Zahra masuk ke ruang makan, dan sesuatu terjadi. Attar, yang sudah makan beberapa suap, menyindir Zahra dengan kata-kata yang kurang menyenangkan, "Lama banget mandinya. Bangun kesiangan ya."
Zahra yang awalnya akan duduk menghentikan langkahnya, membuat Liliana kesal. Liliana berkata, "Attar! Hentikan itu! Ibu tidak suka kamu mengatakan itu. Apa tadi kamu bilang? Kesiangan? Ara kesiangan?"
Attar tetap cuek dan mengatakan, "Memang begitu kenyataannya. Dia bangun kesiangan."
Suasana di meja makan semakin panas, tetapi Zahra memberi kode kepada Liliana agar tetap tenang. Zahra mendekati Liliana dan memintanya untuk bersikap sabar.
"Bu, tenang ya," pintanya.
Liliana akhirnya luluh dan mengangguk. Dia berkata pada Zahra, "Ayo, sayang, kita sarapan. Jangan terlalu mendengarkan kata-kata Attar."
Zahra duduk di kursi dekat Liliana, sementara Attar sudah menghabiskan makanannya dan minum. Dia berdiri, "Aku berangkat dulu," dan pergi meninggalkan ruang makan begitu saja.
Zahra hanya bisa diam tanpa berkutik, sementara Liliana menggelengkan kepalanya. Kemudian, Liliana mengusap lengan Zahra dengan penuh kepedulian, "Ara, sabar ya, sayang." Zahra mengangguk, merasa didukung oleh Liliana.
Zahra dan Liliana yang akhirnya sarapan dengan tenang. Keduanya duduk bersama, mengunyah makanan dengan hening, sambil merenungkan pikiran masing-masing.
Zahra berbicara dalam hati, 'Sampai kapan aku diperlakukan seperti ini. Rasanya aku harus siap mental setiap harinya menghadapi Attar yang sepertinya semakin hari semakin membenciku.'
Sementara itu, Liliana juga berkata dalam hati saat ia makan, 'Semoga Ara kuat, semoga Attar cepat bisa jatuh cinta pada Ara. Bagaimanapun, Ara adalah istrinya, dan sudah seharusnya Ara mendapatkan kasih sayang dan perhatian darinya."
setelah Zahra dan Liliana selesai makan. Liliana kemudian berkata, "Ara, hari ini hingga beberapa hari kedepan, ibu akan menginap di rumah anak pertama ibu, kak Setia. Katanya anaknya sakit, dan suaminya sedang ke luar kota. Kamu tidak apa-apa kan ibu tinggal?" tanya Liliana.
Zahra menjawab dengan ramah, "Tidak, kok."
"Bu. Kalau Ara tidak bekerja, mungkin Ara juga ingin ikut. Ara tak yakin diberi izin jika mendadak seperti ini. Aku titip salam saja ya, Bu, pada kak Setia."
Liliana mengangguk dan berkata, "tidak apa-apa. Kamu baik-baik di sini. Kalau kamu mau bertemu orang tuamu, boleh. Kamu boleh melakukan apapun, tapi kalau bisa, izin dulu ya, sama suamimu, Attar."
Zahra mengangguk, meskipun sebenarnya ia tak yakin Attar akan meresponnya dengan baik. Tetapi ia tetap berharap semuanya akan berjalan lancar.
Sementara itu Attar sedang mengemudikan mobilnya menuju kantor. Saat dalam perjalanan, ponselnya berdering, dan Attar sekilas melihat siapa yang menelpon. Ternyata, yang menelpon adalah Sandra. Attar segera memakai handsfree dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo," sambutnya panggilan dari kekasihnya itu.
Sandra menjawab dengan nada ceria di seberang telepon, "Halo, sayang! Selamat pagi!"
Attar tersenyum, "Aku baik, sayang. Ada apa?"
Tanya Attar langsung bertanya pada Sandra, dan Sandra menjawab, "Sayang, sore ini aku bisa pulang! Apa kamu bisa menjemputku? Aku ingin dijemput olehmu."
Attar dengan senang hati menjawab, "Oke, siap." Sandra pun mengucapkan terima kasih, "Terima kasih, sayang. Aku akan menunggumu. Aku yakin jika kamu yang menjemput aku, aku akan lebih cepat pulih lagi."
"Oke. Aku sedang di jalan, jadi nanti kita bicara lagi ya!"
"Oke siap sayangku," jawab Sandra.
Attar melanjutkan perjalanannya dengan fokus, tetapi pikirannya terus melayang ke pernikahannya dengan Zahra. Dia berkata, "Cepat atau lambat, mungkin Sandra juga akan tahu tentang aku yang sudah menikahi sahabatnya sendiri. Tapi yang terpenting, aku harus mencegah Sandra mengetahuinya, bahkan aku ingin Sandra tak pernah tahu tentang hal ini."
Pikiran Attar dipenuhi dengan kekhawatiran dan pertimbangan tentang bagaimana menjaga rahasia pernikahannya dengan Zahra agar tidak terungkap kepada Sandra.
Disisi lain Zahra yang sedang menunggu bis di halte. Dia menerima pesan dari Sandra dan membaca dengan hati yang berdebar.
[Sandra: Ara, sore ini aku pulang dari rumah sakit. Aku akan dijemput oleh Attar. Aku sangat senang sekali. Apa kamu tahu, Attar adalah lelaki idamanku, dia sangat perhatian dan posesif sekali padaku. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekatinya Kalau ada yang mendekatinya aku akan menyingkirkannya.]
Zahra merasa tertohok setelah membaca pesan tersebut. Perasaannya campur aduk, dia merasa seperti orang yang menyimpan rahasia besar yang tidak bisa dia ungkapkan kepada Sandra. Ia merasa jadi orang jahat karena harus merahasiakan pernikahannya dengan Attar, yang sekarang dianggap sebagai 'lelaki idaman' oleh Sandra, sahabatnya sendiri.
Zahra pun langsung membalas pesan dari Sandra dengan perasaan tak menentu.
[Zahra: aku senang kamu pulang Sandra. Cepat pulih seperti sedia kala lagi, sahabat. Biar nanti kita bisa jalan-jalan lagi.]
Setelah ia membalas pesan pada Sandra, tiba-tiba ponsel Zahra berdering, dan dia melihat bahwa itu adalah telepon dari Calista, pemilik toko kue tempatnya bekerja.
Zahra menjawab telepon itu dengan ramah, "Mbak Calista?"
Dari seberang telepon, Calista berkata, "Halo, Zahra. Mungkin saya agak telat datang ke toko. Tolong kamu kondisikan toko ya sebelum kamu masuk dapur. Saya percaya padamu."
Zahra merasa senang diberi kepercayaan seperti itu, dan dia menjawab, "Baik, Mbak."
Calista pun mengucapkan terima kasih, "Terima kasih ya, Zahra."
Zahra menjawab dengan ramah, "Sama-sama."
Setelah itu, panggilan telepon pun berakhir, dan Zahra siap untuk mengurus toko kue tersebut dengan penuh tanggung jawab. Zahra merasa panggilan dari Calista sedikit mengubah perasaanya.
Setelah menerima panggilan dari Calista, sebuah bus berhenti tepat di halte. Zahra naik ke bus itu dan beruntung mendapatkan satu kursi yang kosong saat dia naik. Dia duduk di bangku tersebut, dan selama perjalanan, dia mulai merenung tentang ayah dan ibunya.
Saat dia merasa ingin tahu kabar bahkan bertemu dengan mereka, Zahra mengirim pesan kepada ibunya.
[Zahra: Apa kabar, Bapak dan Ibu?]
Namun, ternyata pesan yang dikirimkan oleh Zahra belum terkirim kepada ibunya. Di sana, hanya terlihat ceklis tunggal, menandakan bahwa ponsel ibunya tidak terhubung ke internet.
Zahra merasa sedikit kecewa karena tidak bisa menghubungi orang tuanya pada saat itu, tetapi dia tetap berharap mereka baik-baik saja.
"Semoga ayah dan ibu baik-baik saja," ucap Zahra pelan.
Di rumah, Liliana menghampiri Asih yang sedang beres-beres di dapur.
"Asih," panggil Liliana, Asih pun melihat ke arah Liliana yang baru masuk ke dapur, "iya nyonya."
Asih berjalan mendekati Liliana yang berdiri di dekat pintu
Liliana dengan lembut berkata kepada asisten rumah tangganya, "Asih, saya titip Attar dan Zahra ya. Jika Zahra ingin memasak, biarkan saja. Ini adalah perintah dari saya. Saya yakin Attar tidak akan menyadarinya."
Asih mengangguk mengerti, "Baik, Nyonya. Saya akan memastikan semuanya berjalan dengan baik."
"Terima kasih Asih, saya tahu kamu bisa diandalkan," ucap Liliana. Asih pun mengangguk.
Zahra baru turun dari bis, dan dia berjalan menuju toko tempat dia bekerja. Saat dia berjalan, tiba-tiba, dia dikagetkan dengan sebuah mobil sedan putih yang berhenti tepat di depannya. Zahra terkejut dan tak lama kemudian, kaca mobil terbuka, dan dari dalam terdengar suara yang memanggilnya, "Ara."