Hari ini di kediaman mewah orang tua Robin ,nyonya Rita mama dari laki-laki itu sedang kedatangan tamu. Mereka adalah sahabat sekaligus rekan bisnis yang selama ini selalu bermitra dengan perusahaan keluarga Robin, ya mereka adalah orangtua Dira. Dua keluarga itu sengaja mengadakan pertemuan untuk membahas rencana mereka yang ingin menjodohkan Robin dengan Dira, sebenarnya rencana ini sudah ada sejak Robin an Dira kecil namun sejauh ini belum pernah sama sekali membahasnya secara resmi seperti ini.
Tanpa adanya kehadiran Robin dan Dira mereka menemukan kesepakatan untuk segera menentukan tanggal baik untuk pertunangan kedua anak-anak mereka dua bulan kemudian. Nyonya Rita sangat yakin jika putra nya akan menerima apa yang menjadi keputusan kedua keluarga malam ini, apalagi mengingat sejauh ini anak itu tidak pernah sekalipun membantahnya. ‘toh ini juga demi kebaikan dan masa depan Robin’ pikirnya.
Di lain tempat malam yang sama Robin dan Velove sedang makan malam bersama, Velov sudah mempunyai jawaban atas apa yang di tunggu-tunggu Robin selama ini. Velove sangat menikmati suasana makan malam yang di persiapkan Robin untuknya ini, tak pernah luntur senyum di bibir pink itu selalu mengembang sempurna sepanjang malam.
Setelah santapan makan malam yang di selingi obrolan-obrolan ringan selesai akhirnya Velov memberanikan diri menyampaikan jawaban yang sudah ia persiapkan atas pertanyaan Robin tempo lalu di tepi pantai.
“gue udah punya jawaban, tapi gue pingin tanya sekali lagi sama lo. Apa lo udah yakin mau membuka lembar baru sama gue? Udah siap dengan segala masalalu gue?” tanya Velov sambil meremas jari-jarinya sendiri untuk mengalihkan kegugupannya.
“gue sangat yakin dengan apa yang udah gue utarain ke lo Vel. Dan artinya gue udah siap menerima segala masalalu lo, segala kekurangan lo” tegas Robin terlihat sama gugupnya dengan wanita di depannya itu.
“oke gue mau jalanin hubungan baru bareng lo Robin” jawab Velov setelah beberapa kali menarik nafas dengan dalam.
Seketika senyum mengembang dengan sempurna di bibir laki-laki tampan ini, tanpa berbicara Robin beralih menghampiri Velov dan mengecup kening wanita itu dengan sayang.
“makasih Vel udah nerima gue jadi bagian hidup lo” ucap Robin setelah Kembali duduk ke kursinya. Dan di angguki Velov dengan senyum manisnya.
Malam ini dua sejoli itu telah meresmikan hubungan kedekatan mereka, mereka berdua menghabiskan malam dengan berbincang seputar apapun tentang mereka berdua. Mereka ingin jauh mengenal pasangan masing-masing.
Keesokan hari nya Robin mendapat telpon dari nyonya Rita untuk memintanya pulang nanti malam ke kediaman mereka, karena selama ini Robin memang tinggal sendiri di apartemen pribadinya dengan alasan ingin mandiri laki-laki itu bisa meyakinkan kedua orangtuanya untuk mengijinkannya keluar dari rumah mewah mereka.
Selesai jam kantor, Robin menepati janjinya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tanpa mempunyai pikiran aneh-aneh laki-laki itu segera melesatkan kendaraannya. Ya memang salam ini mamanya juga sering memintanya pulang untuk sekedar makan malam bersama, katanya melepas rindu sama anak bujang satu-satunya itu. Robin memiliki kakak perempuan yang sudah menikah dan kini tinggal bersama suaminya di Jepang.
Setelah memarkirkan mobil, Robin melangkahkan kakinya memasuki rumah dan segera memeluk mamanya ketika melihat wanita yang telah melahirkannya itu menyambut dirinya di ruang tamu.
“mama apa kabar? Sehat ma?” tanya Robin setelah melepas pelukannya.
“sehat sayang, apa kabar anak mama yang tampan ini? Kok keliatannya lagi seneng” balas nyonya Rita.
“iya Robin emang lagi seneng ma, nanti Robin ceritain ya. Yuk ma makan, udah laper banget ini” ucap Robin menarik tangan mamanya lembut menuju ruang makan yang disana sudah ada papanya menunggu kedatangannya.
“hai pa…” sapa Robin sambil mencium tangan besar papanya.
Setelahnya mereka makan malam tanpa ada yang bersuara, karena memang peraturan yang diterapkan papa Robin begitu. Ia tidak suka ada yang berbicara Ketika sedang mengunyah makanan.
Setelah piring ketiganya kosong yang menandakan acara makan malam selesai, nyonya Rita membuka suaranya menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada putranya.
“sayang…kemarin malam keluarga om Hendra makan malam disini. Dan kedua keluarga sepakat untuk menjodohkan kamu dan Dira, tanggalnya belum di tentukan tapi waktunya kisaran dua bulan lagi kalian akan tunangan” ucap nyonya Rita pelan sambil tersenyum senang, karena yakin putranya akan setuju-setuju saja dengan keputusan yang di ambilnya.
Bak disambar petir malam malam, Robin hampir saja tersedak ludahnya sendiri kala mendengar apa yang di sampaikan oleh mamanya.’apalagi ini’ jeritnya dalam hati.
“Robin gak salah denger ma? Sejak kapan Robin menerima perjodohan ini sampai kalian semua sudah memutuskan begini?” tanya Robin memandang kecewa kedua orang tuanya.
Nyonya Rita dan tuan Bram tentu saja terkejut dengan reaksi putranya ini, mereka tidak berfikir jika Robin kali ini akan menolak apa yang menjadi keputusan mereka karena sejauh ini Robin memang menjadi anak yang penurut berbeda dengan kakak perempuannya yang akan mengungkapkan apapun yang tidak ia sukai dengan keputusan orang tuanya.
Namun begitu tuan Bram juga tidak mau terlalu memaksakan keinginannya ini, jika dibandingkan dengan kekecewaan putranya yang terlihat dari sorot matanya itu tuan Bram lebih memilih dirinya yang kecewa untuk tidak melanjutkan apa yang mereka bahas tadi malam.
Tuan Bram tidak pernah melihat sorot kecewa itu dari putranya sebelumnya, apalagi masalah ini memang menyangkut kehidupan putra nya kedepannya, putranya lah yang akan menjalani pernikahan itu sampai sisa hidupnya. Dia tidak ingin membuat putranya tidak bahagia dengan pernikahannya kelak.
“keluarga kita sudah merencanakan ini dari lama bin, cuman sekarang aja baru waktu yang tepat membicarakannya lebih serius mengingat usiamu dan Dira sudah matang untuk menikah” ucap nyonya Rita yang mulai kehilangan senyum di bibirnya.
“mama dan papa kan yang berencana seperti itu bukan Robin, dan yang ngejalanin pernikahan nanti Robin bukan papa dan mama. Robin tidak mencintai Dira, dan Robin menolak perjodohan ini” tegas Robin yang sudah mulai hilang kesabarannya mengingat satu nama yang akan terluka jika mendengar kabar ini.
“sejak kapan kamu menjadi pembangkang seperti ini Robin” bentak nyonya Rita yang ikut emosi memikirkan dirinya akan malu nanti dengan keluarga Dira, karena dari awal dirinya lah yang ngebet untuk segera meresmikan hubungan Robin dan Dira tapi malah putranya sendiri yang menolak.
“ma..mama gak bisa maksain pernikahan ini, Robin punya calon sendiri ma, Robin mencintai orang lain” suara sendu terdengar dari bibir laki-laki itu, dia tidak menyangka mamanya akan meninggikan suaranya demi agar Robin menerima ini semua.
“siapa wanita itu? Dari keluarga mana dia berasal?” nyonya Rita masih tidak terima penolakan putranya.
“sudah diam ma.. jangan paksakan apapun yang tidak di inginkan Robin” suara tuan Bram lantang menghentikan suara tinggi nyonya Rita.
“papa dari awal sudah bilang kan, tawari dulu Robin baru kita bicarakan dengan keluarga Hendra. Kamunya aja yang ngeyel dari awal” sambung tuan Bram lagi.
“kok papa jadi nyalahin mama sih? Lagian siapa yang sangka anak mu satu ini akan jadi pembangkang seperti ini” sengit nyonya Rita masih tidak mau mengalah dan di salahkan.
“pembangkang dari mananya? Robin punya hak menentukan siapa yang akan jadi pendamping hidupnya. Sudah bubar, saya tidak mau ada pembahasan ini lagi, nanti biar papa yang bicara sama keluarga Hendra.” Putus tuan Bram sambil meninggalkan ruang makan, dan tuan Bram menepuk bahu putranya pelan sambil menyuruhnya untuk segera meninggalkan rumah itu lalu kemudian melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya.
Tanpa banyak bicara Robin segera meninggalkan kediaman orang tuanya, dia tidak menghiraukan teriakan mamanya Ketika dia meninggalkan tempat tanpa pamit. Robin tidak akan menuruti keinginan mamanya kali ini, dia tidak akan menyakiti kekasihnya yang baru satu hari mereka meresmikan hubungan tapi malah ada hal semacam ini. Dan Robin juga ingin memperjuangkan kebahagiannya, dia sangat berterimakasih karena papanya masih berada di pihaknya kali ini.