‘shiit…ceroboh banget sih dek’
Samudra melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian tangannya terulur untuk meraih selimut putih milik hotel dan menyelimuti tubuh yang sedang setengah telanjang itu. Meski junior nya sedang meronta-ronta di balik celana pendek nya, syukurnya Sam masih memiliki pikiran waras untuk tidak berbuat sesuatu kepada Velove.
Setelah memastikan tubuh Velove tertutup rapat, Sam langsung berbalik pergi meninggalkan kamar itu dengan gusar. Yah, Sam harus menenangkan juniornya di kamar mandi segera, dibawah sana sudah terasa ngilu menahan sesuatu yang mendesak ingin di keluarkan.
Selesai dengan urusan juniornya ,Sam segera merebahkan badannya ingin segera mengarungi dunia mimpinya. Dengan susah payah ia memaksa mata nya tertidur supaya tidak terbayang-bayang lembah indah milik Velove tadi. ‘kenapa gue jadi m***m gini sih sama adik sendiri’ rutuknya sebelum ia terlelap memasuki alam mimpi.
Keesokan pagi nya Sam dan Velove sudah bersiap akan mengunjungi tempat yang akan di jadikan resort milik Velove, dengan wajah yang sudah segar Velove memasuki kamar Sam untuk melihat abangnya itu sudah siap atau belum.
“bang, udah siap belum?” teriak Velove Ketika tidak melihat abangnya.
“apa sih dek teriak-teriak. Nih udah selesai mandi” jawab Sam sambil keluar dari kamar mandi nya dengan melilitkan handuk di pinggang.
“ih abang, kenapa gak pakai baju dikamar mandi sih” protes Velove Ketika melihat roti sobek milik Sam. Velove bergegas lari ingin meninggalkan kamar.
“aku tunggu di restorant bawah ya, kita sarapan” teriak Velove sambil berlari keluar meninggalkan Sam yang sedang terkekeh melihat tingkah malu-malu Velove.
‘kamu malah lebih parah semalem’ batin Sam dan tiba-tiba dia meremang Ketika mengingat kejadian semalam.
Hari ini velove terlihat cantik menggunakan dress floral panjang dibawah lutut dengan potongan d**a rendah dan di padukan dengan sendal strappy berwarna soft green senada dengan dress nya. Rambutnya ia sanggul asal-asalan sehingga menampilkan leher jenjangnya yang membuat Velove terlihat sexy meski memakai pakaian yang tidak terbuka sama sekali.
“lho kok udah makan duluan sih dek” protes Sam Ketika melihat Velove sedang menikmati sarapannya.
“abang tuh yang kelamaan, ngapain aja sih bang. Perasaan tinggal ganti baju doang lama amat. Keburu kelaperan kalau nungguin abang dandan kayak cewek” jawab Velove menggerutu.
“emang iya gitu, abang lama?” nah kan, Sam nyebelin. Udah bikin Velove menunggu satu jaman hanya untuk berganti baju, masih juga enggak ngerasa.
Velove memutar bola matanya jengah, malas menanggapi abangnya yang suka seenaknya sendiri ini.
Setelah selesai dengan sarapannya, kini mereka berdua sudah berada di lokasi dimana tempat resort Velove nantinya akan di bangun. Mereka berdiskusi panjang lebar dengan orang-orang dari DIRGANTARA GRUP yang di minta khusus untuk bertanggung jawab atas pembangunan resort ini nantinya.
Setelah puas karena segala apa yang di inginkan Velove untuk resort nantinya sudah di pahami oleh ketua tim penanggung jawab tersebut, Velov dan Sam segera pergi meninggalkan lokasi.
“jalan-jalan dulu yuk” ajak Sam sambil menarik tangan Velov untuk mengikuti langkahnya manuju arah berlawanan dari tempat parkir mobilnya.
“kemana bang?” tanya Velov penasaran, karena setaunya sekitaran situ sangatlah sepi dan tidak ada pantai bagus yang biasa di datangi para wisatawan.
Pantai disitu sangatlah sepi dan tidak di Kelola dengan baik, makanya Velove tertarik untuk membangun resort dan akan menjadikan tempat itu menjadi tempat wisata yang romantis serta resort mewah untuk wisatawan yang suka dengan suasana sepi jauh dari keramaian.
Memang sih lokasinya lumayan jauh dari pusat pantai kuta, tapi Velov yakin dia bisa menjadikan resort nya nanti menjadi tempat yang paling ingin di datangi oleh para wisatawan.
Tanpa menjawab pertanyaan Velov, Sam terus menarik adiknya ke tempat tujuannya.
Setelah berjalan beberapa puluh meter melewati jalanan turun batu-batuan, Velov sampai di bibir pantai. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari pantai ini, disini sepi tidak ada orang sama sekali dan hanya ada mereka berdua, yang membuat pantai ini berbeda adalah semburat jingga dari matahari yang sedang beranjak ke peraduannya, dari pantai ini lingkaran sang surya terlihat begitu besar dan berwarna jingga indah seakan-akan jarak mereka hanya ratusan meter saja. Inilah yang membedakan tempatnya berdiri ini dengan pantai lainnya yang juga menyajikan pemandangan serupa namun tak sebesar dan seindah ini.
“abang udah pernah kesini??” tanya Velov dengan girang sambil berlari meninggalkan Sam. Velov sangat kagum pada keindahan yang dilihat di depan matanya.
“sudah..dua kali ini” jawab Sam mengikuti langkah Velov.
“sumpah ini keren banget bang, apa ini tempat yang abang maksut tadi?? Yang akan jadi salah satu tempat romantis di resort kita?” tanya Velov antusias berharap apa yang dipikirkannya benar.
“yuuup bener, ini tempat yang abang maksut” jawab Sam tersenyum puas Ketika melihat binar Bahagia di mata Velov.
“sini abang fotoin, pas bagus angle nya dek” sambung Sam sambil merebut ponsel di tangan Velov.
“oke bang, sendiri dulu habis itu bareng abang ya”
“iya…beres.”
Beberapa foto telah di ambil dari berbagai angle dan gaya oleh mereka berdua, Ketika sedang sibuk memilih foto untuk di unggah ke akun media sosialnya. Tiba-tiba matanya gelap tertutup sepasang tangan besar yang Velov Yakini milik Sam.
“apaan sih bang pake tutup mata segala? Lepas ih, kan lagi liatin foto-foto.” Cerocos Velove sambil tangan satunya menggapai perut laki-laki di belakangnya untuk di cubit.
“aaawwww…bar-bar amat sih Vel” sahut suara di belakang Velov.
Velov merasa kenal dengan suara itu dan itu bukan suara abangnya, cepat-cepat Velov berbalik untuk memastikan tebakannya benar.
“Robin??? Ngapain lo disini?” tanya Velov kaget tidak menyangka bahwa benar-benar ada Robin di hadapannya.
“gitu amat tanya nya, kayak gak seneng gue kesini.” Sahut Robit pura-pura cemberut.
“gak gitu sih, kaget aja tiba-tiba lo di Bali juga dan di tempat yang sama”jawab Velov sambil nyengir.
“lo di hubungi gak bales, yaudah gue tanya Sam aja dan disuruh nyusulin kesini. Yaudah gue susulin lah.” Jawab Robin ringan. Velov memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Robin.
“susah emang ya temenan sama sultan, Jakarta-bali kalo nyusulin berasa kayak dari kemang-ancol” cibir Velov.
“ya giman dong, punya duit ini. Di manfaatin dong” sahut Robin dengan sombong. Dan disahuti kekehan dari Sam.
“jadi gimana? Abang di cuekin nih mentang-mentang ada Robin?” tanya Sam ikut menggoda Velov.
“oh jadi sekarang mainnya keroyokan gini? Gak seru ah” cicit Velov sambil memanyunkan bibirnya.
“udah gak usah manyun gitu, ntar gue capit tuh bibir” goda Robin sambil membuat Gerakan seakan-akan ingin mencapit bibir Velov sungguhan.
“Sam fotoin kita berdua dong” sambung Robin sambil melirik kepada Sam.
“oke sini, kan rugi jauh-jauh dari Jakarta kalau gak bisa foto bareng” goda Sam sambil bersiap mengambil gambar mereka berdua.
Setelah puas menikmati sunset, mereka bertiga memutuskan untuk makan malam di daerah kuta.
“lo bawa mobil sendiri?” tanya Velov pada Robin.
“gak, tadi sama sopir. Gue nebeng kalian aja baliknya” sahut Robin sambil berjalan mensejajari langkah Velov.
“oke, ayo…lo aja yang nyetir, gue mau tidur di belakang. Capek” Sam menimpali sambil melempar kunci mobil yang langsung di tangkap oleh Robin.
Dalam perjalanan menuju restaurant, di dalam mobil hanya diisi dengan suara Velov dan Robin yang mengobrol ngalor ngidul dan sesekali saling melempar candaan. Sedangkan Sam benar-benar tertidur karena lelah seharian ini berdiskusi dengan tim penanggung jawab pembangunan resort. Meski sebenarnya Velov juga lelah, tetapi dia tidak mungkin membiarkan Robin menyetir sendirian tanpa temen ngobrol, dan untungnya obrolan mereka sangat nyambung sehingga bisa membuat kantuk Velov hilang.