Profesional

1083 Kata
Attar yang sudah duduk di meja kerjanya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan tertera nama Sandra di layar. Attar sebenarnya ingin mengangkat panggilan itu, namun ia teringat jika ia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. "Jika aku angkat panggilan dari Sandra pasti aku akan kehilangan waktu untuk mengerjakan pekerjaanku. Sementara sekarang kinerjaku sedang dipantau oleh tuan Argadana," pikirnya. Attar melihat ponselnya masih berdering, "biarlah. Tak akan aku angkat. Semoga Sandra mengerti kesibukanku." Akhirnya, Attar memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu dan fokus pada pekerjaannya. Setelah ponselnya tak lagi bergetar, Attar meraih ponselnya dan ia mengubah style notifikasi ponselnya menjadi mode senyap (silent), sehingga tidak akan terganggu oleh panggilan atau pesan selama ia bekerja. Tak sampai sana Attar pun menyimpan ponselnya di dalam laci meja kerjanya. "Aman!" "Sekarang kalaupun ada yang menelpon aku tak akan tahu dan tak akan mengganggu kinerjaku," ucap Attar tanpa sadar menganggap panggilan Sandra itu mengganggu. Sementara itu di tempat lain, Sandra yang duduk di ranjang perawatan di rumah sakit, merasa kesal karena panggilannya tidak diangkat oleh Attar. Dalam kekesalannya, Sandra berkata, "ih dia kemana sih! Apa sibuk ya?" Tepat pada saat itu, Nesa tiba di ruangan tersebut dan mendengar pertanyaan Sandra. Nesa bertanya, "Apa yang kamu maksud adalah Attar, sayang?" Sambil berjalan ke arah ranjang perawatan Sandra dengan membawa sesuatu di tangannya. Sandra mengangguk dan menjawab, "Iya, bu. Attar kok ga jawab panggilanku ya ga biasanya loh dia gini bu?" Nessa pun duduk di tepi ranjang yang Sandra duduki, lalu memberi penjelasan, "Ini kan jam kerja. Jadi wajar saja jika Attar tak mengangkat panggilanmu, sayang." Tetapi Sandra tetap merasa khawatir dan bertanya, "Iya, tapi dulu Attar bisa angkat panggilanku kok, bu. Apa dia selingkuh ya?" Pikirannya mulai melayang. Nessa langsung memberi peringatan, "Hush! Jangan mikir yang enggak-enggak deh, sayang! Berpikir positif aja. Mungkin Attar memang sedang sibuk." Sandra pun mengikuti saran Nessa dengan senyuman, "Oke deh, bu," jawabnya. "Sudah ya, sekarang mending makan buah dulu. Ibu belikan buah apel nih, ucap Nessa. Sandra pun mengangguk, "oke siap bu." Jawabnya Di tempat lain, Zahra yang sedang sibuk membuat adonan kue. Meskipun memiliki masalah rumit dalam hidupnya, Zahra tetap terlihat sangat senang dan ceria. Dia telah berhasil membuat beberapa jenis kue yang sudah dipajang dengan cantik di dalam showcase cake. Dalam menjalankan tugasnya, Zahra memegang prinsip untuk bekerja secara profesional dan tidak membawa masalah hidupnya saat bekerja. Saat ini, dia berkata, "Sekarang saatnya buat cupcake." Tiba-tiba, seseorang masuk ke dapur, dan itu adalah Calista, pemilik toko kue tempat Zahra bekerja. Zahra melihat ke arah Calista dan menyapa, "Halo, Mbak Calista. Selamat pagi." Calista pun menjawab sambil tersenyum, "Pagi juga, Ara. Oh iya, tadi Hadi datang kemari kan? Membawa bahan untuk cupcake?" Zahra menjawab, "Iya, Mbak. Tadi saya bertemu dengan adiknya Mbak Calista tak jauh dari halte." Calista mencoba menyimpulkan, "Jadi, Hadi memberikan bahan kue saat di dekat halte?" Zahra mengangguk, "tidak, Mbak. Kak Hadi memberikan bahan kue saat sudah tiba di sini saja. Tadi saya diajak masuk ke mobilnya untuk ke sini bersama." Calista tersenyum, "Oh, ok, saya mengerti. Lanjutkan saja pekerjaannya, ya. Saya akan ke ruangan saya sebentar untuk menyimpan tas." Zahra menjawab, "Baik, Mbak." Setelah itu, Calista keluar dari dapur, dan Zahra melanjutkan pekerjaannya dengan semangat. Zahra berkata dalam hati, 'aku sangat beruntung punya bos seperti mbak Calista orangnya ramah, baik dan selalu sopan jika bicara.' Di sisi lain Hadi sedang memeriksa seorang pasien laki-laki remaja di ruangan pemeriksaan. Hadi terlihat sangat teliti dan hati-hati dalam melakukan pemeriksaan. Dia bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Hadi didampingi oleh seorang perawat laki-laki yang membantu dalam pemeriksaan. Hadi menjelaskan kepada pasien remaja tersebut, "Dari hasil pemeriksaan awal, terlihat bahwa perut Anda sedang mengalami kembung." Pasien remaja itu mendengarkan dengan serius sambil mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Hadi. Selama pemeriksaan, Hadi terus memeriksa gejala dan kondisi pasien dengan cermat. Beberapa jam kemudian Hadi telah selesai dengan pemeriksaan pasien dan kini saatnya untuk makan siang. Hadi keluar dari ruangannya dan ia berjalan melewati koridor dan menjadi pusat perhatian para pegawai perempuan di rumah sakit itu. Mereka terkesan dengan sikap ramah dan profesionalisme Hadi. Sementara Hadi berjalan, terdengar bisik-bisik di antara para perawat yang dilewatinya. Salah satu perawat bertanya kepada temannya, "Apa kamu tahu nama dokter baru itu?" Temannya menjawab, "Aku tahu. Namanya dokter Hadi. Tak puas, kemudian perawat yang bertanya kembali bertanya, "Oke, itu dokter Hadi. Dokter Hadi sudah menikah belum ya?" Temannya mengedikkan bahu, mengindikasikan bahwa ia tidak tahu tentang status pernikahan Hadi. Mereka hanya bisa berspekulasi, "bisa masih lajang, sudah menikah, atau bahkan dia seorang duda!" "Aku sih tak apa jika dia duda dan mau sama aku," ucapnya sambil tersenyum. "Ah kamu ini!" Seru temannya. Hadi terus berjalan menjauh dari perawat yang sedang mengobrol itu, sementara perawat tersebut memutuskan untuk mengikuti Hadi yang menuju kantin rumah sakit. "Sepertinya dokter Hadi mau ke kantin tuh, kita juga kesana yuk," ajak perawat yang tertarik pada Hadi. Temannya pun mengangguk dan keduanya berjalan mengikuti Hadi. Setibanya di kantin rumah sakit yang luas dan bersih, Hadi memesan makanannya. Setelah memesan, ia memilih duduk sendiri di salah satu meja, sambil menunggu pesanannya datang. Hadi belum punya teman akrab di rumah sakit, karena hari ini ia baru bekerja di rumah sakit ity. Saat Hadi duduk, ia melihat sekeliling ruangan, menyadari bahwa dia satu-satunya dokter yang makan di kantin saat itu. Tak lama kemudian, pesanannya tiba. Seorang pelayan membawa steak yang lezat dan sebotol jus delima, meletakkannya di atas meja Hadi. Pelayan itu ramah, "Selamat menikmati makan siangnya," katanya. Hadi tersenyum dan menjawab, "Terima kasih." Pelayan itu mengangguk dan pergi, meninggalkan Hadi sendirian di meja. Sebelum mulai makan, Hadi berdoa sejenak. Dia merasa beruntung bisa menikmati makan siang. Setelah Hadi berdoa, ia menyadari bahwa beberapa orang lain di kantin mulai memperhatikannya, mungkin karena ia seorang dokter yang duduk lengkap dengan senelinya. Hadi merasa sedikit tidak nyaman, tetapi tetap fokus untuk menikmati makan siangnya. Alih-alih mengabaikan orang-orang yang memperhatikannya yang didominasi wanita Hadi merasa sedikit terganggu. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan perhatian yang begitu intens. Hadi berpikir dalam hati, 'Sepertinya akan lebih baik untuk besok aku makan di dalam ruangan saja. Baru kali ini aku diperhatikan sebegitu intensnya.' Hadi mencoba untuk tetap tenang dan melanjutkan makan siangnya, meskipun perasaannya sedikit terganggu oleh perhatian orang-orang di sekitarnya itu. Sore harinya, Sandra berusaha menelpon Attar. Namun Attar yang menjawab panggilannya. Tiba-tiba Nessa mendekati Sandra, "mungkin Attar sibuk. Kita pulang naik taksi saja yuk? Soalnya mobil kita sedang di bengkel." Sandra akhirnya terpaksa mengangguk. Di sisi lain, Attar baru sampai rumah. Saat Attar baru saja tiba di ruang tamu ia dihampiri oleh bi Asih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN