Bab 5

1211 Kata
Bu Wati akhirnya menyuruh Riyan ke ruang Bimbingan Konseling. “Sekarang pergi ke ruang BK! Saya tidak mau lihat kamu di kelas saya!” Riyan tidak bergerak. Dia tidak mau pergi. Dia merasa tidak salah. Pelajaran berlanjut, tapi suasana kelas jadi tegang. Bu Wati kembali menjelaskan dengan suara yang dibuat-buat ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi beberapa siswa masih menunduk, termasuk Farhan yang sejak tadi diam dan terlihat jijik dengan dirinya sendiri. Yusri dan Yasril pun merasa jijik melihat ketidakadilan itu. Pergantian jam pelajaran tiba. Riyan masih belum pergi ke BK. Malah, suara kepala sekolah terdengar dari pengeras suara di seluruh sekolah. “Riyan dari kelas 9A, segera ke ruang BK. Diulang, Riyan dari kelas 9A, segera ke ruang BK.” Sekolah menjadi ramai. Semua kelas mendengar nama Riyan disebut melalui mic. Bagi yang tidak tahu akar masalah, mereka langsung menyimpulkan sendiri. “Itu Riyan anak bandel, pasti berulah lagi,” kata seorang siswa dari kelas lain. “Udah sewajarnya dia dipanggil,” timpal yang lain. Riyan akhirnya bangkit dari kursinya dengan muka merah padam, menahan malu. Dia berjalan keluar kelas tanpa menatap siapa pun. Di lorong, beberapa siswa dari kelas lain menatapnya dengan sinis. Ada yang bersiul kecil, ada yang tertawa. Yusri dan Yasril melihat itu dari balik jendela. Hati mereka terasa perih. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jam istirahat tiba. Bel berbunyi, dan kelas 9A langsung kosong. Sebagian siswa menuju kantin, sebagian lagi ke warung-warung di luar sekolah. Yusri dan Yasril, seperti biasa, berjalan ke warung Nizal di pinggir jalan depan sekolah. Di belakang mereka, Mikel berjalan sendirian. Hari ini dia tidak bersama teman-temannya yang biasa. Dia juga menuju warung Nizal. Tapi belum sampai di warung, kejadian tak terduga muncul. Dari arah berlawanan, tiga sepeda motor melaju kencang. Mereka tidak memperhatikan Mikel yang sedang menyeberang. Salah satu motor hampir menabrak Mikel hanya terpaut beberapa sentimeter. “Woi!” teriak Mikel spontan. “Ngapain lo?! Hampir nabrak gue!” Tiga motor itu berputar balik. Mereka ternyata siswa dari SMP 2 Suger sekolah tetangga yang sering bersaing. Seorang siswa dengan rambut pirang dan badan tambun turun dari motor. Namanya Joe, terkenal sebagai tukang cari gara-gara di sekolahnya. “Lu neriaki siapa, anjing?” Joe mendekat dengan d**a membusung. Mikel tidak mundur. “Lu salah, lu yang nyaris nabrak. Terus lu sewot?” Joe tidak suka dilawan. Tanpa peringatan, dia langsung menyerang tinju kanan meluncur ke arah wajah Mikel. Tapi Mikel bukan anak biasa. Sejak kecil dia belajar silat. Dengan gerakan lincah, dia menghindari tinju Joe, lalu membalas dengan pukulan tepat ke perut Joe. Joe tersungkur, terkapar di aspal. Satu pukulan langsung KO. Teman-teman Joe yang lain total lima orang langsung turun dari motor. Mereka mengepung Mikel. Satu dari belakang menendang, satu dari samping mencoba memukul. Tapi Mikel bergerak seperti air. Setiap serangan dihindari, setiap celah dibalas dengan pukulan dan tendangan yang presisi. Yusri dan Yasril yang sudah sampai di depan warung Nizal melihat kejadian itu dari kejauhan. “Gila, si Mikel,” gumam Yasril matanya membulat. Yusri mengamati dengan saksama. Gerakan Mikel rapi, tidak asal-asalan. Ini bukan anak yang asal berkelahi. Ini anak yang terlatih. “Ayo kita bantu?” tanya Yasril, mulai bergerak. Tapi Yusri menggeleng. “Gampang itu buat Mikel. Lihat aja.” Pertarungan berlangsung sengit. Satu lawan enam, tapi Mikel masih bisa bertahan. Sampai akhirnya, salah satu lawan yang licik menendang Mikel dari belakang saat dia sedang fokus menghadapi dua orang di depan. Tendangan itu mengenai perut Mikel. Dia sedikit terhuyung. Mikel mengusap perutnya, matanya menyala. “Anjing! Main serang diam-diam!” Dengan amarah yang memuncak, Mikel balik menyerang habis-habisan. Dua lawan langsung jatuh tak berkutik. Satu lagi mencoba kabur, tapi Mikel mengejar dan menjatuhkannya. Saat situasi mulai memanas, sekelompok siswa yang disebut Ketua Oasis dan pengurus OSIS datang melerai. Joe, yang sedari tadi pingsan, sudah bangun dan melihat teman-temannya babak belur. Dia tidak berani mendekat lagi. Malah, dengan cepat dia menyalakan motornya dan kabur sendirian, meninggalkan kelima temannya yang terkapar. Kelima siswa SMP 2 Suger itu akhirnya diamankan. Mereka harus berurusan dengan pihak sekolah. Peristiwa itu membuat nama Mikel semakin melambung. Dari yang tadinya hanya dikenal sebagai anak tampan idaman cewek, kini dia juga dikenal sebagai petarung tangguh. Yusri, yang menyaksikan semuanya dari pinggir jalan, merasa kagum. Bukan hanya karena kekuatan Mikel, tapi karena pengendalian dirinya. Mikel tidak memukul lebih dari yang diperlukan. Dia hanya membela diri, dan ketika lawan sudah jatuh, dia tidak menghabisi. Orang ini beda, pikir Yusri. Yasril bersiul kecil. “Mikel keren juga.” “Iya,” jawab Yusri singkat. Mereka berdua masuk ke warung Nizal seperti biasa. Mikel, yang melihat mereka dari kejauhan, hanya mengangguk kecil. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata. Hanya anggukan singkat, lalu dia masuk ke warung dan duduk di sudut sendiri. Pulang sekolah. Yusri tidak langsung pulang ke rumah. Dia memutar arah ke belakang rumahnya, ke sebuah tebing kecil yang tertutup pohon pisang dan semak belukar. Tempat ini hanya dia yang tahu. Tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya di sini. Tebing itu terbuat dari tanah merah tanah liat yang padat, keras, dan licin jika terkena air. Tapi Yusri sudah terbiasa. Sejak kecil, dia sering datang ke sini untuk berlatih. Dia melepas sepatu, lalu berdiri tegak di hadapan dinding tanah merah itu. Napasnya diatur, perlahan, dalam. Kemudian, dia mulai memukul. Dug! Dug! Dug! Tinjunya menghantam tanah merah berulang kali. Tanah liat itu padat, hampir sekeras beton jika tidak terkena air. Setiap pukulan meninggalkan bekas cekungan kecil. Jari-jari Yusri mulai terasa panas, kulit di buku-buku jari mulai memerah. Tapi dia tidak berhenti. Kadang, jika tanah merah terlalu keras, dia beralih ke batang pisang di samping tebing. Batang pisang yang berair itu lebih lunak, tapi tetap memberikan latihan bagi otot-otot lengannya. Atau kadang dia meninju batang pohon yang lebih keras. Dia melakukan ini seorang diri. Tidak ada yang tahu. Bukan karena dia ingin menyembunyikan, tapi karena dia tidak pernah merasa perlu untuk membanggakannya. Latihan ini dimulai sejak kecil, entah kenapa. Mungkin karena dulu dia merasa lemah. Mungkin karena dia ingin memiliki sesuatu yang hanya miliknya. Atau mungkin, karena dia ingat betul bagaimana tinjunya dulu melukai Farrel, dan dia takut jika tidak mengendalikan kekuatannya, dia akan melukai orang lain lagi. Jadi dia berlatih. Setiap hari. Diam-diam. Di kejauhan, dari balik rimbun pohon pisang, suara motor belum terdengar. Farrel belum pulang. Sekolah SMK-nya pulang sekitar jam tiga atau empat sore, tergantung ada ekstrakurikuler atau tidak. Yusri senang punya waktu sendiri di sini. Tanpa gangguan, tanpa suara berisik, tanpa pertengkaran. Sore itu, setelah puluhan pukulan, Yusri berhenti. Dia menatap kedua tangannya. Buku-buku jari merah, sedikit lecet. Dia mengusapnya dengan air dari botol minum, lalu memasukkannya ke saku celana. Dia melihat langit sore yang mulai jingga. Di kepalanya, bayangan Bu Wati yang memukul Riyan dengan penggaris muncul kembali. Bayangan Mikel yang bertarung satu lawan enam juga datang silih berganti. Dunia ini ternyata tidak sesederhana yang dia kira. Ada ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang dihormati. Ada kekuatan yang dimiliki oleh orang yang diam-diam. Dan di antara semuanya, Yusri merasa dia berada di persimpangan yang sama. Tiga bulan lagi lulus, pikirnya. Apa yang akan terjadi setelah itu? Dia tidak tahu. Tapi dia tahu, dia tidak akan menjadi anak pendiam yang gampang tersinggung lagi. Dia sudah memilih jalannya. Yusri memakai sepatunya, lalu berjalan pulang. Dari kejauhan, akhirnya suara motor King hitam terdengar memasuki gang. Farrel pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN