Bram menatap awan yang bergumul dengan bayangan seorang wanita. Pernikahan tak bertahan hingga napas terakhir, saling mempertahankan ego masing-masing. Dirinya dan Melania sudah melewati hidup bersama bukan setahun dua tahun melainkan puluhan tahun. Mereka terlepas oleh sebuah takdir yang memang menjadi bagian yang harus dilewati. Di balik pot-pot bunga itu, pria matang dengan wajah yang masih tampak segar terus merenungi kesalahannya. Cara mendidik yang memang kurang perhatiannya, membuat Fatih cemburu. Apalagi ketika Mamanya pun lebih mementingkan karir. Tidak ada yang Bram salahkan selain dirinya sendiri. Pria itu mengusap wajahnya penuh penyesalan. "Sedang apa di sini, Pa?" Rani mengambil posisi di sebelah pria itu yang duduk pada kursi yang menatap taman. "Eh, kamu, Ran? Papa cu

