"Baju siapa aja terserah aku mau nyuciin punya siapa juga bukan masalah kamu, kan?" Rani hendak melangkah tetapi tangan Fatih mencegah dengan kilatnya. Cengkeraman bagai elang itu membuat denyut nadi seperti tersumbat. "Ya, enggak bisa gitu lah! Gimana nanti kalau Papa tau?!" katus Fatih lagi. "Bukan urusan aku! Lagian aku tinggal bilang aja itu bajunya Mas Arfan. Gitu aja, kok, repot!" Rani membalik badan lagi dan buru-buru pergi tetapi lagi-lagi Fatih mendapatkannya. Kali ini, bukan hanya tangan yang sampai pada pemuda itu melainkan tubuh Rani terpental pada d**a bidang yang masih terlihat aliran bening nan dingin. Sesaat, Rani merasakan sesuatu. Bumi seakan menghimpit mereka berdua. Sampai-sampai, Rani merasakan debaran yang ia rasakan lewat punggungnya. Fatih yang terpaku juga, s

