Bab 6

1752 Kata
Sore itu, Farrel pulang lebih awal dari biasanya. Motor King hitamnya melaju pelan memasuki gang, lalu berhenti di depan rumah. Dia melepas helm, merapikan rambutnya yang hitam legam, lalu langsung masuk ke dalam. “Yus!” teriaknya dari ruang tamu. “Ayo main bola!” Yusri yang sedang berbaring di kamar mengernyit. “Main bola? Di mana, Bang?” “Di lapangan Etek Kadai. Sekarang lagi ada pertandingan antar kampung. Ayo, rame tuh!” Yusri bangkit dari kasur, ragu. “Bang, nanti ketauan sama Ayah. Kena marah kita.” Farrel mendekati pintu kamar, bersandar dengan santai. “Ayah belum pulang, Dek. Jam segini mah masih jualan. Ayo, cepat! Jangan banyak alasan.” Yusri terdiam sejenak. Matanya menatap lantai, berpikir. Tapi godaan untuk bermain bola di lapangan yang lumayan bagus itu terlalu kuat. Lagipula, sejak beberapa bulan terakhir dia jarang bermain karena sibuk dengan “perubahan” dirinya yang sekarang. “Ya udah,” gumam Yusri akhirnya. “Tapi bentar, Bang. Jangan lama-lama.” Farrel tersenyum lebar. “Siap, Kiper!” “Kiper?” Yusri mengerutkan kening. “Masa gue kiper?” “Nanti di sana lihat aja. Cepat ganti baju!” Lapangan Etek Kadai terletak tak jauh dari rumah mereka, hanya sekitar lima ratus meter melewati gang dan persawahan kecil. Namanya diambil dari warung milik seorang nenek Etek Kadai yang menjual es kelapa muda dan gorengan di pinggir lapangan. Lapangan itu bukan lapangan resmi, hanya tanah lapang yang diratakan dan diberi tiang bambu sebagai gawang. Tapi rumputnya cukup hijau, dan hampir setiap sore ramai dengan anak-anak desa maupun dari desa tetangga yang datang untuk bermain. Ketika Farrel dan Yusri tiba, lapangan sudah ramai. Dua kelompok sedang melakukan pemanasan. Yang satu memakai kaos merah, yang satu lagi kaos putih. Dari postur tubuh mereka, terlihat ini adalah pertandingan serius bukan sekadar main-main anak kecil. “Wah, rame juga,” kata Farrel sambil menggulung lengan baju. Seorang pria berkumis tebal yang mengatur tim mendekati mereka. “Farrel! Ikut main, Bang? Tim merah kurang pemain.” “Boleh,” jawab Farrel. Dia menunjuk ke arah Yusri. “Adek saya juga ikut.” Pria berkumis itu memandang Yusri dari ujung kepala sampai ujung kaki. Badan Yusri paling kecil di antara semua pemain. “Dia bisa main di posisi apa?” Farrel menoleh ke Yusri. “Dia kiper.” “Kiper?” Yusri spontan protes. “Bang, gue paling kecil! Masa iya jadi kiper? Lawannya besar-besar! Ntar tendangannya kuat, bisa patah tangan gue!” Pria berkumis itu tertawa. “Santai aja, Dek. Nanti kita kasih tahu mereka jangan nendang keras-keras.” Yusri tidak yakin, tapi Farrel sudah mendorongnya ke depan gawang. “Ya udah, jadi kiper aja. Yang penting ikut main.” Yusri menghela napas pasrah. Dia berdiri di bawah gawang bambu, memakai kaos merah yang kebesaran, dan berusaha fokus. Di depannya, para pemain mulai berbaris. Farrel menjadi penyerang andalan tim merah. Sementara Yusri, adiknya, hanya bisa berdiri di gawang dengan perasaan campur aduk. Pertandingan dimulai. Awalnya berjalan biasa saja. Tim merah dan tim putih saling menyerang, bola berpindah-pindah, dan Farrel dengan lincahnya menggiring bola melewati lawan. Yusri hanya sesekali menyentuh bola, itu pun tendangan lemah yang mudah diamankan. Tapi memasuki pertengahan babak, situasi mulai memanas. Seorang pemain tim putih yang bertubuh tambun mulai bermain kasar. Beberapa kali dia sengaja mengincar kaki lawan, menjatuhkan pemain merah tanpa bola. Peluit panjang dari wasit dadakan terdengar beberapa kali, tapi pemain itu tidak jera. “Lu sengaja, ya?” teriak salah satu pemain merah. “Biasa aja, namanya juga main bola!” balas pemain tambun itu. Farrel yang melihat dari kejauhan hanya tertawa kecil. Dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Main bola antar kampung memang kadang panas, tapi jarang sampai baku hantam. Paling hanya adu mulut lalu kembali bermain. Tapi bagi Yusri, yang berdiri di gawang, setiap benturan keras membuatnya sedikit tegang. Dia mengamati gerakan para pemain, mencoba memprediksi di mana bola akan datang. Lalu, dalam sekejap, semuanya terjadi begitu cepat. Bola hasil rebutan dari lini tengah melambung ke sisi kanan. Pemain sayap tim putih berlari kencang melewati bek tim merah yang lengah. Tanpa ampun, dia melepaskan tendangan keras dari sudut sempit mengarah tepat ke gawang Yusri. Yusri bergerak refleks. Badannya melompat ke kiri, tangan kirinya terulur untuk menepis bola. Bola itu keras. Sangat keras. Jauh lebih keras dari yang dia kira. KREEEEEEEK..! Bola berhasil ditepis. Bola melambung keluar, dan beberapa pemain bersorak kecil. Tapi Yusri tidak merasakan euforia. Dia merasakan sesuatu yang salah di pergelangan tangan kirinya. Sebuah rasa sakit yang tajam, menusuk, menyebar dari pergelangan hingga ke siku. Dia jatuh berlutut, memegangi tangan kirinya dengan tangan kanan. Wajahnya memucat. “Aduh...” dia meringis, napasnya terengah. “Anjir... sakitt...” Beberapa pemain dan penonton mendekati. Farrel yang sedang di lini tengah langsung berlari ke arah gawang. “Ri! Lu kenapa?” Farrel membungkuk, mencoba melihat tangan adiknya. “Tangan gue... kayak keseleo, Bang,” jawab Yusri dengan suara tertahan. “Pas nangkep bola tadi... keras banget...” Orang-orang di sekitarnya mencoba membantu. Ada yang menawarkan minyak urut, ada yang ingin memijat pergelangan Yusri. Tapi begitu tangan Yusri disentuh sedikit saja, dia langsung meringis keras. “Sakit, Bang! Jangan pegang dulu!” Wajah Yusri pucat, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Pergelangan tangan kirinya mulai membengkak terlihat lebih besar dari biasanya, dengan warna kemerahan di sekitar tulang. “Kayaknya keseleo parah, tuh,” kata seorang pemain tua yang paham cedera olahraga. “Jangan diurut dulu. Nanti malah tambah bengkak. Biarkan dulu, ntar kompres air dingin.” Farrel mengangguk, tapi wajahnya terlihat khawatir. Dia memegang bahu Yusri. “Lu kuat, Ri? Kita pulang sekarang?” Yusri mengangguk pelan, masih meringis. Di kejauhan, dari arah jalan raya yang membelah desa, sebuah motor Vega R berwarna hitam melaju pelan. Pengendaranya seorang pria paruh baya dengan kemeja lusuh dan tas kresek berisi jam-jam yang tidak laku tergantung di setang. Itu Rayendra ayah Yusri dan Farrel. Dia melihat kerumunan orang di lapangan Etek Kadai. Biasanya dia tidak peduli. Tapi kali ini, matanya menangkap dua sosok yang dikenalnya. Farrel Dan Yusri. Rayendra mematikan mesin motor. Dia berjalan mendekati kerumunan, tanpa suara. Orang-orang yang melihatnya langsung memberi jalan. Mereka tahu siapa Rayendra,ayah dari dua anak yang sering main di lapangan itu. Rayendra melihat Yusri yang sedang duduk di tanah dengan tangan kiri bengkak, wajah pucat meringis kesakitan. Dia melihat Farrel yang berdiri di samping adiknya dengan ekspresi khawatir. Tidak ada kata-kata. Rayendra hanya mendekat, menggandeng tangan kanan Yusri, lalu menariknya berdiri. “Ayo pulang,” katanya datar. Tidak marah. Tidak membentak. Tapi suaranya dingin, seperti angin malam yang menusuk tulang. Farrel dan Yusri tidak berani berkata apa-apa. Mereka berdua mengikuti ayahnya yang berjalan ke arah motor Vega R. Farrel membantu Yusri naik ke jok belakang motor ayahnya, sementara dia sendiri mengendarai motornya sendiri mengikuti dari belakang. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Yusri memegangi tangan kirinya yang bengkak, menahan sakit, sementara di depannya, punggung ayahnya yang kurus tampak tegang. Farrel di belakang hanya bisa menunduk, menyesali kenapa dia mengajak adiknya main bola. Sesampainya di rumah, Rayendra langsung membuka pintu dan mempersilakan Yusri duduk di kursi ruang tamu. Ibu Riana yang melihat tangan Yusri bengkak langsung panik, tapi Rayendra mengangkat tangan, memberi isyarat agar diam. “Duduk,” perintah Rayendra pada Yusri. Suaranya masih datar, tapi ada nada yang tidak bisa dibantah. Yusri duduk dengan patuh, tangannya tergeletak di pangkuan. Rayendra mengambil minyak urut dari lemari, lalu duduk di hadapan Yusri. Dengan gerakan perlahan dan penuh perhitungan, dia mulai memegang pergelangan tangan Yusri. Yusri meringis. “Aduh, Yah...” “Diam,” kata Rayendra. Tangannya terus bekerja, memijat dengan tekanan yang pas, mencari titik yang tepat. “Biarlah Ayah urut. Nanti sembuh.” Setelah beberapa menit, bengkak mulai terlihat sedikit berkurang. Yusri masih meringis, tapi rasa sakitnya mulai berkurang. Rayendra berbicara sokoloh matanya masih fokus pada tangan Yusri. “Ngapain main bola? Sudah Ayah katakan jangan main bola.” Yusri diam. “Main bola itu tidak ada gunanya,” lanjut Rayendra, suaranya sedikit meninggi. “Kalau kaki atau tanganmu patah, siapa yang repot? Ayahmu ini juga yang repot. Ibu kamu juga. Bukan siapa-siapa.” Farrel yang berdiri di pintu akhirnya angkat bicara. “Maaf, Yah. Tadi Farrel yang ngajak Yusri.” Rayendra berhenti bergerak. Matanya menatap Farrel tajam. Untuk sesaat, Farrel mengira ayahnya akan marah besar membentak, mungkin melempar sesuatu, seperti yang kadang dilakukan ayah-ayah lain kalau marah. Tapi Rayendra tidak melakukannya. Dia menahan. Napasnya ditarik dalam-dalam, lalu dilepaskan perlahan. “Lain kali,” kata Rayendra akhirnya, suaranya kembali datar tapi berat, “jangan sampai Ayah lihat kalian main bola lagi. Mengerti?” Farrel mengangguk cepat. “Iya, Yah.” Yusri juga mengangguk, meskipun tangannya masih sakit. “Iya, Yah. Gak main lagi.” Rayendra menghela napas panjang. Dia menyelesaikan pengurutan, lalu membalut pergelangan Yusri dengan kain bersih. “Besok sudah bisa sembuh. Jangan dipakai berat dulu.” Setelah selesai, Rayendra berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan ke kamarnya, membanting pintu perlahan tidak keras, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa dia kesal. Dari balik pintu, terdengar suara kursi digeser. Mungkin dia duduk, mencoba menenangkan diri. Farrel dan Yusri saling pandang. Farrel duduk di samping Yusri, menepuk pundaknya pelan. “Maaf, Ri. Gue yang ngajak.” Yusri tersenyum tipis. Senyum manisnya, meski wajahnya masih pucat. “Gak apa-apa, Bang. Gue juga mau ikut kok.” Farrel tertawa kecil. “Iya, lu kan emang suka main bola. Cuma kali ini jadi kiper.” “Nasib,” kata Yusri sambil menggeleng. Mereka berdua terdiam. Suara televisi tetangga terdengar samar-samar dari kejauhan. Angin malam mulai masuk, membawa bau tanah basah dari sawah. Farrel berdiri, menuju dapur. “Gue buat teh manis. Biar lu anget.” Yusri hanya mengangguk. Dia menatap pergelangan tangannya yang dibalut kain. Rasanya masih perih, tapi tidak separah tadi. Ayahnya memang pintar mengurut. Dari balik pintu kamar, Rayendra masih terdengar diam. Farrel dan Yusri tahu ayahnya bukan orang yang suka meluapkan emosi. Semua kekesalan, semua kekecewaan, semuanya dipendam sendiri. Mungkin itu sebabnya wajahnya selalu terlihat lesu. Bukan hanya karena jualan jam yang sepi, tapi karena beban yang terus dia pikul sendirian. Yusri memejamkan mata. Sakit di tangan kirinya mengingatkannya pada sesuatu. Dulu, dia pernah melukai Farrel dengan tinjunya. Saat itu, dia berjanji untuk tidak menggunakan kekuatannya sembarangan. Tapi hari ini, dia terluka karena kelemahannya sendiri. Ironis. Mungkin, pikir Yusri, aku harus lebih keras berlatih lagi. Agar tidak mudah cedera. Agar bisa melindungi diri sendiri. Agar bisa melindungi orang yang aku sayangi. Di dapur, air mulai mendidih. Farrel menuangkan teh ke dalam dua gelas, memasukkan gula batu, lalu membawanya ke ruang tamu. Mereka berdua minum teh di malam yang sunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN