Zahra baru turun dari bis, dan dia berjalan menuju toko tempat dia bekerja. Saat dia berjalan, tiba-tiba, dia dikagetkan dengan sebuah mobil sedan putih yang berhenti tepat di depannya. Zahra terkejut dan tak lama kemudian, kaca mobil terbuka, dan dari dalam terdengar suara yang memanggilnya, "Ara."
Zahra melihat ke arah mobil yang baru saja berhenti, dan ternyata dibalik kemudi mobil itu adalah Hadi.
Zahra pun menyebut nama Hadi dengan senyum, "kak Hadi."
Hadi mengajak Zahra untuk masuk ke dalam mobilnya, "Ara, ayo masuk. Aku juga akan ke toko Mbak Calista."
Zahra awalnya menolak dengan sopan, "Tidak usah, Kak," jawabnya, namun Hadi memaksa, "Tidak usah menolak. Ini adalah tempat terbuka, kaca mobilnya akan aku buka kok."
Zahra yang masih merasa ragu akhirnya mengangguk lalu ia berkata, "Baiklah, Kak. Terima kasih," ucapnya setelah itu ia masuk ke mobil itu duduk di samping Hadi.
Zahra merasa sangat canggung, karena Hadi dulu pernah menyukainya dan kini ia sudah sah menjadi istri Attar.
Hening di dalam mobil itu. Hingga akhirnya Hadi pun bertanya, "Kamu suka naik bis ya, setiap hari untuk sampai ke toko?"
Zahra menjawab, "iya kak."
"Pulang juga naik bis?" tanya Hadi.
Zahra pun mengangguk, "Iya, kak."
Dalam mobil kembali hening. Hingga akhirnya Zahra merasa penasaran tentang pekerjaan Hadi dan bertanya, "Kak, kerja di mana?"
Zahra kembali berkata, "Maaf ya, pertanyaanku ini mengganggu, lupakan saja," ucap Zahra tak enak hati.
Namun, Hadi tersenyum, "Aku senang kamu bertanya. Aku bekerja di Rumah Sakit," jawabnya.
Zahra penasaran dan bertanya lebih lanjut, "Sebagai apa?"
Hadi menjawab, "Aku dokter di sana, tapi aku belum ambil spesialis sih. Aku masih dokter umum," jawab Hadi.
Zahra merespon, "wah kakak jadi kuliah kedokteran ya?" tanyanya
Hadi mengangguk, "Iya."
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Hadi pun tiba di toko kue milik Calista, dan setelah mobil berhenti, Zahra mengucapkan terima kasih atas tumpangannya, "Kak, terima kasih atas tumpangannya," ucap Zahra.
Hadi pun mengangguk, tak sampai sana, Hadi pun meminta Zahra untuk menunggu sebentar saat Zahra akan keluar dari mobil, "Tunggu, jangan dulu keluar."
Zahra langsung melihat ke arah Hadi dan Hadi menyerangkan bingkisan, "Ini titipan dari Kak Calista, bahan kue."
Zahra menerima bahan kue tersebut, "Baik, terima kasih," jawabnya.
Hadi melanjutkan, "Oh iya, aku praktek di Rumah Sakit Harapan Bunda," ucap Hadi.
Zahra mengangguk, "Baik, Kak."
Setelah itu, Hadi pun memberikan kode pada Zahra agar segera masuk ke dalam toko, sementara Hadi tersenyum melihat Zahra semakin menjauh dari mobilnya, dan dalam hatinya dia berkata, 'aku harap aku bisa memilikimu Ara.'
Setelah Zahra masuk ke toko Hadi kembali melajukan kembali mobilnya dengan senyuman di wajahnya. Dia merasa senang bisa memberikan tumpangan kepada Zahra.
Sementara itu, Zahra yang sudah masuk ke toko dengan membawa bingkisan yang diberikan oleh Hadi. Di hatinya, Zahra bertanya-tanya, "Jadi, Kak Hadi sudah menjadi dokter?"
Zahra langsung menyimpan tasnya di loker khusus pegawai dan kemudian merapikan showcase cake untuk menyajikan kue di toko tersebut. Dua pegawai lain pun datang dan menyapa Zahra dengan ramah.
Pegawai toko tersebut semuanya perempuan, dan mereka memberi salam, "Selamat pagi Zahra," sambil tersenyum. Mereka adalah Luna dan Prita.
Zahra menjawab, "Selamat pagi. Oh iya, Mbak Calista mungkin akan sedikit telat tiba di toko, jadi aku diminta untuk merapikan ini semua. Kalian bisa bantu aku?"
Luna dan Prita dengan senang hati menawarkan bantuan mereka, "Tentu, bisa."
Zahra mengucapkan terima kasih, "Terima kasih, ya."
Mereka pun mulai bekerja sama merapikan showcake case dan barang-barang di toko. Zahra memberi instruksi, "kalian boleh simpan dulu tasnya,"
Luna dan Prita mengangguk dan pergi ke ruangan khusus pegawai dan menyimpan tas mereka di loker masing-masing.
Toko itu memang tidak memiliki banyak pegawai, hanya ada Zahra, Luna, dan Prita.
Saat Zahra masih merapikan showcase cake, Luna memanggilnya dengan tiba-tiba, "Zahra."
Zahra langsung menoleh ke arah Luna, "Kamu mengagetkan saja!" ucapnya dengan terkejut.
"Ada apa?" Tanya Zahra.
Luna bertanya dengan penasaran, "Apa kamu tahu adiknya Mbak Calista? Yang kemarin datang kemari, ucapnya"
Zahra menjawab perlahan, "Ya, aku tahu. Memangnya kenapa?"
Luna pun berkata, dengan mata berbinar, "Dia tampan ya? Dokter pula. Ya ampun, dia sudah punya pacar belum ya?" Luna terlihat membayangkan wajah Hadi.
Namun, Zahra menggelengkan kepalanya, "Tidak, sepertinya belum," jawabnya dengan hati-hati.
Luna berkata sambil menatap Zahra, "Sungguh? Dia belum punya pacar!"
Zahra menjawab dengan nada hati-hati, "Aku tidak bisa memastikan, tapi sepertinya belum sih."
Luna pun berkata dengan senyuman gembira, "Ah, kamu membuatku melayang dan terjatuh lagi. Sudah ah, aku mau mengepel lantai dulu," ucap Luna sambil meninggalkan Zahra.
Zahra tersenyum melihat reaksi Luna, dan dia melanjutkan pekerjaannya merapikan toko kue.
Setelah semuanya dirasa telah rapi, Zahra pun berkata pada Prita, "Prita, aku ke dapur dulu ya!" Ucap Zahra. Prita pun mengangguk, "Oke siap."
Sebelumnya bagian dapur ada dua orang namun, satu orang lagi satu bulan lalu resign karena ia menikah.
Adegan menunjukkan Hadi yang baru saja tiba di rumah sakit. Sebelum turun dari mobilnya, dia memutuskan untuk menelepon Calista. Hadi menempelkan ponselnya setelah panggilan kepada kakaknya terhubung.
Calista menjawab panggilan dengan ramah, "Halo, Hadi."
Hadi memberitahu kakaknya, "Bahan kue yang kakak titipkan telah aku berikan pada Ara. Kebetulan sekali aku melihat Ara sedang jalan di trotoar, jadi aku ajak ke toko juga."
Calista merespons dengan candaan, "Cie, pantesan nelpon. Biasanya juga apa-apa suka kirim pesan."
Hadi tersenyum, "Sudah ya, kak! Aku baru sampai rumah sakit, aku masuk dulu."
Calista menjawab, "Oke, siap. Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya!"
Hadi mengucapkan, "Aamiin."
Setelah itu, panggilan berakhir, dan Hadi keluar dari mobilnya, membawa tas miliknya, dan snelli. Hadi adalah seorang lelaki tinggi dan tampan dengan kulit putih, hidung mancung, dan sorot mata yang tajam.
Saat Hadi masuk ke rumah sakit dan melewati koridor, para perawat perempuan di sana terpesona dengan kehadiran Hadi yang melewati mereka. Mereka terkesan ketika melihat Hadi memegang snelli di tangannya, menunjukkan bahwa dia seorang dokter.
Hadi yang masih berjalan melewati koridor rumah sakit merasa menjadi pusat perhatian. Dia mencoba untuk tetap bersikap biasa saja, menunjukkan wajah yang ramah kepada semua yang melihatnya. Hadi mencoba menjaga profesionalisme.
Namun, tanpa sengaja, Hadi mendengar seorang perawat perempuan berkata pada temannya, "Seger banget lihatnya. Sepertinya itu deh dokter baru yang katanya anak pengusaha Argadana."
Hadi tetap berjalan dengan tenang, tidak menunjukkan reaksi terhadap komentar tersebut, dan akhirnya masuk ke dalam lift.
Sementara itu di tempat lain, Attar yang sudah duduk di meja kerjanya mendengar suara ponselnya terus bergetar di atas meja. Attar melihat ke arah ponselnya.