Bab 8

1135 Kata
Ragu Rani mengatakannya. Akan tetapi, ia tak punya cadangan benda itu. Kedua mata menatap ke bawah mencari solusi yang tepat. Sejujurnya, Rani pun malu mengatakan hal itu. "Apa, Ran? Cepat katakan!" Fatih mulai lelah menunggu. Ia berdecak tetapi tak tega. "Aku ... nitip pembalut," bisik Rani dengan sangat pelan. Bahkan hampir saja Fatih tak mendengar. "CK, ada-ada saja. Enggak mau! Beli aja sendiri!" Dengan nada sewot, Fatih menyedekapkan tangannya di depan d**a. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding dan menatap ke depan. "Please, Fatih! Perutku kram, ini sudah biasa terjadi. Kalau lagi begini, tensiku pasti rendah. Ibu biasanya membuatkan jamu khusus. Tapi, kan, kita sekarang lagi ada di sini." Tak kuat lama-lama berdiri, Rani mencoba meraih pegangan setelah kaki kanannya yang basah menjejak kain keset di bawah mereka. "Hem, biar kubantu!" Meskipun terlihat menyebalkan, tetapi Fatih diam-diam memiliki sifat perhatian. Ia membantu Rani lagi kembali ke atas tempat tidur. Ketika gadis itu mendesis menahan perut yang sakit, wajah Fatih terlihat semakin iba. Rani pun merebahkan tubuhnya lagi menunggu Fatih yang baru saja berangkat membeli kebutuhannya. Di supermarket depan hotel tersebut, Fatih mengitari seluruh rak. Ia bingung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal karena begitu banyak jenis dengan banyaknya merek dagang yang terpampang. Satu warna yang ia ambil dengan ukuran paling jumbo. Tak peduli dengan komentar Rani nanti, Fatih dengan percaya dirinya yang tinggi segera menuju kasir setelah meraih beberapa bungkus makanan ringan juga untuk Rani. Seorang wanita berseragam merah tua dengan garis kuning di bagian kerah, tengah menahan senyuman. Wanita itu melirik rekan kerjanya yang juga melempar senyuman. "Kenapa senyam-senyum? Buruan, Mbak!" Fatih menangkap sindiran lewat gerak-gerik mereka. Tanpa pikir panjang, sang kasir segera memasukkan barang menyerupai bantal tadi ke dalam plastik putih berlogo. Fatih pun segera mengeluarkan kartu prabayar untuk melakukan transaksi. Kembali ke hotel dengan langkah santai, Fatih menaiki lift membawa perasaan kesalnya yang tersisaa. Belum sampai di dekat kamarnya, ia merasakan getaran dari dalam saku celana. Diraihnya benda pipih seukuran lima inci itu dan menekan logo telepon berwarna hijau. "Hallo?" "Hallo, Fatih? Apa kabar?" Suara lembut mendayu itu sangat lekat dari ingatannya. Fatih langsung mengenalinya. Fatih masih diam, ia memutar kembali memori yang sempat terjadi dua tahun lalu bersamanya. "Ada apa? Aku sedang sibuk. Maaf, aku tak bisa lama-lama." Panggilan disudahi. Fatih kembali melangkah dan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Rani masih dalam posisi sama tetapi dia tampak mengompres keningnya sendiri. "Nih, pesanan kamu!" Fatih melempar plastik berukuran sedang ke dekat Rani. Ia kembali duduk menghadap laptop di sofa ruangan itu. Rani membuka plastik melihat hasil kerja Fatih membelikannya benda kotak seperti bantal kecil.. Buru-buru gadis itu pergi ke kamar mandi lagi, meski jalannya masih tertatih. Kali ini, dia tak perlu bantuan lagi, sebab istirahat cukup dan makan makanan yang bergizi, Rani sudah merasakan badan lebih ringan. "Fatih," panggil Rani. Ia sudah berada di dekat pemuda itu. "Hmm." Hanya dengan sebuah kode embusan napas dari dalam hidung, Fatih menjawab. Fokusnya masih tertuju pada tampilan grafik berjalan dalam laptop. "Makasih, kamu sudah merawat dan me ...." "Sudah-sudah! Jangan ganggu aku yang lagi serius! Nanti saja basa-basinya. Sekarang, tidur sana! Merepotkan saja. Harusnya kita sudah sampai Jakarta malam ini." Fatih tak mau mendengar kata-kata dari Rani. Ia bukan tipe pemuda yang banyak omong dan berbelit-belit. "Hih." Kesal dengan sikap Fatih, Rani kembali ke atas tempat tidur dan meraih selimutnya hingga menutup seluruh tubuh. Tak ada pergerakan lagi dari gadis itu, Fatih mulai melirik. Ia termenung sesaat hingga berdiri meraih bantal di sebelah Rani. Fatih pun meredupkan cahaya lampu utama dan tidur di sofa tadi. Malam ini, suasana tambah lain. Wajah gadis itu kembali mengganggu ruang kepalanya. Juga melapisi kelopak mata di atas senyuman semanis madu. Apalagi saat Rani mengulas senyum ikhlas pada Arfan, d**a Fatih terasa sesak dan kesal. Pemuda dengan kaus hitam itu bangkit dari tidurnya lagi. Ia meneguk satu gelas berisi air putih lalu menyalakan lampu utama. Dua tiket untuk besok pagi pun siap dipesan dari ponselnya. *** Ruangan yang mereka tempati begitu penuh. Dua kursi telah siap menjadi sandaran empuk penghuninya. Rani duduk di bagian dekat jendela, sementara Fatih masih saja memasang wajah juteknya. Namun, mereka mempunyai misi yang sama. Yaitu, sampai di tempat tujuan dengan segera dan selamat. Pramugara telah menunjukkan aksinya, memberi pengumuman mengenai apa saja yang harus dilakukan dan yang harus mereka patuhi. Pesawat pun siap terbang menuju Bandara Soekarno Hatta. Rani tampak kesusahan saat dia membuka tutup botol air minumnya. Namun, dia enggan meminta tolong pada Fatih. Hanya desahan kesal dan botol ia letakkan lagi pada tempatnya. Rani beralih pada roti kemasan yang ia dapat. Fatih yang memperhatikan sikap rani sejak tadi, segera menyambar botol air dan membantu membukakan. "Gitu aja enggak bisa. Lemah!" Lagi-lagi pemuda itu menghinanya. Sampai di Jakarta, Fatih berjalan mendahului Rani. Ia tak peduli dengan gadis yang masih menunggu kopernya datang. Melihat sikap Fatih yang keterlaluan, Rani masih bisa menahannya. Namun, jika Ibunya dihina, Rani tak akan tinggal diam. "Ran!" Teriakan keras dari arah belakang. Rani pun menoleh. Ia melempar senyuman pada sosok yang menjemputnya. Sosok gagah dengan jas melapisi kaus putih. "Mas." Rani menghampiri pria itu. "Kamu ngapain di sini?" Binar mata tak bisa membohongi hati. Rani terlihat bahagia saat Arfan datang. "Buat jemput kamu lah. Apa lagi?" Senyum mengembang bersama dengan satu tangan membantu mendorong koper milik Rani. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Arfan. Mereka masuk satu persatu. Mesin mobil pun menyala dan sesaat kemudian kendaraan besi itu melejit membelah jalanan yang ramai dan padat. Tak sabar Rani ingin segera bertemu Ibunya. Banyak hal yang ia ceritakan saat perjalanan pulang bersama Arfan. Mulai dari ketika dia pingsan dan sikap Fatih yang tak acuh. Sampai di rumah sederhana itu, Rani menatap halaman yang bersih dan asri. Rumah pemberian dari Bramantyo menjadi tempat berteduh Ibunya. Namun, ada pemandangan lain yang menyita sudut mata. Ia melihat sosok cantik yang tertutup jilbab. Kedua alisnya hampir saja bertautan. Bibir bergumam dan bertanya-tanya siapa gerangan. Arfan yang sudah turun lebih dulu membuka bagasi dan menurunkan koper milik Rani. "Ran, kamu enggak keluar?" Arfan mengangkat satu sudut bibirnya sambil menengok ke dalam mobil. "Eh, em. Iya, Mas." Melepas seat belt, Rani berjalan melewati pagar tanaman, tetapi masih menebak-nebak siapa gadis yang berdiri di sana. Sosok cantik yang sejak tadi duduk dengan buku bacaan di tangan mulai berdiri memastikan. Ia tak pernah pangling dengan sosok kakaknya. Berbeda dengan Rani yang sedikit lupa karena wajah sang adik sudah banyak berubah. "Mbak!" Gadis muda nan lincah itu menghambur ke pelukan Rani. Rani sendiri masih bingung. "Lupa sama aku?" "Hah, Anggi? Astaghfirullah, makin cantik aja kamu." Rani kembali menerima pelukan. "Gimana kabarnya? Sekarang aku pindah ke Jakarta aja, Mbak. Sekalian menemani Ibu kalau, Mbak, kerja." "Eh, iya. Kenalin ini Mas Arfan." Rani menunjuk lelaki di sebelah dengan dagu. "Hallo," sapa Anggi pada lelaki itu. Debaran dalam d**a tak bisa ia atur. Ada yang lain, yang tiba-tiba menyusup relung hatinya. Anggi tersipu malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN