"Alhamdulillah, udah masuk lagi. Aku kesepian enggak ada Mbak." Gadis berambut panjang itu mengulas senyuman bahagia. Saking bahagianya, ia sampai memeluk Rani dengan erat dan membuat sesak napas. "Aduh!" Rani meringis menahan pelukan. "Hehehe, maaf, Mbak! Aku saking kangennya." Gadis itu kembali mengayun senyuman. Mereka memasuki lift secara bersamaan. Hari ini terasa lain bagi Rani. Ia tidak begitu bersemangat. Semua berawal dari urusan pribadi yang tak menemukan ujung. Rani membenahi jilbabnya menatap cermin kaca jendela. Pekerjaan yang sudah menumpuk karena beberapa hari tidak masuk, Rani tak sempat makan di siang. Ia sengaja menolak ajakan Fita tadi. Seakan tak ada jeda waktu untuk istirahat, penyemangat Rani hanyalah dua wanita yang ia punya, Ibu dan adiknya. Pundak terasa pa

