...1 lagi! Tinju kanan Yusri menghantam pipi kanan Rendi dengan keras. Kepala Rendi tersentak ke samping, tubuhnya oleng seperti pohon yang akan tumbang. Dia berdiri tidak stabil, kedua matanya berputar sebentar, mencoba fokus. Rendi menggelengkan kepala. Tangannya meraba pipi yang mulai membengkak. Matanya menatap Yusri dengan ekspresi baru bukan amarah, tapi keterkejutan yang mendalam. Anjir, pikir Rendi dalam hati, baru kali ini gue kena tonjok sesakit ini. Siapa anak ini? Yusri mengangkat tinjunya lagi, berniat menghantam kedua kalinya. Tapi Yasril cepat-cepat memegang bahunya dari belakang. “Sabar, Ri! Sabar!” Yasril menarik Yusri mundur. “Tangan lu masih sakit! Masih mau berantam aja? Santai lah!” Yusri berhenti, napasnya memburu. Dadanya naik turun. Matanya masih menyala, tapi perlahan dia menurunkan tangannya. Warung Nizal mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Yusri anak yang selama ini dikenal pendiam, gampang tersinggung, yang tidak pernah terlihat marah. Kini, setelah beberapa hari terakhir, dia sudah dua kali terlibat pertarungan. Dan tinjunya... tinjunya membuat orang dewasa pun bisa oleng. Joe masih memegangi perutnya, belum pulih sepenuhnya. Rendi berdiri di belakang, masih meraba pipinya yang lebam. Delapan teman mereka yang lain terkapar di lantai atau sudah bangkit dengan muka babak belur. Yasril mengambil alih situasi. Dengan suara tegas, dia berkata, “Udah, pergi! Jangan cari masalah lagi di sini! Kalau masih mau berantem, cari tempat lain!” Joe tidak menjawab. Dia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berbalik. Teman-temannya yang masih bisa berdiri membantu yang lain. Mereka berjalan keluar dengan langkah terseok-seok, meninggalkan warung yang porak-poranda. Rendi adalah yang terakhir keluar. Sebelum melangkah, dia menoleh sekali lagi. Matanya menatap Yusri lekat-lekat, seperti mencoba mengukir wajah itu di ingatannya. Lalu tanpa sepatah kata, dia pergi.Mereka semua pergi dengan ekor di antara kaki. Warung perlahan kembali ramai. Zainal keluar dari dapur, melihat meja-meja yang berantakan, tapi hanya menghela napas. “Dasar anak-anak,” gerutunya, lalu mulai membereskan. Yusri duduk kembali di bangkunya. Tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang masih meluap. Yasril duduk di sampingnya, mengusap punggungnya pelan. “Kau kenapa sih, Ri? Emosi banget,” kata Yasril dengan nada khawatir.Yusri tidak menjawab. Dia hanya menatap tangan kanannya buku-buku jari merah, sedikit lecet. Mikel yang sejak tadi mengamati, akhirnya duduk di hadapan Yusri. Wajahnya tersenyum, tapi matanya serius. “Kau,” kata Mikel pelan. Yusri mengangkat kepala. “Apa maksudnya?” “Tinju kau. Itu bukan tinju anak SMP. Kau latihan di mana?” Yusri terdiam. Dia tidak pernah memberitahu siapa pun tentang latihannya di tebing tanah merah. Itu rahasianya. Mikel tidak memaksa. Dia hanya mengangguk paham. “Rahasia, ya. Baiklah. Tapi hati-hati. Kau punya kekuatan yang kalau tidak dikendalikan, bisa celaka. Kau tahu itu, kan?” Yusri menatap Mikel. Ada kejujuran di mata pemuda tampan itu. Mikel tidak mengejek, tidak meremehkan. Dia hanya memperingatkan, seperti seorang kakak yang lebih tua. “Gue tahu,” jawab Yusri akhirnya. Mikel mengangguk lagi, lalu berdiri. “Sekarang, gue traktir kalian berdua. Sebagai terima kasih karena sudah bantu tadi.” “Kami gak bantu,” kata Yasril cepat. “Yusri malah hampir bunuh orang.” Mikel tertawa. “Ya, tapi setidaknya kalian ada di sini. Itu sudah cukup.” Dia memanggil Zainal dan memesan tiga porsi mi goreng plus es teh manis. Zainal mengangguk, lalu kembali ke dapur. Sementara mereka menunggu, bisik-bisik mulai terdengar dari pengunjung lain. Beberapa siswa SMP 4 Suger yang ada di warung sejak tadi saling berbisik. “Itu Yusri, kan? Yang kemarin lawan anak SMA?” “Iya. Tadi dia pukul Joe sampe bengkok.” “Gila, biasanya dia diem aja. Ternyata doyan berantem juga.” “Jangan diusik, ah. Katanya dia punya kakak di SMK yang ditakuti. Dan sekarang temenan sama Mikel pula.” “Iya. Sebaiknya jangan diganggu.” Yusri mendengar bisik-bisik itu. Sebelumnya, mungkin dia akan tersinggung. Tapi sekarang, dia hanya tersenyum kecil. Bukan karena sombong, tapi karena dia merasa... diakui. Untuk pertama kalinya, orang-orang melihatnya bukan sebagai anak pendiam yang lemah, tapi sebagai seseorang yang tidak bisa dianggap remeh. Yasril menepuk pundaknya. “Kau sekarang terkenal, Ri.” “Gue gak butuh terkenal,” jawab Yusri. “Tapi kau butuh dihormati.”balas yasril. Yusri menoleh ke sahabatnya itu. Yasril tersenyum, dan Yusri tahu, sahabatnya itu mengerti. mi goreng datang. Mereka bertiga makan bersama Mikel, Yusri, dan Yasril dalam keheningan yang nyaman. Di luar warung, langit mulai beranjak siang. Matahari naik tinggi, membakar aspal jalan, tapi di dalam warung Nizal, ada kehangatan yang baru terbentuk. Sebuah persahabatan yang tidak terduga. Sebuah kekuatan yang mulai dikenal. Dan seorang anak laki-laki dengan tangan terbalut kain yang masih menyimpan lebih banyak rahasia dari yang orang kira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN