Attar baru saja tiba di rumah dan memasuki ruang tamu. Saat itu, ia dihampiri oleh Bi Asih, pembantu keluarga. Bi Asih dengan ramah berkata, "Akhirnya tuan datang juga, Pak Attar."
Attar sedikit terkejut dan bertanya, "Ada apa, Bi?"
Bi Asih menjawab, "Nyonya tadi nitip pesan. Katanya beberapa hari ke depan nyonya akan ke rumah Nona Setya karena anaknya sakit. Terus nyonya juga bertanya kenapa teleponnya ga diangkat sama Tuan?"
Saat Bi Asih mengatakan hal itu, Attar dengan panik menepuk jidatnya, menyadari bahwa ponselnya tertinggal di laci meja kerja di kantor. Dia menjawab, "Ya ampun, ponselku di laci meja kerja! Oke, makasih banyak, Bi. Tolong bilangin ponsel saya tertinggal di kantor. Sekarang saya balik dulu ke kantor, Bi."
Bi Asih mengangguk, membiarkan Attar pergi dengan cepat untuk mengambil ponselnya yang terlupakan di kantor.
Sementara itu di waktu yang sama di tempat lain, Sandra telah tiba di rumahnya, terlihat lemas dan lelah. Ia digandeng oleh ibunya saat memasuki kamar, dan kemudian duduk di atas ranjang.
Nessa, ibunya, berkata dengan penuh perhatian, "Kondisimu belum pulih sempurna, jadi kamu harus tetap istirahat ya, Nak."
Sandra mengangguk dengan lemah, menyetujui nasihat ibunya. Nessa kembali berbicara, "Ibu keluar dulu, ya?"
Sandra menjawab, "Iya, Bu." Setelah itu, Nessa keluar dari kamar Sandra, menutup pintu perlahan.
Ketika pintu tertutup, Sandra mengambil ponselnya dari dalam tas. Namun, ketika dia melihat layar ponselnya, dia merasa sedikit bingung. Tidak ada pesan atau panggilan yang masuk. Sandra memikirkan hal ini dan berkata, "Tak biasanya Attar begini."
Sandra melihat tampilan jam di ponselnya dan menyadari bahwa sudah pukul lima sore. Itu artinya Zahra sudah seharusnya pulang dari toko. Sandra akhirnya memutuskan untuk menelpon sahabatnya tersebut. Tak lama kemudian, Zahra mengangkat panggilan itu.
"Halo, Sandra," sapa Zahra dari seberang telepon.
Sandra menjawab, "Halo, Ara. Apa kabar?"
Zahra bertanya, "Aku baik. Bagaimana dengan kamu? Sudah pulang belum?"
Dengan nada lesu, Sandra menjawab, "Sudah. Aku baru saja tiba di rumah."
Zahra penasaran dan bertanya, "ah syukurlah. Istirahat ya! Oh iya, Kok suaranya kayak gitu? Lagi bete?"
Sandra mengangguk, "Iya, aku lagi bete nih. Harusnya kan Attar menjemputku dari rumah sakit dan mengantarku pulang."
Zahra bertanya lebih lanjut, "Tapi?"
Sandra menjawab dengan kekecewaan, "Ya, tapi ternyata engga. Attar sangat sulit untuk dihubungi. Panggilannya terhubung, namun ia tak mengangkat panggilan dariku. Aku jadi kesal. Baru kali ini Attar begitu. Dari siang juga dia yang mengangkat panggilan dariku."
Zahra mencoba menenangkan Sandra, "Tenang dulu ya, Sandra. Mungkin Attar sedang sibuk. Semoga dia segera menghubungimu ya."
Sandra merasa lebih baik setelah berbicara dengan Zahra, lalu berkata, "Ok, siap."
Setelah itu panggilan pun berakhir.
Di tempat lain, Attar kembali masuk ke dalam ruangannya yang ada di kantor. Dia langsung membuka laci meja kerjanya dan menemukan ponselnya di sana. Attar benar-benar lupa mengambil ponselnya sepanjang hari. Bahkan saat makan siang, dia begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak memegang ponsel.
"Akhirnya ada juga. Baru kali ini aku lupa dan meninggalkan ponselku."
Attar merasa lega karena ponselnya ditemukan. Namun, saat dia membuka ponselnya, dia terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dari Sandra dan sejumlah pesan darinya.
[Sandra: Sayang, aku kan sekarang mau pulang. Katanya mau jemput. Kenapa kamu tak mengangkat panggilanku?]
Tidak hanya itu, Attar juga membaca pesan lainnya.
[Sandra: Aku dan ibu pulang naik taksi sama ibu. kamu, lama sekali.]
Pesan terbaru membuatnya tersentak.
[Sandra: Aku sudah tidak tiba di rumah. Balas pesanku.]
Attar segera merespons dengan cepat.
[Attar: Ponselku ketinggalan di kantor. Tadi aku sudah sampai rumah, tapi kembali lagi ke sini. Seharian ini aku benar-benar sangat sibuk dan banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi maaf sayang. Aku juga benar-benar lupa harus menjemputmu dari rumah sakit. Sekarang aku akan segera ke sana. Kamu jangan marah ya, sayang.]
Tapi Attar kesal karena ternyata pesannya hanya ceklis satu yang artinya jaringan internet di ponsel Sandra tidak diaktifkan.
"Sepertinya Sandra benar-benar marah."
Setelah itu Attar langsung keluar lagi dari ruangannya. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah Sandra. Attar berbicara pelan pada dirinya sendiri, "Aku harus ke sana dan memastikan keadaan Sandra. Sekarang pasti dia sangat marah, jadi lebih baik aku membawa bingkisan untuk dia. Pasti dia akan senang."
Dengan tekad untuk memperbaiki situasi dan meredakan kemarahan Sandra, Attar segera meninggalkan kantornya dan menuju rumah Sandra dengan hati yang penuh harap.
Sementara itu Zahra telah tiba di rumahnya dan tidak menemukan siapapun di sana. Dia teringat jika ibu mertuanya pergi ke rumah kakak iparnya. Tanpa berlama-lama, Zahra langsung masuk ke kamarnya. Namun, di sana pun dia tidak menemukan Attar, meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
Zahra mulai berpikir, "Apa Attar lembur ya?"
Tapi sedetik kemudian Zahra memutuskan untuk tidak terlalu khawatir. "Ya sudahlah, aku tak perlu terlalu memikirkannya. Lebih baik aku mandi dulu, rasanya badanku lengket, dan sepertinya mandi akan membuat tubuhku segar," pikirnya.
Dengan pikiran tersebut, Zahra melepas kerudungnya dan membuka pintu kamar mandi. Dia merasa rindu dengan kesegaran mandi setelah sehari yang panjang, dan langkahnya pun ringan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Di waktu yang sama, Attar sedang mengendarai mobilnya menuju rumah Sandra. Di kursi sebelahnya, ada kue yang telah ia beli di salah satu toko yang tidak jauh dari kantor. Saat dalam perjalanan, Attar mendengar ponselnya berdering. Ia melihat bahwa panggilan itu dari ibunya. Attar menjawab, "Halo, Bu."
Liliana, ibunya, menjawab dari seberang telepon, "Kamu dari mana saja sih? Kok Ibu telepon nggak diangkat-angkat?"
Attar menjelaskan, "Ponselku ketinggalan di kantor, Bu. Ini baru aku ambil."
Liliana memberi pesan, "Oh, oke. Kalau gitu, titip Zahra ya. Jangan cuekin dia, kamu harus bersikap baik padanya. Jangan bersikap kasar, dia itu istrimu."
Attar menjawab, "Ya, Bu," tanpa banyak berkomentar, tidak ingin memperpanjang obrolan dengan ibunya.
Liliana kemudian memberi saran lain, "Bagus. Ingat, jangan lupa kamu harus sarapan pagi setiap hari agar maag kamu tidak kambuh."
Attar mengiyakan dengan cepat, "Ya, Bu."
Setelah panggilan dengan ibunya berakhir, Attar merasa sedikit tertekan. Dia berkata pada dirinya sendiri, "Sekarang segalanya Zahra, Zahra, Zahra. Aku bingung, kenapa ibu perhatian banget sama dia. Apa Zahra pakai pelet?" pikirnya, mencoba mencari pemahaman atas perhatian ibunya yang tiba-tiba begitu besar terhadap Zahra.
Tak lama setelah panggilan dari ibunya berakhir, Attar kembali menerima panggilan telepon.
"Ada apa lagi sih ibu, kebiasaan kalau menelpon tidak cukup dari sekali," ucap Attar menggerutu. Attar mengangkat telepon tanpa melihat layar ponselnya.
Lalu ia berkata, "ada apa lagi?"
Namun sambungan telepon langsung terputus.